Konten dari Pengguna

Indonesia di Tengah Realisme dan Akselerasi Industri Pertahanan Global

Abdullah Akbar Rafsanjani

Abdullah Akbar Rafsanjani

Mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Kristen Indonesia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Freepik.com/macrovector
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com/macrovector

Indonesia kini berada di suatu persimpangan dilematis. Di satu sisi, holding BUMN industri pertahanan Indonesia atau DEFEND ID sudah memasang target ambisius yaitu menembus jajaran 50 besar perusahaan pertahanan global. Target ini didukung oleh strategi operasional yang agresif untuk mendapat kontrak hingga Rp.132 triliun hingga ekspansi ke pasar Asia Pasifik dan Afrika. Dan di sisi lain, Indonesia punya kesenjangan nyata antara kapasitas domestik dengan standar global industri pertahanan. Ketika Perang Rusia-Ukraina pecah, itu telah membuktikan bahwa masa depan peperangan ditentukan oleh kecepatan inovasi teknologi seperti AI, persenjataan otonom, perang siber, hingga drone yang membuat lanskap medan perang berubah drastis. Di tengah kenaikan belanja pertahanan global yang mencapai USD 2,63 triliun pada 2025, Indonesia mesti memainkan dua peran sekaligus yaitu sebagai agen perdamaian yang terus konsisten dengan prinsip bebas aktif, dan aktor yang mesti siap secara strategis menghadapi dinamika Konflik modern. Sekarang pertanyaannya adalah apakah industri pertahanan Indonesia sudah siap menjembatani dua hal tersebut? Realitas Sistem Internasional: Antara Pencegahan dan Perlombaan Senjata Dunia bergerak cepat menuju era di mana stabilitas sangat bergantung pada kemampuan deterrence (pencegahan). Dunia memasuki era di mana negara-negara tidak lagi ragu menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuan politik. Negara-negara NATO bahkan berkomitmen menaikkan anggaran pertahanan menjadi 5% dari PDB di tahun 2035. Amerika Serikat juga mengusulkan anggaran pertahanan USD 1,01 triliun untuk 2026, dengan fokus besar pada AI, hypersonik, dan sistem nirawak. Sementara itu, Indonesia justru secara aktif menggalang dunia menuju perlucutan senjata total dan mendesak penghentian modernisasi senjata nuklir. Paradoks ini menempatkan diplomasi Indonesia dalam posisi yang sulit. Ketika narasi global didominasi oleh logika pencegahan dan perlombaan teknologi, narasi pelucutan senjata berisiko terpinggirkan, meskipun secara moral dan politik sangat strategis. Kesenjangan ini menjadi tantangan berat bagi Indonesia untuk tetap relevan di kancah internasional. DEFEND ID: Membangun Fondasi untuk Menghadapi Realitas DEFEND ID yang menaungi PT Pindad, PT DI, PT PAL, PT Dahana, dan PT Len Industri telah ditetapkan sebagai komponen pendukung pertahanan negara. Ini adalah fondasi penting, namun belum cukup. Tantangan utamanya bukan sekadar memproduksi atau menjual senjata, melainkan membangun karakter organisasi yang adaptif dan inovatif serta tentunya menyerap talenta-talenta muda Indonesia. Dalam perang Rusia-Ukraina, drone kabel serat optik yang dikembangkan Ukraina pada musim panas 2023, enam bulan kemudian mampu dikebut Rusia untuk diproduksi massal dengan skala yang jauh lebih besar. Inilah dinamika industri pertahanan modern yaitu kecepatan adopsi dan skalabilitas teknologi yang lebih menentukan daripada siapa yang menemukannya pertama kali. Di sinilah urgensi integrasi teknologi mutakhir ke dalam sistem produksi nasional dan tentunya dalam akselerasi dengan perkembangan industri pertahanan global. Sistem siber AI otonom (MAICAs) bahkan disebut-sebut menciptakan jalur kredibel menuju risiko katastrofik global. Sementara itu, Indonesia masih berupaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari 40% menjadi 55% dalam 2-3 tahun ke depan. Menemukan Keseimbangan: Diplomasi dan Kesiapan Strategis Indonesia merupakan kekuatan menengah di Asia Pasifik, dan dalam lanskap yang semakin terpolarisasi antara AS-Tiongkok, Indonesia mengambil pendekatan hedging dan mengusahakan suatu equilibrium dengan memanfaatkan politik bebas aktif untuk menjaga otonomi strategisnya. Serta dalam ranah pertahanan, Indonesia memakai pendekatan “multi-pemasok” dalam modernisasi alutsista. Tetapi dengan rapuhnya stabilitas Asia Pasifik seperti Jepang yang menaikkan anggaran pertahanannya dan merubah postur militerismenya sebagai kekuatan militer di bawah payung AS, konflik India-Pakistan, hingga konflik Amerika Serikat-Iran yang mengubah kalkulasi geopolitik secara fundamental. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, harus memperkuat postur pertahanan maritimnya sambil berusaha menghindari untuk terperangkap dalam pusaran rivalitas kekuatan besar. Bagaimana Semestinya Langkah Kedepan? Indonesia menghadapi kesenjangan nyata antara ambisi dan kapasitas. Target DEFEND ID untuk masuk 50 besar global adalah langkah awal yang baik, namun tanpa penguatan karakter, inovasi, dan kesiapan strategis, target tersebut hanya akan menjadi angan-angan saja. Maka, langkah awal yang dilakukan adalah melakukan percepatan penguasaan atau setidaknya mempelajari untuk menguasai teknologi kunci seperti AI, cyber defense, dan sistem persenjataan otonom secara bertahap namun terarah. Kedua, transformasi budaya organisasi DEFEND ID dari sekadar holding BUMN menjadi ekosistem yang adaptif, gesit, dan berorientasi riset. Ketiga, selaraskan pendekatan diplomasi perlucutan senjata dengan pembangunan kapasitas deterrence yang kredibel, sehingga Indonesia tidak hanya didengar dalam forum perdamaian tetapi juga disegani dalam dinamika kekuatan nyata. DEFEND ID adalah harapan besar untuk kapabilitas dan kemandirian pertahanan Indonesia. Namun, menjadi pemain global dan mengakselerasi perkembangan industri pertahanan global tidak cukup hanya dengan memiliki pabrik. Ia membutuhkan visi yang melampaui batas-batas birokrasi dan berani bertransformasi di tengah pusaran revolusi industri pertahanan global.