Konten dari Pengguna

Strategi China Plus One: Diversifikasi Rantai Pasok Yang Berisi Rivalitas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kegiatan Perang Dagang, Sumber: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kegiatan Perang Dagang, Sumber: Dokumen Pribadi

Strategi China Plus One (C+1) merujuk pada upaya perusahaan multinasional untuk mempertahankan aktivitas produksi dan investasi di Tiongkok, tetapi secara bersamaan membangun basis produksi tambahan di negara lain. Negara-negara seperti Vietnam, India, Indonesia, Thailand, dan Meksiko kemudian muncul sebagai tujuan alternatif dalam proses diversifikasi tersebut. Namun, fenomena C+1 tidak dapat dipahami semata-mata sebagai keputusan bisnis untuk mencari biaya produksi yang lebih rendah. Dalam perspektif Neorealisme dan Ekonomi Politik Internasional (EPI) Realis, C+1 merupakan bagian dari perubahan struktur ekonomi global yang semakin dipengaruhi oleh kompetisi kekuatan besar antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dalam pemikiran Kenneth Waltz, sistem internasional bersifat anarkis dan negara selalu menghadapi ketidakpastian mengenai niat negara lain. Kondisi tersebut mendorong negara untuk memprioritaskan keamanan dan kelangsungan kekuatannya. Dalam konteks ekonomi kontemporer, keamanan tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan militer, tetapi juga akses terhadap teknologi, energi, semikonduktor, bahan baku strategis, serta jaringan rantai pasok global. Ketergantungan ekonomi yang sebelumnya dipandang sebagai sumber efisiensi kini semakin dilihat sebagai potensi kerentanan.

Tiongkok selama beberapa dekade berhasil menempatkan dirinya sebagai pusat manufaktur dunia. Integrasi mendalam perusahaan global ke dalam ekosistem produksi Tiongkok menghasilkan tingkat ketergantungan yang sangat besar. Namun, meningkatnya rivalitas AS-Tiongkok, perang dagang, pembatasan teknologi, dan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok membuat ketergantungan tersebut semakin dipandang sebagai risiko strategis. Dalam situasi inilah China Plus One berkembang menjadi de-risking, yaitu upaya mengurangi risiko konsentrasi ekonomi tanpa harus sepenuhnya meninggalkan Tiongkok.

Perubahan dalam struktur kekuatan global akan menghasilkan perubahan dalam aturan dan pola ekonomi internasional. Persaingan AS dan Tiongkok karena itu turut mendorong restrukturisasi rantai pasok global. Kebijakan perdagangan, kontrol ekspor, subsidi industri, hingga pembatasan investasi kini tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada kepentingan strategis dan keamanan nasional. Ini juga ada kaitannya dengan geoeconomics, ketika instrumen ekonomi digunakan untuk mencapai tujuan geopolitik. Kompetisi teknologi, khususnya dalam industri semikonduktor, kecerdasan buatan, dan teknologi strategis, menunjukkan bahwa akses terhadap rantai pasok dapat menjadi instrumen kekuatan. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu negara dapat menciptakan apa yang disebut sebagai weaponize interdependencues, yang merupakan situasi ketika hubungan ekonomi yang saling terhubung dapat dimanfaatkan sebagai sumber tekanan politik dan strategis.

Sehingga, faktor pendorong dari strategi ini tidak hanya berasal dari kenaikan biaya produksi di Tiongkok. Faktor yang lebih mendasar adalah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Perusahaan multinasional harus mempertimbangkan kemungkinan perang dagang, sanksi, pembatasan ekspor, konflik geopolitik, serta perubahan kebijakan negara-negara besar. Diversifikasi produksi kemudian menjadi bentuk manajemen risiko terhadap kemungkinan fragmentasi ekonomi global.

Bagi negara-negara berkembang, fenomena ini menciptakan peluang sekaligus tantangan. Indonesia, misalnya, dapat memperoleh keuntungan dari relokasi investasi dan diversifikasi rantai pasok global. Namun, negara penerima investasi juga harus memahami bahwa kompetisi menarik investasi C+1 merupakan bagian dari kompetisi ekonomi yang lebih besar. Infrastruktur, stabilitas regulasi, kapasitas industri, kualitas tenaga kerja, dan posisi strategis dalam rantai nilai global menjadi faktor penting untuk menentukan siapa yang mampu memperoleh manfaat jangka panjang. Maka dari itu, ketika kompetisi AS-Tiongkok semakin membentuk ekonomi global, keputusan mengenai lokasi pabrik dan investasi tidak lagi hanya ditentukan oleh efisiensi, tetapi juga oleh pertimbangan keamanan, geopolitik, dan posisi negara dalam persaingan kekuatan besar. China Plus One menjadi salah satu wajah baru dari ekonomi global yang semakin terfragmentasi dan dipolitisasi.