Konten dari Pengguna

Si Intan: Inovasi Penyuluh Perikanan Dongkrak Produksi Benih Ikan Nila

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Salam Atjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ukkas Hamzah sedang melakukan seleksi calon induk ikan nila untuk dipijahkan dalam sistem Si Intan (Foto dok.Ukkas/Salam Atjo)
zoom-in-whitePerbesar
Ukkas Hamzah sedang melakukan seleksi calon induk ikan nila untuk dipijahkan dalam sistem Si Intan (Foto dok.Ukkas/Salam Atjo)

Minimnya produksi benih ikan nila di Sulawesi Selatan menyebabkan produksi nila konsumsi belum berkembang. Selama ini kebutuhan akan benih banyak didatangkan dari luar pulau. Melihat kendala ketidakcukupan kebutuhan benih tersebut maka Ukkas Hamzah, S.STPi, M.Si, seorang Penyuluh Perikanan Satminkal Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAPPP) Maros tergerak hatinya untuk menciptakan inovasi Si Intan (Sistem Inkubasi Telur Ikan Nila). Teknologi tepat guna ini diharap mampu mendongkrak produksi benih ikan nila di Sulawesi Selatan.

Ukkas Hamzah menjelaskan, Si Intan merupakan teknologi sederhana yang mengadopsi egg collect yaitu metode pengumpulan telur/larva dari induk betina untuk kemudian ditetaskan atau dipelihara secara terkontrol di bak pembenihan. Metode ini berguna untuk meningkatkan kontrol terhadap penetasan dan kelangsungan hidup benih, meningkatkan efisiensi, keberhasilan penetasan, dan kualitas benih. Teknologi Si Intan menjadi solusi dari permasalahan pemijahan ikan nila karena bahan yang digunakan murah dan mudah diperoleh sehingga dapat diterapkan oleh pembudidaya skala kecil hingga menengah .

Ikan nila betina merupakan mouthbrooder, yaitu mengerami telur yang telah dibuahi di dalam mulut. Kondisi ini membuat proses pemijahan dan pengambilan telur sulit dikontrol jika hanya mengandalkan sistem alami. Dengan Si Intan, telur dapat dikumpulkan dari induk betina setelah pemijahan dan kemudian ditetaskan secara terkontrol. Hal ini memungkinkan satu unit pembenihan mengelola telur dalam jumlah besar tanpa sepenuhnya bergantung pada induk untuk mengerami telur. Selanjutnya, telur yang dikumpulkan dapat dipelihara dalam kondisi yang lebih terkontrol, seperti kualitas air, aerasi, suhu, dan kebersihan. Kondisi tersebut membantu mengurangi risiko telur mati atau terserang penyakit. Penetasan secara terkontrol memungkinkan telur dan larva dipantau secara lebih intensif sehingga telur yang rusak atau tidak berkembang dapat dipisahkan. Benih yang dihasilkan juga lebih mudah dikelola berdasarkan umur dan ukuran. “Pada sistem konvensional, induk betina harus mengerami telur dalam mulutnya hingga menetas. Selama periode tersebut, aktivitas makan induk berkurang dan siklus pemijahan berikutnya dapat menjadi lebih lambat. Si Intan memungkinkan telur segera dipindahkan sehingga induk dapat lebih cepat kembali ke siklus produksi, “ jelas Ukkas Hamzah.

Dikatakan, keberhasilan metode ini sangat bergantung pada kualitas induk, umur telur saat dikoleksi, kualitas air, desain inkubator, debit air, kepadatan telur, dan penanganan telur. Telur nila yang terlalu sering atau kasar dikeluarkan dari mulut induk juga dapat mengalami kerusakan. Jadi, secara sederhana, teknologi Si Intan muncul sebagai respons terhadap kebutuhan pembenihan ikan nila yang lebih intensif, terkontrol, efisien, dan mampu menghasilkan benih dalam jumlah serta kualitas yang lebih konsisten.