Konten dari Pengguna

Jangan Ada Drakula Lagi Diantara Kita

Abdul Wahid

Abdul Wahid

Pengajar FH Universitas Islam Malang dan penulis buku Hukum dan Agama

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Wahid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar drakula
zoom-in-whitePerbesar
gambar drakula

Oleh: Abdul Wahid

Mencari orang baik diantara kita ini banyak. Kita memang harus berprasangka kalau banyak sububyek bangsa ini yang masih teguh dalam menjunjung tinggi norma etika dan hukum. Kita juga harus memberikan kepercayaan yang lebih leluasa pada kader-kader muda kalau mereka akan bisa memberi yang terbaik pada negeri ini, melebihi yang dilakukan orang-orang baik diantara kita.

Meski begitu, kita juga tidak boleh menutup mata dari setiap perilaku subyek bangsa, khususnya yang berada di lini kekuasaan, apapun jenis kekuasaannya, bahwa ada diantaranya yang mesti berupaya menjerumuskan dirinya jadi “pesulap” atau oknum perekayasa dan pengubah secara halus hingga “radikalistik” hal-hal yang semula harus ditegakkan sebagai kebenaran dan kepastian, yang kemudian diubahnya menjadi keuntungan yang bersifat pribadi, keluarga, dan golongan.

Itu semua tidak lepas dari riwayat kendalan “oknum” yang pernah memberikan pelaharan besar pada bangsa ini, bahwa namanya kaum pesulap ini sudah sukses menciptakan banyak lorong kegelapan, yang mengakibatkan rakyat mengalami kerugian besar secara ekonomi dan masa depannya.

Jika mereka itu disandingkan dengan pesulap ternama semacam David Copervield, boleh jadi pesulap kita masih lebih unggul kualitas sulapannya, pasalnya mereka punya nalar kuat, imajinasi hebat, dan mampu menciptakan lorong-lorong atau bungker-bungker yang tepat untuk mengamankan dan bahkan meregulasi jaringan “tikus”, menciptakan kekacauan pasar, atau merubah pasar layaknya ajang pertarungan para serigala.

Sosiolog kenamaan asal UGM, Loeqman Sutrisno (almarhum) sudah pernah menempatkan jaringan “tikus” kekuasaan itu sebagai penyebab lahirnya dan menguatnya negeri ini menjadi “republik drakula” (republic of vampire), pasalnya mulai dari jabatan yang paling rendah hingga yang paling tinggi (di lingkaran lembaga strategis negara) telah dijadikan ajang atau pestanya komunitas vampire atau “tikus” yang bernafsu memperkaya diri dan memapankan jaringan penghisapan atau penggerogotannya.

Perilaku “menari” atau pesta kriminalisasi dan dehumanisasi di atas penderitaan dan ketidakberdayaan masyarakat tidak boleh semakin marak, pasalnya di tengah kondisi demikian, praktik dehumanisasi ibarat “tsunami” yang bisa memporak-porandakan keberlanjutan hidupnya. Masyarakat yang sudah tidak berdaya dibuatnya semakin terpuruk ke kubangan penderitaan yang lebih dalam.

Setidaknya ada ada dua hadis yang seringkali digunakan oleh pendakwah dalam mengajak masyarakat untuk saling mencintai, menyanyangi, dan memanusiakan, serta menjauhi gaya menyakiti (mengkriminalisasi) yang lainnya. Pertama, “'Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya seperti apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.'' Kedua, 'Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencitai. Maukah saya tunjukan satu cara yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam.'' (HR Muslim).

Landasan moral-spiritual tersebut mendidik kita, bahwa setiap manusia di muka bumi ini, apalagi yang berstatus pejabat (birokrat) tidak hanya hidup untuk dirinya, keluarganya, dan kelompok eksklusifnya, tetapi juga untuk bangsa, negara, dan sesama manusia, terlebih jika sesama manusia ini sedang diuji oleh problem ekonomi bangsa. Mereka wajib dialinasikan dari tangan-tangan jahat yang bergerilya atau ”menari” di atas penderitaannya, sebaliknya wajib mengobarkan prinsip pemanusiaan egaliter.

. Membangun keberdayaan social bukan hanya menentukan kemulian derajat kita di sisi Tuhan, tetapi juga kemuliaan di mata sesame manusia. Ketika kemuliaan hidup gagal ditegakkan di tengah kehidupan sesama ini, maka gagal pula meraih keningratan derajat di sisiNya. Tuhan memberi prioritas penghargaan terhadap dimensi pengabdian atau kejuangan kemanusiaan yang dilakukan dan disemainkan manusia.

Standar yang umumnya digunakan setiap manusia adalah syahwat mencintai diri sendiri atau kecenderungan manusia dalam mencintai dirinya sangatlah besar dibandingkan mencintai orang lain. Syahwat demikian wajib dikalahkan jika berobesi mewujudkan kebahagiaan egalitarian.

Ketika manusia cenderung mengabsolutkan dirinya, atau bisa demikian kuat mencintai ambisi, gaya hidup, atau model pergaulannya di antara komunitasnyanya, maka Tuhan meminta rasa kecintaan pada diri sendiri dan komunitas eksklusifinya ini dikalahkannya dengan cara “dilabuhkan”, disitribusikan, atau ditransfer menjadi komitmen yang membumi pada sesamanya.

Tuhan yang menuntut manusia untuk bisa “menyebarkan salam” kepada manusia lain dapat ditafsirkan secara hermeneutik sebagai perintah moral-humanistik dan universalistik, bahwa tugas manusia dalam hubungannya dengan manusia atau bangsa lain adalah menghadirkan dan membangun keselamatan, kesenangan, dan kebahagiaan, dan bukannya mengagrekasikan dan memproduk berbagai bentuk kriminalisasi baik berkendaraan maupun bertujuan mendapatkan uang.

Pengajar ilmu hukum dan pascasarjana Universitas Islam Malang serta penulis sejumlah buku