Konten dari Pengguna

Sebelas Orang Asing, Satu Rumah Bernama Fatimah Al-Fihri

abdullah jundiy

abdullah jundiy

Mahasiswa UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Angkatan 2025

·waktu baca 15 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari abdullah jundiy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Dokumentasi pribadi, diambil oleh penulis di Crisbar dekat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat jam makan siang.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumentasi pribadi, diambil oleh penulis di Crisbar dekat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat jam makan siang.

Kami tidak pernah benar-benar merencanakan untuk menjadi keluarga.

Pada awalnya, kami hanya sebelas orang yang dipertemukan dalam sebuah kelompok bernama Fatimah Al-Fihri.

Sebelas nama yang sebelumnya tidak berarti apa-apa bagi satu sama lain.

Ada yang sudah saling mengenal, ada yang sama sekali belum pernah bertemu. Ada yang percaya diri, ada yang lebih banyak diam. Ada yang mudah mencairkan suasana, ada yang butuh waktu untuk membuka diri. Ada yang kritis, ada yang lebih suka mengamati. Masing-masing datang dengan karakter dan cerita yang berbeda.

Dan di antara mereka, saya datang sebagai seorang mentor.

Awalnya saya berpikir bahwa tugas saya sederhana.

Mendampingi mereka selama PBAK. Membantu ketika mereka kebingungan. Mengarahkan ketika mereka kesulitan. Mengingatkan ketika mereka mulai kehilangan semangat. Sesekali memarahi ketika keadaan mengharuskannya.

Saya kira saya datang untuk mengajarkan sesuatu kepada mereka.

Ternyata saya salah.

Justru sebelas orang inilah yang kemudian mengajarkan banyak hal kepada saya.

Semuanya Bermula dari Sebelas Nama

Saya masih bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika pertama kali mengenal mereka.

Nama-nama yang hanya muncul di dalam grup.

Wajah-wajah yang belum saya hafal.

Percakapan yang masih terasa canggung.

Saat itu saya belum tahu siapa yang paling ramai, siapa yang paling pendiam, siapa yang paling kritis, siapa yang paling sering bercanda, atau siapa yang nantinya akan menjadi orang yang saya cari ketika suasana kelompok mulai sepi.

Kami hanya tahu bahwa kami berada dalam satu kelompok.

Kelompok 11.

Fatimah Al-Fihri.

Lalu waktu berjalan.

Kami mulai bertemu.

Mulai berbicara.

Mulai mengerjakan sesuatu bersama.

Mulai memikirkan yel-yel.

Mulai mempersiapkan FGD.

Mulai saling membantu ketika ada yang kesulitan.

Dan dari hal-hal yang sebenarnya sederhana itulah semuanya berubah.

Yang awalnya hanya saling mengenal nama, mulai mengenal kebiasaan.

Yang awalnya hanya berbicara seperlunya, mulai bercanda tanpa perlu alasan.

Yang awalnya hanya bertemu karena kewajiban PBAK, mulai merasa ada sesuatu yang kurang ketika salah satu tidak hadir.

Kami mulai menjadi kelompok sebelum akhirnya sadar bahwa kami sedang menjadi keluarga.

Sebelas Karakter, Sebelas Cerita

Kalau ada yang bertanya kepada saya, “Memangnya apa yang membuat Kelompok 11 begitu berkesan?”

Saya mungkin tidak akan menjawab dengan satu alasan.

Karena yang membuat kelompok ini istimewa justru perbedaan di dalamnya.

Ada Rafiq, ketua kelompok kami.

Mungkin ia tidak selalu hadir dalam setiap pertemuan. Tetapi saya belajar bahwa kehadiran seseorang tidak selalu bisa diukur dari seberapa sering ia terlihat.

Ada orang yang ketika hadir, tahu apa yang harus dilakukan.

Ada jiwa kepemimpinan dalam dirinya yang menurut saya layak dipertahankan. Bukan hanya tentang menjadi ketua, tetapi tentang bagaimana seseorang berani mengambil tanggung jawab ketika keadaan membutuhkan.

Kemudian ada Yaya, ketua FGD kami.

Yaya adalah salah satu orang yang menurut saya punya rasa tanggung jawab dan kepekaan yang tinggi. Ia mampu merasakan ketika sesuatu perlu diperhatikan.

Dan mungkin ia tidak pernah tahu, tetapi sifat seperti itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Sebab tidak semua orang mampu peduli tanpa harus diminta.

Lalu ada Ucii.

Ah, Ucii.

Kalau membicarakan Ucii, saya selalu teringat satu hal:

pendiamnya itu ternyata situasional.

Ketika ada mentor, diam.

Begitu mentor pergi?

Cerita lain.

Kadang saya berpikir, mungkin selama ini para mentor adalah penyebab utama Ucii tidak banyak berkicau.

Tapi di balik semua candaan itu, saya melihat perkembangan yang cukup besar.

Ia belajar dari kesalahan.

Ia mencoba lagi.

Ia mulai lebih berani.

Dan bagi saya, melihat seseorang berkembang jauh lebih membanggakan daripada melihat seseorang langsung sempurna sejak awal.

Kemudian ada Rafi.

Sosok penuh gebrakan.

Saya menyukai keberaniannya dalam mengambil keputusan. Tetapi ada satu hal yang lebih saya apresiasi: ia mau menerima masukan.

Karena menurut saya, keberanian bukan hanya tentang berani menentukan arah.

Kadang keberanian yang lebih besar adalah berani mengakui bahwa kita mungkin belum sepenuhnya benar.

Teruslah mencari hal baru, Pi.

Jangan pernah merasa selesai belajar.

Ada Israr, sang kritis Kelompok 11.

Pertanyaan-pertanyaannya kadang membuat kami berpikir lebih jauh.

Kalau pertanyaannya ditambah sedikit lagi, mungkin gelar King PBAK benar-benar harus kita pertimbangkan.

Tapi candaan itu menyimpan kekaguman.

Saya melihat seseorang yang tidak takut berpikir.

Tidak takut bertanya.

Tidak takut mempertanyakan sesuatu yang menurutnya perlu dipahami.

Dan saya berharap sifat kritis itu tidak pernah hilang.

Sebab dunia membutuhkan orang-orang yang tidak hanya mau menerima, tetapi juga mau berpikir.

Lalu ada Yunus, sang pengendali yel-yel.

Kalau suasana mulai sepi, mungkin kita tahu siapa yang harus dicari.

Kepercayaan dirinya tinggi.

Ia mampu mencairkan suasana.

Ia juga cukup berani mengambil keputusan ketika kelompok membutuhkan seseorang untuk bergerak.

Ada orang yang masuk ke sebuah kelompok dan membuat dirinya terlihat.

Ada pula orang yang masuk ke sebuah kelompok lalu membuat orang lain ikut berani terlihat.

Bagi saya, Yunus adalah salah satunya.

Kemudian Jylan, sang PDD Kelompok 11.

Saya tahu, mungkin ada sedikit usaha untuk menjaga image.

Dan justru itu yang membuatnya lucu.

Tetapi semakin mengenalnya, semakin terlihat bahwa ada potensi besar di dalam dirinya.

Jyll, jangan terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain melihatmu.

Kalau sesuatu itu baik, lakukan.

Tidak semua kebaikan membutuhkan penonton.

Ada Asma, yang sering berkolaborasi dalam urusan yel-yel dan PDD.

Dari dirinya saya melihat kemampuan yang menurut saya masih bisa dikembangkan jauh lebih besar.

Kadang seseorang memiliki kemampuan, tetapi belum sepenuhnya sadar bahwa dirinya mampu.

Mungkin perjalanan di kampus nanti akan menjadi tempat Asma menemukan lebih banyak sisi dari dirinya sendiri.

Lalu ada Dini.

Pemegang wilayah Utara.

Tetapi jauh di balik candaan itu, saya melihat perjuangan seseorang yang mau mencoba, mau bertahan, dan mau menjalani perjalanan di Dirasat.

Saya tahu, perjalanan kuliah tidak selalu mudah.

Akan ada masa ketika kita bertanya apakah kita berada di tempat yang tepat.

Kalau suatu hari nanti Dini merasa sendirian, saya hanya ingin mengatakan satu hal:

Jangan merasa sendirian.

Karena pernah ada sebuah kelompok yang berjalan bersamamu.

Dan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalananmu tidak akan hilang hanya karena jarak.

Kemudian ada Huda, sang ustadz Kelompok 11.

Saya selalu merasa bahwa Huda sebenarnya memiliki kemampuan yang lebih besar daripada yang sering ia tunjukkan.

Ia pintar, tetapi tidak sibuk menunjukkan kepintarannya.

Ia memiliki sesuatu, tetapi tidak merasa perlu membuat semua orang mengetahuinya.

Itulah salah satu bentuk ketawadhuan yang saya kagumi.

Semoga Huda terus bertumbuh tanpa kehilangan sifat itu.

Dan terakhir, Nehan.

Sang soft spoken.

Saya melihat bagaimana seseorang yang mungkin lebih nyaman diam perlahan belajar untuk bersuara.

Ketika kelompok sedang kesulitan mendapatkan yel-yel, ia mulai berani memberikan suara.

Mungkin bagi orang lain itu hal kecil.

Bagi saya, tidak.

Karena saya percaya, setiap orang memiliki pertempurannya sendiri yang tidak selalu bisa dilihat orang lain.

Bagi seseorang yang terbiasa diam, satu keberanian kecil untuk berbicara bisa menjadi kemenangan besar.

Dan saya bangga melihatnya.

Saya Kira Saya yang Membimbing Mereka

Semakin lama bersama mereka, semakin saya sadar bahwa hubungan mentor dan mentee tidak pernah berjalan satu arah.

Saya memang memberikan nasihat.

Tetapi mereka memberikan pengalaman.

Saya berusaha membuat mereka nyaman.

Tetapi tanpa sadar, merekalah yang membuat saya nyaman menjadi seorang mentor.

Saya mengingatkan mereka untuk semangat.

Mereka mengingatkan saya tentang bagaimana rasanya menjadi mahasiswa baru.

Saya berusaha mengajarkan mereka tentang tanggung jawab.

Mereka menunjukkan kepada saya bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam belajar bertanggung jawab.

Dan ketika melihat mereka, saya seperti melihat diri saya sendiri beberapa waktu lalu.

Saya kembali mengingat bagaimana rasanya menjadi mahasiswa baru.

Datang ke lingkungan yang sama sekali baru.

Bertemu banyak orang.

Mencari teman.

Mencari tempat untuk bertumbuh.

Mencoba memahami dunia kampus yang pada awalnya terasa begitu besar.

Mungkin itu sebabnya saya begitu mudah terikat dengan mereka.

Karena saya tahu satu hal yang sejak awal sebenarnya sudah saya sadari:

fase ini tidak akan berlangsung selamanya.

Suatu hari PBAK akan selesai.

Dan ketika hari itu datang, kami semua akan kembali kepada kehidupan masing-masing.

Lalu PBAK Selesai

Ternyata benar.

PBAK selesai.

Tugas selesai.

FGD selesai.

Yel-yel selesai.

Pertemuan yang sebelumnya begitu sering mulai berkurang.

Hari-hari yang sebelumnya dipenuhi suara dan tawa perlahan kembali menjadi hari-hari biasa.

Dan saya mulai menyadari sesuatu yang agak menyebalkan tentang waktu:

ketika kita sedang menjalaninya, kita sering ingin cepat selesai. Tetapi ketika semuanya selesai, kita justru ingin mengulanginya.

Mungkin setelah ini kami tidak akan sesering dulu bertemu.

Mungkin grup akan mulai lebih sepi.

Mungkin masing-masing akan sibuk dengan kuliah, organisasi, tugas, keluarga, dan mimpi masing-masing.

Dan itu tidak apa-apa.

Karena bertumbuh memang berarti berjalan ke arah yang berbeda.

Saya tidak berharap kalian selalu berada di tempat yang sama.

Saya hanya berharap, sejauh apa pun jalan kalian nanti, jangan kehilangan satu sama lain.

Kalau suatu hari salah satu dari kalian jatuh, semoga masih ada yang bertanya,

“Lu kenapa?”

Kalau salah satu dari kalian sedang kehilangan semangat, semoga ada yang berkata,

“Bangkit lagi. Kita pernah melewati masa yang lebih sulit.”

Dan kalau suatu hari salah satu dari kalian berhasil mencapai sesuatu yang besar, semoga sepuluh orang lainnya masih bisa berkata dengan bangga,

“Gue pernah satu kelompok sama dia.”

Karena keluarga tidak selalu berarti orang-orang yang selalu berada di samping kita.

Kadang keluarga adalah orang-orang yang, meskipun sudah berjalan jauh, tetap menyediakan tempat untuk kita pulang.

Hari Ketika Sebuah Hadiah Membuat Saya Berpikir

Ada satu momen yang mungkin sederhana bagi orang lain.

Tetapi bagi saya, ia memiliki tempat tersendiri.

Hari ketika kalian memberikan hadiah kepada para mentor.

Tidak ada panggung besar.

Tidak ada acara megah.

Tidak ada sesuatu yang terlihat luar biasa.

Hanya kalian.

Sebelas orang yang berdiri bersama.

Dan sebuah hadiah yang kalian berikan kepada kami.

Saya menerimanya dengan senyum.

Mungkin saat itu saya terlihat biasa saja.

Tetapi dalam hati, ada sesuatu yang bergerak.

Saya melihat kalian satu per satu.

Rafiq.

Yaya.

Ucii.

Rafi.

Israr.

Yunus.

Jylan.

Asma.

Dini.

Huda.

Nehan.

Sebelas nama yang dulu hanya saya lihat di sebuah grup.

Sebelas wajah yang dulu masih terasa asing.

Dan sekarang mereka berdiri di depan saya, membawa sesuatu sebagai tanda terima kasih.

Saat itu saya tiba-tiba berpikir:

“Kapan ya, mereka jadi sedekat ini?”

Rasanya baru kemarin saya memperkenalkan diri sebagai mentor.

Baru kemarin kita masih canggung.

Baru kemarin saya masih mencoba menghafal nama kalian.

Tapi ternyata waktu sudah membawa kami sejauh ini.

Dan di momen itu saya sadar:

mungkin sebenarnya bukan kalian yang memberikan hadiah kepada mentor.

Mungkin justru kalianlah yang menjadi hadiah dalam perjalanan saya sebagai mentor.

Hadiah yang tidak bisa dibungkus.

Tidak bisa disimpan di lemari.

Tidak bisa dihitung harganya.

Tetapi bisa disimpan di dalam ingatan.

Sebab ada hal-hal yang nilainya baru kita sadari ketika kita tahu bahwa semuanya akan segera menjadi masa lalu.

Kalau Suatu Hari Kalian Membaca Ini

Teman-teman Kelompok 11 Fatimah Al-Fihri,

kalau suatu hari nanti kalian membaca tulisan ini, saya ingin kalian tahu satu hal:

Saya bangga kepada kalian.

Bukan karena kalian menang.

Bukan karena kalian menjadi kelompok terbaik.

Bukan karena kalian memenuhi semua ekspektasi.

Saya bangga karena kalian berjuang.

Saya bangga karena kalian mau belajar.

Saya bangga karena sebelas karakter yang berbeda itu ternyata bisa saling melengkapi.

Dan saya bangga karena kalian telah memberikan saya kesempatan untuk mengenal kalian.

Saya pernah mengatakan kepada kalian bahwa saya sering bercerita kepada teman-teman saya tentang betapa luar biasanya mentee saya.

Itu bukan sekadar candaan.

Saya memang sering merasa bangga ketika menceritakan kalian.

Karena bagi saya, kalian bukan sekadar nama-nama yang pernah masuk dalam daftar mentee.

Kalian adalah sebelas cerita yang pernah saya saksikan dari jarak dekat.

Saya melihat kalian ketika masih canggung.

Saya melihat kalian ketika mulai berani.

Saya melihat kalian ketika kebingungan.

Saya melihat kalian ketika tertawa.

Saya melihat kalian ketika berusaha.

Dan saya melihat kalian ketika akhirnya mulai menjadi satu.

Mungkin saya tidak selalu mengatakan semuanya.

Mungkin ada banyak hal yang belum sempat saya sampaikan.

Tetapi percayalah, saya memperhatikan kalian.

Dan saya menyimpan banyak hal kecil tentang kalian yang mungkin kalian sendiri sudah lupa.

Jangan Takut dengan Jalan yang Panjang

Setelah PBAK, perjalanan kalian sebenarnya baru dimulai.

Akan ada banyak orang baru yang kalian temui.

Akan ada banyak kesempatan.

Akan ada organisasi.

Akan ada tugas yang membuat pusing.

Akan ada nilai yang tidak sesuai harapan.

Akan ada kegagalan.

Akan ada keberhasilan.

Akan ada hari ketika kalian merasa sangat yakin.

Dan mungkin akan ada juga hari ketika kalian mempertanyakan diri sendiri.

Kalau hari itu datang, jangan buru-buru merasa bahwa kalian tidak mampu.

Teruslah bertumbuh.

Teruslah belajar.

Jangan takut gagal.

Jangan malu untuk memulai lagi.

Dan jangan merasa tertinggal hanya karena perjalanan kalian berbeda dengan orang lain.

Kalian tidak harus menjadi sama untuk bisa berjalan bersama.

Justru perbedaan kalianlah yang pernah membuat Kelompok 11 menjadi seperti ini.

Saling melengkapi, bukan saling menyeragamkan.

Dan kalau suatu hari nanti hidup terasa terlalu berat, ingatlah:

Kalian pernah menjadi bagian dari sebuah kelompok yang mengajarkan bahwa perjalanan akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama.

Sebelas Orang Asing, Satu Rumah

Mungkin suatu hari nanti nama Fatimah Al-Fihri tidak lagi sesering terdengar.

Kita akan memasuki semester-semester berikutnya.

Kita akan sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Ada yang mengejar akademik.

Ada yang aktif organisasi.

Ada yang membangun relasi.

Ada yang mengejar mimpi.

Mungkin suatu hari nanti kita bahkan tidak lagi bisa berkumpul selengkap ini.

Dan mungkin grup yang dulu hampir tidak pernah sepi akan mulai lebih sering diam.

Tidak apa-apa.

Saya tidak ingin memaksa waktu untuk berhenti.

Saya hanya ingin mengabadikan satu bagian kecil dari perjalanan kita sebelum semuanya semakin jauh.

Karena saya tahu, manusia sering kali baru sadar betapa berharganya sebuah masa setelah masa itu benar-benar berlalu.

Mungkin nanti kita akan membuka kembali foto-foto ini.

Kita akan tertawa melihat wajah kita.

Mungkin kita lupa beberapa detail dari PBAK.

Mungkin kita lupa siapa yang pertama kali mengusulkan sesuatu.

Mungkin kita lupa percakapan-percakapan kecil yang dulu terasa penting.

Tetapi saya berharap kita tidak pernah lupa pada perasaan yang pernah ada.

Perasaan ketika sebelas orang asing perlahan menjadi dekat.

Perasaan ketika sebuah kelompok mulai terasa seperti rumah.

Perasaan ketika kita tahu bahwa ada orang-orang yang akan membantu ketika kita kesulitan.

Dan perasaan ketika akhirnya kita sadar:

“Ternyata perjalanan ini sudah selesai.”

Kalau suatu hari nanti kalian sudah berada jauh di depan, sudah menjadi orang-orang hebat dengan kehidupan kalian masing-masing, saya harap kalian tidak lupa menoleh sebentar.

Lihatlah ke belakang.

Di sana pernah ada sebelas orang.

Pernah ada tawa.

Pernah ada perjuangan.

Pernah ada kekacauan kecil.

Pernah ada yel-yel.

Pernah ada FGD.

Pernah ada makan siang.

Pernah ada hadiah.

Pernah ada seorang mentor yang mungkin terlalu cerewet.

Dan pernah ada sebuah kelompok bernama Fatimah Al-Fihri.

Saya tidak tahu apakah kelak kita akan tetap sedekat sekarang.

Saya tidak tahu berapa banyak pertemuan lagi yang akan kita punya.

Saya bahkan tidak tahu apakah suatu hari nanti kita semua masih bisa berkumpul dalam satu foto yang sama.

Tetapi saya tahu satu hal.

Saya pernah mengenal kalian.

Dan saya bersyukur pernah berada di satu fase kehidupan bersama kalian.

Kalian pernah menjadi mentee saya.

Tetapi rasanya, setelah semua yang kita lewati, kata itu sudah tidak cukup untuk menggambarkan hubungan ini.

Kalian adalah bagian dari cerita saya.

Dan saya berharap, di suatu tempat dalam perjalanan hidup kalian nanti, saya juga pernah menjadi bagian kecil dari cerita kalian.

Jadi kalau nanti ada yang bertanya kepada saya,

“Apa yang paling kamu dapat dari menjadi mentor PBAK?”

Saya tidak akan menjawab tentang pengalaman memimpin.

Saya tidak akan menjawab tentang bagaimana saya mengajarkan kalian sesuatu.

Saya mungkin hanya akan tersenyum dan berkata:

“Saya pernah dipertemukan dengan sebelas orang asing, lalu tanpa sadar mereka menjadi rumah.”

Dan mungkin itulah alasan mengapa saya menulis semua ini.

Bukan untuk membuat kalian sedih.

Bukan untuk membuat kalian merasa harus terus berada dalam satu lingkaran.

Tetapi supaya suatu hari nanti, ketika waktu sudah membawa kita terlalu jauh, kalian punya sesuatu untuk mengingat:

bahwa pernah ada masa ketika kita saling memiliki waktu.

Pernah ada masa ketika kita tertawa tanpa memikirkan bahwa suatu hari tawa itu akan dirindukan.

Pernah ada masa ketika kita berkumpul tanpa sadar bahwa suatu hari kita akan berharap bisa kembali ke masa itu.

Dan pernah ada masa ketika seorang mentor merasa sangat bangga kepada sebelas orang yang awalnya bahkan tidak ia kenal.

Terima kasih, Rafiq.

Terima kasih, Yaya.

Terima kasih, Ucii.

Terima kasih, Rafi.

Terima kasih, Israr.

Terima kasih, Yunus.

Terima kasih, Jylan.

Terima kasih, Asma.

Terima kasih, Dini.

Terima kasih, Huda.

Terima kasih, Nehan.

Terima kasih sudah menjadi Kelompok 11.

Maaf jika selama menjadi mentor ada perkataan yang terlalu keras, sikap yang kurang berkenan, atau candaan yang mungkin pernah menyakiti.

Tidak pernah ada niat untuk menjatuhkan.

Kalau saya pernah terlalu banyak menuntut, mungkin karena saya melihat sesuatu dalam diri kalian yang saya percaya bisa tumbuh lebih besar.

Dan setelah ini, jangan padamkan api semangat kalian.

Perjalanan kalian masih panjang.

Akan ada banyak medan yang harus kalian lewati.

Banyak pintu yang harus kalian ketuk.

Banyak kegagalan yang harus kalian hadapi.

Tetapi saya juga percaya, akan ada banyak keberhasilan yang suatu hari nanti kalian rayakan.

Dan ketika hari itu tiba—

rayakanlah.

Rayakan dengan orang-orang yang pernah percaya kepada kalian.

Rayakan dengan orang-orang yang pernah berjalan bersama kalian.

Dan kalau memungkinkan, semoga suatu hari nanti kita bisa duduk bersama lagi.

Makan bersama.

Bercerita tentang kehidupan.

Tertawa mengingat masa lalu.

Lalu seseorang mungkin berkata,

“Ingat nggak dulu kita Kelompok 11?”

Dan kita semua tertawa.

Karena ternyata ada beberapa kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya menunggu kita untuk mengingatnya kembali.

PBAK boleh selesai.

Jarak boleh datang.

Kesibukan boleh memisahkan.

Tetapi semoga keluarga ini tidak pernah benar-benar kehilangan jalan untuk pulang.

Sebab bagi saya, Fatimah Al-Fihri bukan sekadar nama sebuah kelompok.

Ia adalah sebuah rumah kecil yang pernah Tuhan titipkan di tengah perjalanan saya.

Rumah yang saya temukan tanpa pernah mencarinya.

Rumah yang mungkin tidak akan selalu ramai.

Tetapi pernah membuat saya merasa sangat bahagia berada di dalamnya.

Dan kalau suatu hari nanti kalian bertanya,

“Mentor, apakah kami akan dilupakan?”

Jawaban saya sederhana:

Tidak.

Karena bagaimana mungkin saya melupakan sebelas orang yang pernah mengajarkan saya bahwa menjadi mentor ternyata bukan hanya tentang membimbing seseorang untuk tumbuh.

Kadang, kita juga tumbuh karena mereka.

Untuk kalian, sebelas menti yang pernah saya banggakan:

Teruslah berjalan.

Teruslah bertumbuh.

Teruslah menjadi versi terbaik dari diri kalian.

Dan ke mana pun jalan membawa kalian nanti—

jangan merasa sendirian.

Karena kalian pernah punya kami.

Dan kami pernah punya kalian.

Keep Hamasah, Fatimah Al-Fihri. 🔥

— Dari seorang mentor yang awalnya datang untuk membimbing, tetapi akhirnya pulang dengan membawa sebelas cerita di dalam hatinya.