Arogansi Mengembangkan “Kebinatangan”

Pengajar FH Universitas Islam Malang dan penulis buku Hukum dan Agama
Tulisan dari Abdul Wahid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Abdul Wahid
Pengajar Fakultas Hukum dan Progam Pascasarjana Universitas Islam Malang serta penulis buku hukum dan agama
Kondisi paradoksal seringkali bisa kita baca. Kita yang mengerti jalan kebaikan dan kebenaran belum tentu memilih dan menyukai jalan ini. Terbukti, segala hal yang kita asumsikan mampu memberikan kepuasan hidup di dunia, apapun kepuasan itu, terus saja kita buru atau kejar tanpa kenal lelah.
Kita yang mengikuti “madzhab” seperti itu bisa menjerumuskan diri sehingga berlaku radikalistik-kriminalistik dengan cara melakukan dan bahkan mengembangkan pola “kebinatangan”, yang diantaranya larut dalam perburuan tajam dan bahkan bisa jadi saling menikam sana-sini.
Tuntutan kepuasan atau lesenangan membuat kita itu bisa terjerumus dalam pilihan hidup yang makin keji dan menghancurkan. Sejumlah orang yang tidak berdosa bisa korban atas pemilihan dan pemujaan kesenangan dan arogansi (kecongkakan) duniawi. Kita yang menahbiskan kesenangan identik dengan mengharuskan diri untuk menyusahkan atau “membinatangkan” kehidupan makhluk Tuhan di muka bumi. Hal ini berarti kita merasa bangga bisa mengembangkan pemerataan dehumanisasi.
Kita yang terperosok itu ibarat menjalani hidup dalam kekuasaan kesenangan duniawi atau cengkeraman sektor tertentu yang kita nilai eksklusif dan menguntungkan. Cengkeraman demikian membuat kita bisa makin terperosok pada banyak aspek yang bersifat destruktif humanistik, seperti memilih jalan mereduksi secara sistematis atau mendestruksi diri sendiri maupun sesama secara insidental maupun terus menerus.
Umul Mu’minin Zainab RA suatu saat bertanya pada Nabi Muhammad SAW. Zainab, “apakah kita akan binasa di tengah-tengah orang-orang jahat atau mun¬culnya Ya’juj Ma’juj, sedangkan diantara kita masih ada orang-orang saleh”? “Ya”, jawab Nabi, bilamana terdapat banyak kejahatan (kekejian).
Doktrin Nabi itu mengajarkan mengenai rumus hubungan sebab akibat (kausalitas) yang memosisikan hubungan antara kebinasaan dan kehancuran yang menimpa kita dengan perilaku kriminal massif (meluas) yang kita lakukan dan kembangkan.
Seseorang atau komunitas kriminalistik memang bisa muncul di tengah masyarakat, di dalam diri umat beragama, diantara pilar negara, diantara anak-anak, diantara isteri-isteri, diantara suami-suami, diantara pemimpin-pemimpin, dan di dalam perbuatan-perbuatan kita, termasuk yang menyebut dirinya sebagai kumpulan manusia beragam.
Para kriminalis bisa menjadi diri atau “sangat hidup” dalam kita dna keluarga, mengendalikan dan menguasai kaum berdasi, kaum beragama, atau siapapun yang menyukai dunia kapitalistik, atau siapapun yang lebih suka memilih dan membenarkan jalan penyingkiran norma-norma kebaikan dan kebenaran.
Masifnya pelanggaran moral seperti masih dapat hidupnya “industri” perilaku dan kultur ketidakadaban di negeri ini bisa mendorong Allah SWT mengirimkan hukuman yang setimpal (adil) dan masif, diantaranya dalam bentuk disharmonisasi kehidupan kita. Covid-19 hanya salah satu jenis virus yang dieksaminasikanNya untuk “menggangu” kemapanan arogansi kita, khususnya arogansi dalam mengembangkan “kebinatangan”.
Allah sebenarnya tidak serta merta menjatuhkan eksaminasi seperti tereduksi dan terdegradasinya marwah umat beragama, kalau saja perilaku manusia tidak demikian terperosok dalam pemujaan arogansi dehumanitas yang diwujudkannya dalam bentuk perilaku animalistik-dehumanistik dan memperluas berbagai bentuk “kebejatan mengerikan” dimana-mana.
Pemikir kenamaan Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an Pemeluk Islam yang tidak mampu memberikan solusi pada persoa¬lan moral dan kemanusiaan tidak akan punya masa depan yang cerah. Pemikiran Rahman ini mengisyaratkan bahwa hidup seseorang atau manusia itu ditentukan lewat jenis perilaku, prestasi etik dan praksis amaliah sosialnya yang bertujuan dan berorientasi pada pembaruan dan pencerahan harkat kehidupannya.
Rahman itu juga mengingatkan, bahwa hidup itu harus punya idealitas agung. Untuk sampai pada suatu tujuan, haruslah ada proses pembentukan atau penguatan kepribadian kita, sehingga hidup kita menjadi terarah, dan tidak memberi tempat berdaulat ajakan setiap kriminalis yang bermaksud mengembangkan ragam kebiadaban (”kebinatangan”).
Fakta memprihatinkan kita lebih sering tidak kita sembuhkan. Terbukti, sudah sekian banyak diantara kita tersesat dalam kehidupan akibat memilih jalan yang salah (“membinatangkan”). Setiap diri ini memang berhak mencari kesenangan dalam hidup ini, namun jika terus menerus digunakan untuk mengokohkan arogansi hedonistik dan materialistik, apalagi yang bercorak ingin mendapatkan kepuasan dan menyukai kebiadaban berkelanjutan, maka rentan menghacurkan (memunahkan) diri dan peradaban. Virus yang melebihi Covid-19 bukan tidak mungkin dieksaminakanNya lagi.
Keteguhan dalam etika luhur atau pribadi mulia harus diusahakan dan kembangkan terus kita jaga. Bilamana keteguhan pada nilai-nilai moral bisa kita tegakkan, maka hal ini merupakan modal besar untuk layak disebut beragama yang “sehat” dalam konstruksi bermasyarakat dan bernegara yang menjaga keadaban, menyelamatkan dan membahagiakannya.
