Konten dari Pengguna

Reglobalisasi Tiongkok: Bioteknologi dan AI yang Murah Sebagai Pengaruhnya

Abdullah Akbar Rafsanjani

Abdullah Akbar Rafsanjani

Mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Kristen Indonesia

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com

Di tengah fragmentasi global dan Barat yang semakin proteksionis apalagi tentang teknologi strategis, Tiongkok tampil sebagai aktor yang sedang membentuk globalisasi baru. Berbeda dengan globalisasi liberal pasca-perang dingin yang didorong oleh institusi Barat yang kerap memaksakan nilai-nilainya dan teknologi yang eksklusif, reglobalisasi Tiongkok bersifat pragmatis, berbiaya rendah, dan minim tuntutan normatif. Dominasinya yang menguat pada bioteknologi dan strategi AI berbasis open-source, dengan tujuannya adalah menargetkan negara di Global South sebagai mitra utamanya, inilah yang dapat dibaca sebagai reglobalisasi Tiongkok. Sebuah proyek sistemik yang memosisikan Global South sebagai pusat, teknologi strategis sebagai instrumen, dan kekuasaan negara sebagai pengendali utama.

Keunggulan utama Tiongkok dibandingkan Barat bukan semata inovasi, tetapi kemampuan menyediakan barang dan teknologi yang terbilang baik dengan harga yang bisa ditekan hingga lebih murah. Ini berlaku di semua sektornya. Dalam sektor bioteknologi menunjukkan bahwa Tiongkok mampu memproduksi obat dan vaksin dengan standar kompetitif, namun dengan biaya produksi yang lebih rendah karena skala industri, dukungan negara, dan integrasi riset–manufaktur.

Industri bioteknologi Tiongkok sedang mengalami transformasi cepat, selama ini Tiongkok lebih sering mengambil peran sebagai fast follower yang mengadaptasi dan memproduksi ulang obat Barat, tetapi sekarang mulai mengembangkan dan mengkomersialisasi terapi sendiri dan bekerja sama dengan perusahaan farmasi multinasional. Ledakan bioteknologi Tiongkok didorong pengeluaran R&D yang besar sekitar 2,7% dari PDB, serta produksi lebih dari 120.000 PhD per tahun, tiga kali lipat AS. Negara ini memimpin uji klinis sejak 2021 dan keunggulan ini berasal dari kinerja STEM mereka. Dan lewat National Reimbursable Drug List (NRDL), pemerintah Tiongkok melakukan negosiasi agresif dengan pharma global, potong harga obat inovatif hingga 61% rata-rata. Lewat skema itu, pemerintah Tiongkok dapat memperluas akses obat modern kepada penduduknya dan menurunkan biayanya secara signifikan.

Melalui Bioteknologi, Tiongkok punya keunggulan karena menyentuh kebutuhan yang bersifat universal. Tiongkok punya solusi kritis yang universal dan yang penting lebih terjangkau dari AS punya. Inilah yang membuat bioteknologi menjadi jembatan penting antara Global South dan Tiongkok.

Hal ini juga termanifestasi lewat AI yang bersifat open-source. Tiongkok kini memimpin dalam pengembangan model AI open-source, sementara Amerika Serikat yang terkonsentrasi pada model tertutup yang dikendalikan korporasi besar. Model open-source Tiongkok lebih mudah diadaptasi, lebih murah, dan tidak terikat lisensi mahal, inilah yang dimininati negara seperti di Global South. Kita ambil contoh DeepSeek R1 yang dirilis Januari 2025, yang menjadi suatu revolusi ekosistem AI Tiongkok dengan mempercepat inovasi open-source dan menekan biaya pengembangan secara drastis. Keberhasilannya mendorong kompetisi antar startup lokal seperti Alibaba (Qwen) dan Zhipu (GLM). Dalam konteks ini, AI open-source menjadi jauh lebih relevan dibandingkan model AI tertutup (closed-source) yang didominasi perusahaan Barat. Hal ini karena akses dan biayanya yang murah menjadi faktor krusial, sehingga AI dari Tiongkok memiliki keunggulan dalam volume atau integrasi industri.

Melalui dua hal tersebut terdapat benang merah yang jelas. Tiongkok sedang mempromosikan universalisme yang termanifestasi lewat fungsi dan efisiensi harga. Sementara Barat masih bertahan di pluralisme berbasis nilai-nilai liberalnya yang selalu memaksa negara Global South untuk mengikuti standarnya. Reglobalisasi Tiongkok menunjukkan bahwa harga murah adalah "bahasa kekuasaan". Barang dan obat yang kualitasnya kompetitif namun terjangkau, AI yang terbuka namun terkontrol, menjadi instrumen utama ekspansi pengaruh Beijing.