Membayangkan Sastra Mengacaukan Proyek Penulisan Ulang Sejarah

Mahasiswa Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Abdullah Azzam Al Mujahid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah dan sastra harus berani berhadap-hadapan dengan masyarakat, menjadi kritik sosial. Ini berarti menjadikan keduanya 'subversif'. –Kuntowijoyo.
Di tengah hiruk pikuk proyek penulisan ulang sejarah nasional yang lagi dijalankan pemerintah, mari bersepakat, kalau kekhawatiran akan manipulasi narasi sejarah sudah tak bisa lagi diganggu gugat. Ketika narasi sejarah dibengkokkan melalui tangan-tangan besi kekuasaan, yang hilang itu bukan cuma peristiwa dalam goresan tinta, tetapi juga ingatan kolektif kita sebagai bangsa yang besar; kenangan kita pada masa lampau yang membentuk siapa diri kita, dan bagaimana cara kita melihat masa depan. Iya. Semuanya hilang.
Dalam situasi seperti ini, membayangkan sastra hadir sebagai pengacau rasanya bukanlah hal yang berlebihan. Imajinasi dalam sastra, justru bisa menjadi senjata paling jujur, di kala kebenaran pelan-pelan mulai dibungkam oleh penguasa lewat proyek penulisan ulang sejarah. Di sinilah sastra mengambil perannya. Bukan sebagai pendukung, tetapi sebagai pengganggu—lewat fiksi, kekuatan moral, dan lewat kenakalan yang membebaskan.
Sastra yang Mengadili Sejarah
Kalau sejarah digunakan untuk menjelaskan gejala peristiwa masa lampau, maka sastra digunakan untuk mengadili, begitulah kata Kuntowijoyo dalam Sastra/Sejarah. Menurutnya, sastra itu memang lahir buat suatu nilai, kesadaran, dan kebenaran. Begitu juga kata Ayn Rand dalam Romantic Manifesto, sastra yang tidak melahirkan penilaian adalah bentuk pengkhianatan terhadap moral. Menurut Ayn Rand (1969), sastra harus dapat mengajarkan a moral sense of life. Dari sinilah kekuatan sastra muncul, ia tidak sekadar berkisah, tetapi ia memancarkan nilai, menegakkan kesadaran, dan mengajukan gugatan moral terhadap realitas.
Barangkali kita juga sadar, di Indonesia, gugatan semacam itu tidak lagi asing. Misalnya, Tetralogi Buru yang ditulis Pramoedya Ananta Toer, karya sastra yang mencerminkan semangat perlawanan terhadap narasi kuasa yang berhasil mengekang ingatan kolektif kita pada masa Orde Baru lewat pengaburan sejarah.
Di masa yang sama, muncul puisi-puisi Rendra yang menjelma senjata menentang otoritarianisme—dengan panggung sebagai medan perangnya. Sementara di masa kini, Leila S. Chudori hadir lewat menulis Laut Bercerita, Pulang, dan Namaku Alam. Semuanya adalah karya sastra yang mengajak kita untuk mengadili dengan mempertanyakan kembali soal “kebenaran” sejarah yang sudah diwariskan negara.
Artinya, meski pun sastra berpijak pada imajinasi, melalui kekuatan bahasa dan moral, ia mampu menandingi narasi sejarah besar yang dibangun oleh kekuasaan. Daya dobrak sastra terhadap narasi besar bukan main dan tak bisa dianggap remeh. Sastra hadir bukan untuk mengeklaim kebenaran tunggal, tetapi malah untuk memperlihatkan kalau sejarah itu tidak pernah satu apalagi bersifat netral. Sastra menunjukkan bahwa sejarah selalu punya warna yang beragam.
Alam Imajinasi sebagai Ruang Perlawanan
Uniknya, pada hari ini, kesadaran sejarah tumbuh bukan melalui buku-buku pelajaran sejarah apalagi di dalam ruang-ruang akademik, melainkan ia tumbuh lewat karya-karya sastra seperti novel, cerpen, dan puisi. Hal ini membuktikan bahwa selama silih rezim berganti, sejarah yang disusun sama penguasa tidak menjadi rujukan yang menyenangkan bagi kita.
Sementara itu, di sisi lain, novel, cerpen, dan puisi tampak mampu menyediakan ruang reflektif yang lebih intim dan menyentuh. Alam imajinasi yang menjadi rumah karya sastra, seolah menyediakan kita sebuah kacamata yang lebih adil dalam melihat sejarah yang tak pernah terungkap: kehilangan, pengkhianatan, kekerasan, dan keberanian untuk bertahan.
Beth Webb, penulis buku anak-anak dan remaja asal Inggris dalam artikelnya (2007) berpendapat bahwa fiksi sejarah (sastra) mampu membawa kita memahami cerita yang bertentangan di era yang sama, ‘menghargai betapa sedikitnya pengetahuan kita, dan betapa rapuhnya konsep kebenaran,’ tulisnya. Dari sinilah sastra muncul dan menawarkan ruang alternatif bagi ingatan kolektif bangsa. Ia mampu melindungi kita dari lupa, tipu daya, dan sekaligus menjadi alarm pengingat bahwa sejarah tidak bisa diseragamkan.
Sastra adalah Pengacau yang Kita Butuhkan Hari Ini
Dengan demikian, membayangkan sastra mengacaukan narasi sejarah yang sarat manipulatif bukanlah mimpi yang naif, tetapi kebutuhan di masa kini. Di tengah penyeragaman sejarah oleh penguasa, sastra bisa hadir dan menyemai kesadaran untuk membongkar narasi sejarah yang dominan. Sastra dapat membawa kegaduhan sehat dalam arena pergulatan narasi: membongkar, menertawakan, bahkan menggugat kebenaran semu.
Sastra tidaklah hadir untuk menggeser narasi sejarah resmi, melainkan untuk mengganggu kenyamanannya dalam ranjang kekuasaan. Di dalam gangguan itu, sastra mengajak kita untuk berpikir ulang, mempertanyakan kembali, dan memelihara keberagaman sejarah. Demikianlah fungsi vital sastra dalam ekosistem kebudayaan.
Oleh karena itu, mungkin satu-satunya cara supaya kita tetap waras di tengah gonjang-ganjing penulisan ulang sejarah yang lagi dijalankan sama penguasa adalah dengan merayakan kisah-kisah fiktif historis yang tak sejalan dengan narasi sejarah resmi. Sebab, di dalam dunia di mana sejarah ditulis untuk mempertahankan kekuasaan, sastra justru hadir untuk menjeritkan kebenaran yang paling jujur.
Daftar Pustaka
Kuntowijoyo. 2004. "Sejarah / Sastra." Humaniora, vol. 16, no. 1, 2004, pp. 17-26, doi:10.22146/jh.v16i1.803.
Rand, Ayn. 1969. Romantic Manifesto: A Philosopy of Literature. New York: New American Library.
Artikel populer
https://www.theguardian.com/books/booksblog/2007/oct/30/fictionisjustasimportanta
