Dolar Naik Turun, Apa Dampaknya bagi Pelaku UMKM?

Mahasiswa aktif program studi Akuntansi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Abdullah Gani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketidakpastian ekonomi global saat ini, suku bunga tinggi yang ditetapkan The Fed, dan keluarnya investor asing dari bursa Indonesia memengaruhi nilai tukar rupiah dan memperkuat dolar AS yang berada di kisaran Rp.18000 per dolar AS. Hampir seluruh masyarakat merasakan dan mengeluhkan penguatan dolar ini dan para pebisnis pun merasakan dampak dari situasi ini.
Efek Dolar Naik bagi Pelaku UMKM
Berikut sederet efek dolar naik bagi Indonesia yang berdampak langsung pada kelangsungan UMKM:
Peningkatan Biaya Produksi
Kenaikan nilai tukar dolar AS memicu imported inflation, yaitu inflasi yang berasal dari barang-barang impor.
Sayangnya, ketergantungan UMKM Indonesia terhadap bahan baku impor masih tinggi di sektor pengolahan makanan, tekstil, dan komponen elektronik. Maka, efek dolar naik terhadap rupiah pun tak terhindarkan.
Pelemahan rupiah membuat kita harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan nilai yang sama dalam dolar AS. Dampaknya biaya produksi melonjak tajam.
Buktinya terlihat pada Harga Pokok Penjualan (HPP). Misal, pelaku UMKM kuliner yang memanfaatkan kedelai sebagai bahan baku (dengan harga patokan dolar AS di pasar internasional) akan menghadapi kenaikan drastis pada biaya variabel.
Selain bahan baku fisik, biaya operasional lain seperti penggunaan teknologi asing dan biaya logistik lintas negara pun ikut meroket.
Tekanan pada Margin Keuntungan
Untuk tahu sehat atau tidaknya keuangan UMKM, lihat saja pada margin keuntungan bersih. Mudahnya, margin ini adalah rasio laba bersih dibagi total pendapatan. makin tinggi angkanya, makin menguntungkan bisnis yang dijalankan.
Dolar AS yang menguat mengancam margin ini dengan mekanisme "himpitan margin". Himpitan margin itu sendiri adalah situasi di mana biaya input naik tinggi, sementara pendapatan tidak dapat mengimbangi secara proporsional dalam waktu singkat.
Jangka panjangnya, ruang gerak UMKM untuk mengembangkan produk baru maupun reinvestasi modal akan makin sempit.
Apalagi jika disiplin keuangan rendah, skenario terburuknya adalah bisnis bisa gulung tikar. Padahal ekspansi bisnis UMKM membutuhkan aliran modal yang sehat dan berkelanjutan.
Kenaikan Harga Jual produk
Efek satu ini masih sejalan dengan bahaya dolar naik yang pertama. Ketika biaya produksi meroket dan tidak bisa lagi ditanggung sendiri, UMKM tidak punya pilihan selain menaikkan harga ke konsumen.
Namun sayang, tindakan ini bisa berakibat buruk. Mengapa? sebab harga produk UMKM sangat sensitif terhadap perubahan. Artinya, sedikit saja harga naik, pembeli bisa langsung beralih.
Para pembeli yang juga merasakan beratnya inflasi tidak akan ragu mencari barang serupa yang lebih murah atau mengurangi jumlah pembelian mereka.
UMKM pun terjebak dalam pilihan sulit. Tetap mempertahankan harga lama berarti keuntungan menipis. Sebaliknya, menaikkan harga akan menyebabkan penjualan turun drastis.
4. Pinjaman Luar Negeri Bertambah
Bagi UMKM yang berbisnis internasional dan memakai pendanaan dalam mata uang asing atau pinjaman dari pemasok luar negeri, dampak penguatan dolar dapat menjadi ancaman serius bagi kemampuan mereka untuk melunasi utang.
Alasannya, nilai rupiah yang turun menyebabkan jumlah utang dalam nominal otomatis bertambah. Dengan begitu, pembayaran cicilan pokok dan bunga dalam dolar AS akan lebih banyak menyedot kas rupiah daripada perkiraan anggaran.
Hal ini dapat menyebabkan peringkat kredit UMKM di mata bank ikut menurun, yang akhirnya akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan pendanaan baru di masa mendatang.
Kesempatan Ekspor Makin Besar
Namun, jangan salah sangka. Dampak dolar menguat bagi Indonesia tidak semuanya negatif, lho. Satu keuntungan bagi UMKM adalah memberikan keunggulan bagi pengusaha yang fokus pada ekspor.
Dengan rupiah yang melemah, produk lokal menjadi lebih terjangkau dan menarik di pasar internasional bagi pembeli yang memakai dolar AS. Ini merupakan peluang emas bagi produk UMKM andalan seperti barang kerajinan dan makanan khas daerah untuk memperluas pasar mereka.
Pada akhirnya, pergeseran nilai tukar dolar tidak otomatis mengakhiri segalanya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. Fluktuasi mata uang asing justru menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi produk domestik untuk mengukuhkan posisinya di Tanah Air. Dengan menerapkan strategi penyesuaian yang sesuai, seperti menggunakan bahan baku lokal dan meningkatkan efisiensi operasional, UMKM Indonesia diyakini dapat mengubah tantangan skala internasional ini menjadi peluang yang menguntungkan demi memperkuat posisi mereka.
