Konten dari Pengguna

IKN Bukan "In The Middle Of Nowhere" Tapi di Tengah Gelombang Peradaban Baru

Abdul Wahid Azar

Abdul Wahid Azar

Praktisi Bisnis, Penulis Buku Trilogi Arah Bangsa 2025.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Wahid Azar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku IKN Hanya Butuh Wifi dan Nyali ( Foto : Dok Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Buku IKN Hanya Butuh Wifi dan Nyali ( Foto : Dok Pribadi)

Ketika Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut Bandara Kertajati “in the middle of nowhere”, sebagian publik langsung bereaksi keras.

Namun jika kalimat itu kita baca bukan sebagai kritik lokasi, melainkan sebagai refleksi pola pembangunan, maka maknanya bisa jauh lebih dalam:

Kertajati bukan berdiri di tengah kehampaan, tapi di tengah kebingungan sistem — proyek besar yang lahir sebelum konektivitasnya matang.

Kertajati: Infrastruktur yang Masih Menunggu Infrastruktur

Bandara Kertajati dibangun dengan semangat pemerataan dan kemajuan wilayah.

Namun hingga kini, aktivitasnya masih belum optimal.

Masalahnya bukan pada bangunannya, tapi pada jaringan pendukungnya:

jalan tol belum terhubung sempurna, transportasi umum minim, dan pusat ekonomi sekitar belum terintegrasi.

Kertajati mengingatkan kita bahwa infrastruktur besar tak akan hidup tanpa ekosistem yang menopangnya.

Ia ibarat rumah megah tanpa jalan masuk.

Ini bukan tentang siapa yang membangun, tapi bagaimana membangun sistem yang saling terhubung.

Tanpa itu, bandara bisa berdiri megah tapi sunyi, karena ekonomi tidak ikut terbang bersama pesawatnya.

Belajar dari Proyek yang Kehilangan Arah

Kita punya banyak proyek dengan niat baik, tapi kehilangan arah di tengah perjalanan.

Ada yang gagal karena perencanaan lemah, ada yang berhenti karena pengawasan longgar.

Semuanya menunjukkan satu hal:

Bangsa ini sering lebih cepat menata fisik ketimbang menata disiplin dan koordinasi.

Pembangunan seharusnya bukan tentang kecepatan membangun,

tapi ketepatan menyiapkan sistem agar proyek tak mati setelah peresmian.

IKN: Ujian Pola Pikir Bangsa

Kini, Ibu Kota Nusantara (IKN) menjadi tonggak baru.

Ia bukan sekadar proyek, tapi tes kebangsaan — apakah Indonesia benar-benar siap berpindah dari logika kekuasaan ke logika sistem, dari kebanggaan seremonial ke efisiensi struktural.

Dalam buku saya, IKN HANYA BUTUH WIFI DAN NYALI — Gelombang Ketiga Nusantara, saya menulis:

“Wifi melambangkan konektivitas, Nyali melambangkan keberanian moral.

Dua hal ini adalah fondasi agar bangsa mampu membangun dengan pikiran, bukan hanya tangan.”

IKN akan berhasil jika pemerintah mampu menata data, hukum, dan teknologi dalam satu kesatuan ekosistem.

Karena kota modern bukan dibangun dari beton, tapi dari keterhubungan dan keberanian berpikir terintegrasi.

Gelombang Ketiga: Dari Toffler, Naisbitt, ke Christian

Filosofi pembangunan IKN tidak bisa dilepaskan dari pandangan Alvin Toffler, John Naisbitt, dan David Christian — tiga futurolog besar yang menginspirasi kerangka buku ini.

Toffler, dalam The Third Wave, menggambarkan bagaimana umat manusia bergerak dari era agraris ke industri, lalu ke era informasi.

IKN adalah ujian: apakah Indonesia siap menunggangi gelombang ketiga itu — era data, kecepatan, dan inovasi — atau justru terseret arus birokrasi lama.

Naisbitt, lewat Megatrends, menegaskan bahwa masa depan ditentukan oleh desentralisasi dan konektivitas.

Pindah ibu kota bukan berarti memusatkan kekuasaan baru, tapi menyebarkan energi pembangunan ke seluruh nusantara.

David Christian, melalui Big History, menjelaskan bahwa setiap lompatan peradaban selalu diawali oleh kemampuan manusia mengorganisasi kompleksitas.

Dan di situlah tantangan IKN: bukan sekadar memindahkan gedung, tapi mendisiplinkan sistem agar peradaban baru bisa tumbuh.

Dari Toffler kita belajar arah,

dari Naisbitt kita belajar keterhubungan,

dan dari Christian kita belajar kesabaran membangun tatanan jangka panjang.

Bukan Lokasi, Tapi Logika

Pernyataan AHY tentang Kertajati membuka diskusi penting:

Pembangunan bukan soal tempat, tapi cara berpikir.

Selama kita masih berorientasi pada pencitraan proyek, bukan kesinambungan sistem,

kita akan terus membangun gedung tanpa ekosistem dan kebijakan tanpa koordinasi.

IKN memberi peluang untuk memperbaiki itu semua.

Dengan “wifi dan nyali” — konektivitas dan keberanian — bangsa ini bisa memutus pola lama dan menulis bab baru pembangunan berbasis data dan kesadaran kolektif.

Penutup: Dari Middle of Nowhere ke Center of Innovation

Kertajati belum terbang tinggi karena sistem pendukungnya belum lengkap.

Banyak proyek lain yang bernasib sama — besar di niat, kecil di tata kelola.

Kini, IKN berdiri di tengah gelombang perubahan besar dunia.

IKN bukan di tengah antah berantah,

tapi di tengah pergeseran peradaban yang menuntut keterhubungan, efisiensi, dan kesadaran digital.

Keberhasilan IKN tidak akan ditentukan oleh letaknya di peta,

melainkan oleh arah pikir bangsa ini dalam membaca masa depan.

---------

Tentang Penulis:

H. Abdul Wahid Azar, S.H., M.H. adalah praktisi bisnis, penulis buku profesional bersertifikat BNSP, dan penulis aktif di Kumparan.

Karyanya yang terbaru, IKN HANYA BUTUH WIFI DAN NYALI — Gelombang Ketiga Nusantara: Kajian Hukum dan Narasi Masa Depan Berbasis Data dan Peradaban (XVI + 408 halaman, ISBN 978-623-261-965-4, Cetakan I Juli 2025), membahas arah baru pembangunan Indonesia berbasis hukum, sistem, dan keberanian berpikir inovatif.