Konten dari Pengguna

Mengatasi Limbah Minyak Jelantah: Kolaborasi UKI & Bank Sampah Tri Alam Lestari

Abdullah Akbar Rafsanjani

Abdullah Akbar Rafsanjani

Mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Kristen Indonesia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumen Pribadi

Minyak Jelantah merupakan minyak goreng bekas pakai yang telah digunakan berulang kali dan biasanya dibuang langsung ke saluran air, tanah, atau lingkungan sekitar rumah. Oleh karena itu, permasalahan limbah rumah tangga khususnya minyak jelantah menjadi tantangan lingkungan yang sering diabaikan masyarakat. Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, minyak jelantah dapat mencemari air, menyumbat saluran pembuangan, hingga merusak kualitas tanah. Selain itu, penggunaan minyak jelantah secara berulang untuk konsumsi juga berisiko bagi kesehatan. Dalam konteks internasional, Jepang telah menerapkan sistem daur ulang limbah rumah tangga yang terstruktur, termasuk dari pengumpulan minyak jelantahnya. Hal ini menekankan kepatuhan masyarakat terhadap aturan dan kesadaran lingkungan tinggi. Sebaliknya, di Indonesia, kesadaran dan sistem pengumpulan limbah rumah tangga masih terbatas, sehingga minyak jelantah sering dibuang langsung ke saluran air atau tanah, meningkatkan risiko pencemaran. Perbandingan ini menunjukkan pentingnya edukasi dan sistem pengelolaan yang jelas untuk efektivitas mitigasi lingkungan. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Kristen Indonesia bersama Bank Sampah Tri Alam Lestari yang diwakili oleh Bu Tri, melakukan kolaborasi berupa pengabdian kepada masyarakat dengan programnya berupa memberikan pengetahuan betapa pentingnya mengelola limbah dan workshop dalam mengolah minyak jelantah menjadi produk sabun ramah lingkungan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengolahan limbah rumah tangga sekaligus memberikan keterampilan yang menghasilkan nilai ekonomis. Kegiatan ini memiliki kaitan erat dengan SDGs 3 (Good Health and Well - Being), karena minyak jelantah yang dibuang sembarangan atau digunakan berulang kali mengandung senyawa berbahaya yang dapat menimbulkan risiko kesehatan seperti penyakit jantung, hipertensi, dan kanker. Dengan mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang minyak jelantah sembarangan dan mengolahnya menjadi sabun, risiko paparan zat berbahaya berkurang. Sabun hasil pengolahan ini menggantikan produk kimia sintetis yang mungkin mengandung bahan berbahaya, sehingga turut mendukung kebersihan dan kesehatan keluarga. Lalu, program ini juga berkontribusi terhadap SDGs 15 (Life on Land), pembuangan minyak jelantah ke tanah atau saluran air dapat merusak kualitas tanah, mengganggu mikroorganisme, dan mengurangi kesuburan. Dengan mengubah limbah rumah tangga khususnya disini yaitu minyak jelantah menjadi produk berguna seperti sabun, tekanan terhadap ekosistem darat berkurang. Program ini mendukung pemulihan dan perlindungan tanah dari pencemaran kimia rumah tangga, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat diberikan edukasi mengenai bahaya minyak jelantah terhadap lingkungan jika dibiarkan begitu saja. Peserta kemudian diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan sabun, mulai dari minyak jelantah yang disaring terlebih dahulu. Lalu nantinya dicampur ke bahan seperti soda api, air, pewangi, serta pewarna agar lebih menarik. Proses keseluruhan hanya memakan waktu 20 menit dan bisa dipakai untuk mandi bahkan mencuci baju yang terkena noda. Kegiatan ini memberikan dua manfaat, mulai dari sisi lingkungan maupun sisi ekonomi bagi masyarakat. Sabun hasil olahan dari minyak jelantah bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti untuk cuci tangan atau mandi, dan juga bisa digunakan untuk dijadikan produk usaha kecil. Selain mengurangi limbah dari minyak jelantah, kegiatan ini juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan barang bekas menjadi produk yang bernilai guna bahkan bisa memunculkan potensi ekonomi. Melalui pengabdian masyarakat ini, mahasiswa UKI bersama Bank Sampah Tri Alam Lestari menunjukkan bahwa solusi terhadap permasalahan lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana di tingkat rumah tangga. Pengolahan minyak jelantah menjadi sabun menjadi contoh nyata bahwa limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi produk bermanfaat sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

*Terima kasih kontribusinya kepada Ibu Tri sebagai pengelola Bank Sampah Tri Alam Lestari dan juga rekan Mahasiswa-mahasiswi Abdullah Akbar Rafsanjani, Adelio Putra Agung, Delo Cristian Damanik, Elsha Putri Nurani Nojho, Gita Cahyani Mufti Fikri, Grace Banna Sianipar, Muhammad Rafi Al Ezzra, Priscilla Nimiarti Laras Asi, Reva Berliana Putri Harahap, Ruth Natael.