Prabowonomics dan Sosialisme: Manifesto Ekonomi Asta Cita Menuju 2045

Alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik. Fokus pada analisis narasi program pemerintah dan strategi komunikasi program-program strategis nasional.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Rais Kaharuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi politik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menandai sebuah epos baru yang menggabungkan tradisi nasionalisme radikal dengan pragmatisme pembangunan modern. Fenomena yang kini dikenal sebagai "Prabowonomics" bukanlah sekadar kelanjutan mekanis dari kebijakan era sebelumnya, melainkan sebuah reorientasi ideologis yang berakar jauh dalam sanubari sejarah perjuangan bangsa. Inti dari paradigma ini terletak pada pengakuan bahwa pasar bebas yang tidak terkendali telah gagal memberikan keadilan distributif bagi rakyat Indonesia, sehingga menuntut kembalinya peran negara sebagai dirigen utama dalam orkestrasi ekonomi nasional.
Asta Cita, sebagai cetak biru pemerintahan Prabowo-Gibran, berfungsi sebagai manifesto politik-ekonomi yang bertujuan memperkuat fondasi pertahanan, kemandirian pangan, dan kedaulatan energi, sembari secara simultan melakukan redistribusi kekayaan melalui program-program sosial berskala masif. Dalam perspektif sosialisme, langkah-langkah ini dapat dibaca sebagai upaya untuk mengoreksi ketimpangan struktural dan membangun "Negara Pembangunan" (Developmental State) yang berorientasi pada kesejahteraan manusia, bukan sekadar pertumbuhan angka-angka statistik.
Akar Intelektual: Sosialisme Fabian dan Warisan Begawan Soemitro
Untuk membedah Prabowonomics, kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh intelektual Soemitro Djojohadikusumo, ayah sekaligus guru ideologis sang Presiden. Pemikiran Soemitro mencerminkan apa yang disebut sebagai "Revisionisme Sosialisme Indonesia", sebuah upaya untuk menyesuaikan dogma sosialisme ortodoks dengan realitas ekonomi nasional yang agraris namun sedang bertransformasi menuju industrialisasi. Soemitro, yang pernah memimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI), membawa nafas "Sosialisme Fabian"—sebuah pendekatan sosialis yang menekankan pada perubahan evolusioner melalui perbaikan institusi dan intervensi negara yang cerdas, ketimbang revolusi kelas yang destruktif.
Prabowonomics mewarisi keyakinan Soemitro bahwa ekonomi adalah "alat perjuangan" untuk membebaskan rakyat dari sisa-sisa penindasan kolonial. Dalam pandangan ini, kemerdekaan politik tidak akan berarti tanpa kemandirian ekonomi. Oleh karena itu, Prabowonomics menolak mentah-mentah doktrin neoliberalisme yang menganggap pasar dapat mengatur dirinya sendiri secara otomatis. Sebaliknya, negara harus hadir untuk mengatur pasar guna memastikan bahwa surplus ekonomi tidak hanya mengalir ke kantong-kantong elit atau pemodal asing, tetapi didistribusikan secara adil untuk kemakmuran rakyat banyak.
Evolusi Pemikiran dari Sosialis ke Ekonomi Campuran
Pemikiran Prabowo dipengaruhi oleh transformasi ayahnya, yang meski pada masa mudanya adalah seorang sosialis yang kuat, kemudian mengembangkan perspektif "Ekonomi Campuran" (Mixed Economy) setelah berinteraksi dengan dinamika global. Perspektif ini mengambil elemen-elemen terbaik dari sosialisme—khususnya dalam hal jaring pengaman sosial dan intervensi strategis—dan memadukannya dengan dinamika pasar yang kompetitif. Hal ini selaras dengan prinsip Ekonomi Pancasila yang secara eksplisit tertuang dalam visi-misi Prabowo-Gibran: sebuah paham yang memberikan kebebasan inovasi namun menjamin social safety net bagi mereka yang paling lemah.
Dalam memetakan posisi ideologisnya, Prabowonomics berdiri tegak di atas prinsip Ekonomi Pancasila yang secara fundamental berbeda dari kutub ekstrem lainnya. Jika sosialisme ortodoks menuntut dominasi penuh negara atas aset dan neoliberalisme menyerahkannya secara total kepada swasta, Prabowonomics mencari keseimbangan strategis di mana sektor-sektor vital dikelola oleh negara atau BUMN demi kepentingan publik. Begitu pula dalam mekanisme harga; di saat kontrol ketat menjadi ciri khas sosialis dan pasar bebas menjadi harga mati bagi penganut neolib, paradigma ini menawarkan pasar yang diatur melalui intervensi negara guna menjaga stabilitas. Tujuan utamanya bukan sekadar mengejar kesetaraan mutlak atau efisiensi profit semata, melainkan kedaulatan nasional dan keadilan sosial. Terakhir, peran modal asing tidak lagi dipandang dengan kecurigaan primordial atau disambut dengan karpet merah tanpa syarat, melainkan diposisikan sebagai mitra strategis yang wajib memberikan nilai tambah nyata melalui proses industrialisasi dan hilirisasi.
Makan Bergizi Gratis: Investasi Manusia sebagai Tindakan Revolusioner
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah titik temu antara etika sosialisme dan strategi pembangunan modal manusia modern. Kritikus sering memandang program ini melalui lensa fiskal yang sempit, namun Prabowonomics melihatnya sebagai instrumen redistribusi sumber daya yang paling mendasar: nutrisi. Dengan menargetkan 82,9 juta penerima manfaat, termasuk anak sekolah, balita, dan ibu hamil, program ini bertujuan menghancurkan siklus kemiskinan dari akarnya.
Secara sosiologis, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kondisi material siswanya. Data menunjukkan bahwa 41% siswa di Indonesia mengalami kelaparan saat belajar, yang berakibat pada penurunan daya konsentrasi dan kegagalan kognitif. Dalam konteks ini, MBG bukan sekadar "pemberian makanan", melainkan upaya negara untuk memastikan setiap warga negara memiliki "kapabilitas" dasar untuk berfungsi dan bersaing dalam masyarakat. Menggunakan Teori Kapabilitas Amartya Sen, kita dapat melihat bahwa tanpa nutrisi yang cukup, kebebasan individu untuk belajar dan berkembang hanyalah abstraksi kosong.
Salah satu dimensi yang paling "sosialis" dari MBG adalah bagaimana program ini dirancang untuk memberdayakan ekonomi tingkat desa. Dengan anggaran yang mencapai Rp8 miliar hingga Rp9 miliar per desa per tahun, pemerintah sedang melakukan desentralisasi modal secara masif. Aliran dana ini dipaksa berputar di tingkat lokal untuk membeli telur dari peternak desa, sayur dari petani lokal, dan jasa katering dari UMKM setempat. Ini adalah aplikasi nyata dari strategi "membangun dari desa" yang tertuang dalam Asta Cita.
Dampak dari program ini akan terasa secara multidimensi melalui berbagai mekanisme transmisi yang sistematis. Pada aspek ketahanan pangan, penyerapan rutin produk tani lokal oleh sekolah akan menjamin stabilitas pendapatan petani sekaligus menggairahkan kembali sektor agraris di pedesaan. Di sisi lapangan kerja, besarnya kebutuhan tenaga masak, logistik, dan manajemen pada Satuan Pelayanan Pangan Bergizi diproyeksikan mampu menurunkan angka pengangguran di pedesaan secara signifikan. Secara kesehatan publik, intervensi gizi spesifik ini akan menjadi tameng utama dalam mencegah stunting, yang pada akhirnya akan mengurangi beban biaya kesehatan negara di masa depan. Lebih dari itu, MBG adalah instrumen keadilan sosial yang memberikan akses nutrisi setara bagi setiap anak tanpa memandang kelas sosialnya, sehingga mampu secara efektif mengikis kesenjangan kognitif yang selama ini bersifat struktural.
Hilirisasi: Nasionalisme Sumber Daya dalam Era Hijau
Jika MBG adalah sisi "sosial" dari Prabowonomics, maka hilirisasi adalah sisi "nasionalis-industrinya". Kebijakan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap pembagian kerja internasional yang memposisikan negara-negara selatan hanya sebagai penyedia bahan mentah murah bagi industri utara. Dengan melarang ekspor bijih nikel dan komoditas lainnya, Indonesia sedang melakukan apa yang oleh para pakar disebut sebagai "Green Developmentalism" atau "Resource Nationalism".
Prabowonomics menempatkan Indonesia dalam barisan "New Developmental State", serupa dengan apa yang dilakukan Jepang dan Korea Selatan pada masa keemasannya. Negara tidak hanya bertindak sebagai regulator, tetapi sebagai "koordinator strategis" yang mengarahkan modal asing dan domestik ke sektor-sektor manufaktur bernilai tambah tinggi. Langkah Prabowo untuk melanjutkan hilirisasi 21 komoditas strategis dengan perkiraan kebutuhan dana Rp8,4 kuadriliun menunjukkan skala ambisi yang tidak bisa diserahkan begitu saja pada mekanisme pasar bebas.
Hilirisasi ini juga erat kaitannya dengan kemandirian bangsa. Dengan memiliki industri pengolahan di dalam negeri, Indonesia mengurangi ketergantungannya pada produk impor dan fluktuasi harga komoditas global. Ini adalah implementasi dari teori dependensi: bahwa untuk maju, sebuah negara harus memutus rantai ketergantungan ekonomi dari negara-negara maju dengan membangun kapasitas industri domestik yang kuat.
Gibran Rakabuming Raka, sebagai wakil presiden, melengkapi narasi ini dengan "Hilirisasi Digital". Ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pemain dalam rantai nilai ekonomi digital global. Penggabungan antara kekuatan sumber daya alam (nikel untuk baterai EV) dengan kedaulatan teknologi diharapkan menciptakan fondasi ekonomi yang tangguh menghadapi disrupsi global.
Tantangan Fiskal: Antara Ambisi dan Keberlanjutan
Setiap agenda transformasi berskala besar pasti menghadapi benturan realitas anggaran. Kritikus dan lembaga kajian memberikan peringatan keras mengenai risiko fiskal dari program MBG dan investasi infrastruktur yang masif. Jika pertumbuhan ekonomi tidak mencapai target 7-8%, maka defisit anggaran berisiko melampaui batas aman 3% dari PDB yang ditetapkan undang-undang.
Namun, dari perspektif Prabowonomics, pengeluaran untuk nutrisi dan pendidikan bukanlah "biaya", melainkan "investasi modal". Dalam logika ekonomi Pancasila, defisit fiskal yang dialokasikan untuk memperkuat daya saing manusia dan infrastruktur produktif jauh lebih berharga daripada surplus anggaran yang dibarengi dengan rakyat yang kelaparan dan industri yang mandek.
Terdapat kekhawatiran bahwa penggunaan dana pendidikan untuk program makan gratis dapat mendisrupsi sistem yang sudah berjalan. Skenario yang menggunakan pergeseran dana pendidikan diproyeksikan hanya memberikan dampak kecil terhadap PDB, yakni sekitar 0,06 persen dengan penyerapan 224 ribu tenaga kerja, namun berisiko tinggi menurunkan kualitas pengajaran dan fasilitas sekolah. Sebaliknya, skenario yang menggunakan dana tambahan di luar anggaran pendidikan diproyeksikan memberikan dampak PDB yang jauh lebih signifikan hingga 0,89 persen dan menyerap 1,58 juta tenaga kerja, meski harus berhadapan dengan risiko defisit anggaran yang melampaui batas 3 persen. Oleh karena itu, jalan keluar yang paling masuk akal adalah skenario optimalisasi penerimaan negara; sebuah langkah yang menjanjikan penyerapan tenaga kerja tinggi namun menuntut keberanian politik yang besar untuk menghadapi resistensi terhadap reformasi pajak dan digitalisasi birokrasi.
Geopolitik: Ekonomi Non-Alignment yang Aktif
Dalam kancah global, Prabowonomics mencerminkan posisi "Bebas-Aktif" yang diterjemahkan ke dalam kemitraan ekonomi strategis. Keterlibatan aktif Indonesia dalam forum internasional dan pembentukan lembaga seperti "Danantara" menunjukkan bahwa Indonesia ingin mengelola kekayaannya dengan standar profesionalitas global namun tetap dalam kendali kedaulatan nasional.
Upaya Prabowo untuk merangkul baik Amerika Serikat, Tiongkok dan baru-baru ini Jepang dalam pendanaan program strategis nasional menunjukkan pragmatisme tingkat tinggi. Tiongkok telah menandatangani kesepakatan pendanaan untuk MBG, sementara AS memberikan dukungan politik bagi penguatan gizi nasional. Ini adalah diplomasi ekonomi yang berani: memanfaatkan rivalitas adikuasa untuk kepentingan perut rakyat Indonesia.
Kesimpulan: Kontrak Sosial Baru Indonesia
Prabowonomics adalah sebuah "Kontrak Sosial Baru" yang menawarkan sintesis antara keadilan sosial sosialis dan efisiensi industri modern. Melalui Asta Cita, Presiden Prabowo mencoba meregenerasi janji konstitusi bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Keberhasilan eksperimen besar ini akan sangat bergantung pada tiga faktor krusial. Pertama, integritas birokrasi dalam menyalurkan dana redistribusi seperti MBG agar benar-benar sampai ke tangan rakyat tanpa dikorupsi. Kedua, ketegasan dalam menjalankan strategi hilirisasi di tengah tekanan global. Dan ketiga, kemampuan untuk menyeimbangkan antara ambisi pembangunan yang menggebu-gebu dengan stabilitas fiskal yang berkelanjutan.
Jika Prabowonomics berhasil, maka Indonesia tidak hanya akan mencapai visi Indonesia Emas 2045, tetapi juga memberikan model baru bagi negara-negara berkembang lainnya: bahwa kemajuan ekonomi tidak harus dicapai dengan mengorbankan keadilan sosial, dan bahwa sosialisme dalam konteks nasional dapat menjadi motor penggerak industrialisasi yang manusiawi. Inilah esensi dari kedaulatan sejati—sebuah bangsa yang mampu memberi makan anak-anaknya dari tanahnya sendiri, dan mengolah hartanya dengan tangannya sendiri.
