Konten dari Pengguna

Warisan Sosialisme Dibalik Makan Bergizi Gratis

Rais Kaharuddin

Rais Kaharuddin

Alumnus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik. Fokus pada analisis narasi program pemerintah dan strategi komunikasi program-program strategis nasional.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rais Kaharuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: ksp.go.id
zoom-in-whitePerbesar
Source: ksp.go.id

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar janji kampanye, melainkan manifestasi dari genetika pemikiran sosialis-nasionalis yang dalam. Presiden Prabowo Subianto, yang tumbuh dalam asuhan "Begawan Ekonomi" Sumitro Djojohadikusumo, membawa visi transformasi struktural untuk merombak Ekonomi Desa. Alih-alih dipandang sebagai beban fiskal, MBG adalah instrumen "Gerilya Ekonomi" (Gerpolek) untuk merebut kembali kedaulatan dari cengkeraman pasar global yang timpang.

Melalui Analisis Wacana Kritis, narasi "MBG sebagai beban" harus dibaca sebagai residu hegemoni neoliberal yang anti-rakyat. Narasi ini sengaja dipelihara untuk menjaga ketergantungan kita pada impor dan membiarkan struktur kolonial tetap tegak. Sumitro Djojohadikusumo selalu menekankan bahwa pembangunan ekonomi adalah perubahan struktural, bukan sekadar angka pertumbuhan yang semu.

Menggugat 'Maling' Fiskal: Melawan Logika Neoliberal yang Membelenggu

Tan Malaka pernah berkata, "Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya." Begitu pula dengan APBN kita, yang sering kali "dijarah" oleh logika efisiensi yang mematikan hak dasar rakyat atas gizi. Kritik neoliberal yang menyoroti risiko fiskal hingga Rp400 triliun adalah bentuk kekhawatiran elit akan hilangnya kontrol mereka atas kapital.

Sumitro Djojohadikusumo menolak gagasan bahwa pasar bisa mengatur dirinya sendiri secara adil di tengah jurang kemiskinan yang lebar. MBG hadir untuk mengoreksi dualisme ekonomi tersebut dengan melakukan redistribusi kekayaan secara langsung ke meja makan siswa. Ini adalah investasi kolektif dalam "properti sosial" yang paling berharga: sumber daya manusia yang merdeka dari lapar dan stunting.

Bagi penganut Teori Ketergantungan (Dependency Theory), program ini adalah cara untuk memutus rantai ketergantungan pangan yang kronis. Kita tidak boleh terus-menerus menjadi "periferi" yang hanya mengonsumsi sisa-sisa surplus dari negara maju. MBG memaksa negara untuk hadir mengatur pasar agar berpihak pada kepentingan nasional, bukan sekadar memfasilitasi akumulasi modal asing.

Sumitronomics dan Dapur Desa: Negara sebagai Pelopor Kedaulatan Produksi

Dalam kerangka Developmental State, negara tidak boleh pasif melainkan harus menjadi pencipta pasar (market maker). Strategi MBG menciptakan guaranteed demand yang masif, memaksa roda produksi di desa untuk berputar lebih kencang. Inilah inti dari "Sumitro Plan" kontemporer: membangun fondasi ekonomi nasional yang kuat melalui pemberdayaan produsen lokal.

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dibangun oleh Badan Gizi Nasional adalah bentuk nyata dari "pabrik gizi" rakyat. Satu unit SPPG memiliki kapasitas layanan hingga 3.000 porsi per hari, yang membutuhkan pasokan logistik harian dalam skala raksasa. Jika satu porsi dialokasikan Rp10.000, bayangkan perputaran uang miliaran rupiah yang langsung masuk ke kantong petani dan peternak di sekitar desa setiap bulannya.

Mekanisme ini menghilangkan peran perantara yang bersifat parasit dan mendekatkan produsen langsung kepada konsumen. Strategi pengadaan diatur melalui subsidi silang antara menu protein mahal dan murah untuk menjaga stabilitas gizi tanpa mengorbankan anggaran. Dengan demikian, negara tidak lagi hanya "membeli porsi jadi" dari korporasi, melainkan membeli masa depan dari keringat petani sendiri.

Gerpolek di Meja Makan: Menjadikan Koperasi dan BUMDes sebagai Senjata Rakyat

Tan Malaka memimpikan sebuah republik di mana alat-alat produksi, termasuk tanah dan hasil bumi, dikuasai sepenuhnya oleh rakyat. MBG harus menjadi momentum untuk mewujudkan "Koperasi Desa Merah Putih" sebagai agregator utama produksi rakyat. Melalui koperasi dan BUMDes, desa bertransformasi menjadi pusat industri pengolahan pangan yang berdaulat.

Lembaga ekonomi desa memegang peran vital sebagai ujung tombak operasional dan stabilisasi harga. Koperasi berperan menyerap gabah, telur, dan daging peternak rakyat dengan harga yang adil saat pasar sedang goyang. BUMDes menyediakan infrastruktur logistik dan penyimpanan untuk memastikan rantai pasok tidak terputus. Sementara UMKM lokal diberdayakan sebagai tenaga pengolah makanan, menciptakan ribuan lapangan kerja baru bagi warga desa.

Strategi ini juga harus melawan penyeragaman pangan yang sering kali didorong oleh kepentingan importir besar. Diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal adalah harga mati untuk mewujudkan "Merdeka 100 Persen" di sektor pangan. Menu MBG di daerah harus memuliakan sagu, talas, atau jagung lokal, bukan dipaksakan mengonsumsi beras impor atau gandum yang memperkaya negara lain.

source: kemhan.go.id

Waspada Sabotase Oligarki: Desentralisasi adalah Syarat Mutlak Kemerdekaan

Prabowo pernah menyatakan bahwa ketahanan pangan adalah inti dari strategi pertahanan nasional (Sishankamrata). Namun, Sishankamrata di meja makan ini terancam oleh sabotase para "maling" struktural yang mencari celah perburuan rente. Jika MBG dikelola secara sentralistik, ia hanya akan menjadi ladang korupsi bagi oligarki yang dekat dengan kekuasaan.

Risiko inefisiensi dan pembengkakan anggaran dalam skema terpusat diproyeksikan bisa merugikan negara hingga Rp8,5 triliun per tahun. Ancaman ini nyata jika pengadaan bahan baku jatuh ke tangan vendor logistik besar atau BUMN yang tidak memiliki akar di desa. Kita harus menuntut transparansi total dan pengawasan massa agar piring makan anak-anak kita tidak dikorupsi oleh para pencari rente.

Satu-satunya cara melawan sabotase ini adalah dengan desentralisasi radikal: 85% bahan baku wajib bersumber dari radius 10 km dari dapur SPPG. Kepastian ini akan menutup ruang bagi "bandit-bandit" pangan yang biasa bermain di rantai pasok panjang dan impor yang ugal-ugalan. Kedaulatan ekonomi hanya bisa tegak jika dapur sekolah terhubung langsung dengan kandang ayam dan sawah di belakang rumah penduduk.

MBG adalah Ujian Sejarah bagi Nasionalisme Kita

Makan Bergizi Gratis adalah ujian apakah kita berani menerapkan "Ekonomi Berjuang" ala Tan Malaka dan Sumitro Djojohadikusumo. Jika program ini gagal memberdayakan desa, maka ia hanyalah aktivitas konsumsi yang akan habis dimakan waktu. Namun, jika dijalankan dengan semangat sosialis-nasionalis, ia akan menjadi mesin revolusi ekonomi yang tak terhentikan.

Rekonstruksi MBG menuntut komitmen politik yang tak kenal kompromi:

  1. Transformasi Struktural: Mengubah APBN dari instrumen pembayaran utang menjadi alat redistribusi gizi dan produksi.

  2. Kedaulatan Koperasi: Menjadikan koperasi desa sebagai pemain utama dalam rantai pasok pangan nasional.

  3. Hirisasi Desa: Membangun industri pengolahan pangan di tingkat desa untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani.

  4. Kemandirian 100 Persen: Menolak ketergantungan impor dan memuliakan biodiversitas pangan lokal Nusantara.

Program ini adalah pertaruhan martabat bangsa. Kita tidak sedang sekadar memberi makan gratis; kita sedang membangun benteng pertahanan manusia yang kokoh dan berdaulat. Seperti pesan Sumitro, ilmu dan kebijakan harus diabdikan sepenuhnya untuk mengangkat harkat bangsa sendiri. Mari kawal MBG agar ia menjadi langkah awal menuju Indonesia yang benar-benar merdeka, lahir dan batin, dari piring makan hingga ke struktur ekonominya.