Konten dari Pengguna

Petambak Tradisional: Cermat Hadapi Musim Kemarau

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Salam Atjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama musim kemarau berlangsung sebagian petambak memanfaatkan waktu untuk perbaikan pematang dan pengolahan dasar tambak. (Foto Atjo)
zoom-in-whitePerbesar
Selama musim kemarau berlangsung sebagian petambak memanfaatkan waktu untuk perbaikan pematang dan pengolahan dasar tambak. (Foto Atjo)

Musim kemarau yang berlangsung panjang memberikan dampak cukup besar terhadap aktivitas budidaya udang di tambak, khususnya pada sistem tradisional.

Tambak tradisional sangat bergantung pada ketersediaan air pasang surut dari laut . Rendahnya pasang air laut selama musim kemarau berlangsung menyebabkan proses sirkulasi air tambak menjadi lebih sulit. Kondisi lingkungan yang berubah selama kemarau memengaruhi proses budidaya seperti pertumbuhan udang, ketersediaan makanan alami, dan produktivitas tambak secara keseluruhan

Selain air laut yang sulit masuk ke tambak, ketersediaan air tawar dari saluran irigasi juga menjadi persoalan. Air irigasi pada musim kemarau memiliki fungsi penting bagi petani sawah untuk mempertahankan tanaman padi. Akibatnya, terjadi persaingan pemanfaatan sumber daya air antara kebutuhan pertanian sawah dan kebutuhan tambak. Keterbatasan air tawar tersebut menyebabkan pembudidaya tambak memiliki ruang yang semakin terbatas untuk melakukan pengenceran air tambak ketika salinitas mulai meningkat.

Saat ini salinitas air tambak terus bergerak naik melebihi batas optimal pertumbuhan biota akuakultur. Penguapan yang tinggi selama musim kemarau membuat air tambak semakin pekat, sementara pasokan air baru sangat terbatas. Salinitas air tambak diatas 35 ppt dan berlangsung dalam waktu lama dapat memberikan tekanan terhadap udang maupun ikan yang dibudidayakan. Hewan budidaya harus mengeluarkan lebih banyak energi untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan kondisi lingkungan sehingga energi untuk pertumbuhan menjadi berkurang.

Pada budidaya udang sistem tradisional, kondisi lingkungan yang kurang optimal dapat terlihat dari pertumbuhan udang yang terhambat dan nafsu makan yang menurun. Udang yang sebelumnya aktif merespons pakan alami dapat menjadi kurang agresif. Nafsu makan udang yang rendah pada akhirnya berdampak pada pertambahan bobot dan dan Tingkat kelangsungan hidup. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, dapat menyebabkan produksi tambak tidak sesuai harapan.

Waspada Serangan Penyakit

Permasalahan kualitas air juga dapat meningkatkan kerentanan udang terhadap serangan penyakit. Udang yang mengalami stres akibat salinitas tinggi, suhu yang meningkat, serta kondisi lingkungan tambak yang kurang stabil berdampak langsung pada daya tahan tubuh udang. Situasi ini dapat menjadi peluang bagi berbagai organisme penyebab penyakit untuk berkembang dan menyebabkan gangguan kesehatan pada udang.

Dampak akhirnya adalah menurunnya produktivitas tambak tradisional. Pertumbuhan yang lambat, konsumsi pakan yang rendah, risiko penyakit yang meningkat, serta sulitnya melakukan pengelolaan air dapat menyebabkan hasil panen menurun. Bagi pembudidaya, kondisi tersebut tidak hanya berdampak terhadap produksi, tetapi juga terhadap pendapatan dan keberlanjutan usaha budidaya tambak.

Lakukan pengecekan salinitas air tambak secara berkala (foto atjo)

Baca Perubahan Lingkungan

Menghadapi musim kemarau ekstrem, pembudidaya perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pengelolaan tambak secara lebih hati-hati. Pemantauan salinitas, suhu, pH, oksigen terlarut, serta kondisi dan perilaku udang perlu dilakukan secara rutin. Pemberian pakan juga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan respons makan udang agar tidak terjadi pemborosan pakan dan penumpukan bahan organik di dasar tambak.

Kemarau Panjang Menjadi Momentum Memperbaiki Tambak

Di sisi lain, musim kemarau tidak selalu memberikan dampak negatif. Bagi sebagian besar petambak, terutama mereka yang tambaknya sulit dijangkau oleh air pasang, kemarau panjang dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan perbaikan konstruksi tambak dan pengolahan tanah dasar.

Petambak dapat memanfaatkan kondisi tambak yang kering untuk memperbaiki pematang yang rusak, memperbaiki pintu dan saluran air, membersihkan saluran pemasukan maupun pembuangan, serta memperbaiki bagian-bagian tambak yang mengalami kerusakan.

Pengeringan juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan pengolahan tanah dasar tambak. Tanah yang mengalami pengeringan dengan baik dapat membantu memperbaiki kondisi dasar tambak sebelum memasuki musim budidaya berikutnya. Namun, pengolahan tanah tetap perlu dilakukan secara tepat dengan memperhatikan kondisi tanah, tingkat kekeringan, dan kebutuhan tambak.

Di sisi lain, diperlukan koordinasi antara pembudidaya tambak, petani sawah, pengelola irigasi, dan pemerintah setempat dalam mengatur pemanfaatan sumber air secara adil dan berkelanjutan. Ketersediaan air merupakan kebutuhan bersama yang harus dikelola dengan baik, terutama ketika musim kemarau berkepanjangan.

Pada akhirnya, keberhasilan budidaya tambak tradisional sangat ditentukan oleh kemampuan pembudidaya dalam membaca perubahan lingkungan. Ketika air terbatas, pengelolaan harus lebih cermat; ketika salinitas meningkat, pemantauan harus lebih intensif; dan ketika udang mulai menunjukkan perubahan perilaku, tindakan harus dilakukan lebih cepat. Dengan langkah antisipatif tersebut, usaha tambak diharapkan tetap produktif dan berkelanjutan meskipun menghadapi tekanan musim kemarau seperti yang terjadi saat ini. Jangan lupa selalu berdoa agar kemarau segera berakhir.