Woow, Udang Windu Pinrang Tembus di Atas Rp. 115.000/Kg

Penyuluh Perikanan Ahli Madya, Kementerian Kelautan dan Perikanan
Tulisan dari Abdul Salam Atjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pembudidaya udang di kabupaten Pinrang kembali bergairah. Setelah beberapa tahun lalu komoditi ekspor ini nyaris ditinggal oleh petambak. Selain persoalan penyakit yang sering menyerang ketika udang windu memasuki umur 50-60 hari, juga harga pasarannya dibawah harga udang vanname . Beruntung ada inovasi baru yang mampu mempercepat masa panen sehingga terhindar dari serangan virus dan hargapun makin menggiurkan.

Udang windu yang diproduksi oleh pembudidaya di kabupaten Pinrang sangat diminati oleh konsumen udang di Jepang. “Udang windu Pinrang paling bagus kualitasnya dibanding udang windu dari daerah lain, sebab setelah lama tersimpan beku, tekstur daging dan warna tetap berloreng hitam seperti udang segar yang baru dipanen,” kata kepala Dinas Perikanan kabupaten Pinrang, H. Andi Budaya. Selain rasa dan aromanya yang khas udang windu Pinrang ini disukai orang Jepang karena diproduksi secara alami tanpa menggunakan pupuk kimia dan pakan buatan pabrik. Karena dipelihara secara tradisional dengan kepadatan tebar 1-2 ekor permeter persegi sehingga hanya mengandalkan makanan alami berupa plankton, tanaman air, cacing tanah dan phronima suppa. Makanan alami inilah yang mampu mempercepat masa panen udang windu. Dengan kepadatan 10-20 ribu ekor per hektar petambak bisa panen sekitar 150-250 kilogram perhektar per siklus. Jika harga udang rata-rata Rp.60.000/kg maka petambak dapat mengantongi hasil penjualan sekitar Rp.9-15 juta/ha hanya dalam tempo masa budidaya 50-60 hari. Jika masa pemeliharaan diperpanjang hingga 80 hari maka petambak bisa panen size 40 ekor/kg dengan harga yang fantastis Rp.115.000/kg.
Setelah dipelihara sekitar 50-60 hari sudah bisa panen dengan size 70-100 ekor perkilogram. Masa pemeliharaan yang cukup simgkat karena pola budidaya udang windu yang dipraktekkan pembudidaya saat ini berbeda dengan pola budidaya dimasa lalu. Beberapa tahun silam udang windu dibudidayakan sampai umur 3-4 bulan untuk mengejar ukuran size panen 25-30 ekor/kg. Namun saat ini harga udang windu size kecil (100-150 ekor/kg) sudah mampu diserap pasar luar negeri dengan harga Rp.55.000-60.000 perkilogram. “Kita berterimakasih kepada PT Atina karena mampu menyerap udang windu ukuran kecil untuk diekspor ke Jepang dengan harga yang menguntungkan petambak,” ungkap Andi Budaya. Konsekwensi dari dari pola budidaya udang ini adalah meningkatnya kebutuhan benur udang windu. Sementara produksi pembenihan udang windu (hatchery) yang ada di Pinrang tidak mampu memenuhi semua kebutuhan petambak yang ada di Pinrang.(Abdul Salam Atjo)
