Konten dari Pengguna

Wong Cilik Dalam Filosofi Semut

Abdul Wahid

Abdul Wahid

Pengajar FH Universitas Islam Malang dan penulis buku Hukum dan Agama

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Wahid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Abdul Wahid

Pengajar Universitas Islam Malang dan penulis buku

Ilustrasi semut minta hujan. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi semut minta hujan. Foto: Shutter Stock

Setiap peristiwa di masa lalu, apalagi di zaman Nabi, pastilah mengandung filosofi edukasi (kependidikan) bagi umat. Filosofi ini berelasi dengan pendidikan karakter masyarakat (bangsa). Siapa saja yang berusaha mempelajari dan meneladaninya, akan mendapatkan kemanfaatan besar. Nilai kebermaknaan dibalik peristiwa kesejarahan merupakan investasi moral yang jika siapa pun mengimplementasikannya, akan menjadi pilar sejati bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Al-kisah, Nabi Sulaiman mengajak tentaranya untuk berkeliling negeri guna mengetahui keberadaan rakyatnya. Nabi Sulaiman rutin melakukan “wisata kerakyatan” untuk melihat dan membaca secara konkret problem yang dihadapi oleh rakyatnya.

Suatu ketika, Raja Semut yang melihat Nabi Sulaiman dan tentaranya berkeliling itu, lantas memerintahkan rakyatnya (warga semut) untuk menyelamatkan dan menghindarkan diri supaya tidak sampai terinjak-injak.

“Kaumku, segera mencari perlindungan dari tentara Sulaiman”, demikian perintah Raja Semut.

“Kenapa harus menghindar wahai raja?” tanya semut.

“Tentara Sulaiman itu tidak mengetahui kalau ada hewan sekecil kita yang berjalan ke sana-ke mari, sehingga harus dari kita sendiri yang berusaha mencari selamat”, jawab Raja Semut. (Imam KH, 2006)

Mendengar dialog Raja semut dan rakyatnya itu, Nabi Sulaiman tersenyum dan kemudian memerintahkan kepada tentaranya untuk menjaga kelestarian alam, tidak melakukan perusakan, dan menabur kezaliman kepada makhluk hidup lainnya. Nabi Sulaiman juga memerintahkan supaya manusia selalu membaca, bahwa yang butuh hidup, tumbuh, berkembang, dan keselamatan bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya, termasuk semut.

Kalau dikaji dari sudut filosofinya, semut merupakan gambaran dari hewan terkecil, yang tentu saja secara alamiah berada dalam kerentanan jika harus berhadapan dengan hewan-hewan lainnya yang lebih besar, apalagi dengan makhluk bernama manusia yang dikaruniai kelebihan akal. Kelebihan akal bagi manusia, yang seharusnya menjadi pendidik utama di muka bumi, lebih sering gagal difungsikannya akibat dilindas oleh arogansinya.

Sebagai makhluk terkecil saja, semut butuh tempat untuk hidup, melestarikan keturunan, dan menikmati karunia Tuhan. Guna mewujudkan cita-citanya ini, semut secepatnya mengambil keputusan menyelamatkan atau melindungi “hak asasinya” dari kemungkinan bahaya yang mengancam dan potensial membunuhnya.

Semut menilai, boleh jadi tentara Nabi Sulaiman (manusia) tidak melihat dan mengetahui kalau dibalik goa, rimbunan pohon, semak belukar, dan kawasan hutan, terdapat makhluk hidup lain yang butuh menunjukkan “eksistensinya”, sehingga semut mengambil keputusan menghindari “terjangan” kaki-kaki perkasa manusia yang akan melewati kerumunannya.

Pilihan yang dijatuhkan Raja semut itu selayaknya dijadikan pelajaran berharga bagi setiap manusia, bahwa sekelas semut saja bisa mengevaluasi perilaku manusia yang potensial berbuat alpa dan menyebar kezaliman. Pilihan yang dijatuhkan “warga” semut ini sebagai kritik kepada manusia supaya setiap aktivitas yang dilakukannya selalu diikuti dengan prinsip kehati-hatian.

Prinsip kehati-hatian itu diarahkan untuk menjaga keseimbangan kehidupan dirinya, sesamanya, maupun makhluk hidup lainnya di muka bumi. Semut sebagai cermin “warga terkecil” telah menuntut perlindungannya dari kemungkinan perilaku manusia liar, tak terkontrol, atau zalim. Kalau dari dimensi “terkecil” ini saja manusia gagal menunjukkan keluhuran atau keagungan budinya, bagaimana mungkin manusia bisa menunaikan tugas yang lebih besar dalam hidupnya.

Manusia di Indonesia ini tergolong sebagai manusia yang mengidap “kemiskinan” kewaspadaan atau kehati-hatian. Banyaknya nyawa manusia melayang sia-sia di jalan raya adalah tak lepas dari ketidak hati-hatian yang dilakukannya. Manusia yang seharusnya menjadi penyayang di jalan raya saat jadi pengemudi, justru tergelincir jadi penjagal nyawa manusia lainnya.

Begitu pun, kehancuran sumber daya alam dan semakin punahnya binatang-binatang yang seharusnya berada dalam perlindungan negara, adalah bukti kegagalan manusia dalam mengelola hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Manusia tidak mau belajar dari aspek terkecil yang menuntut perhatian atau perlindungannya, sehingga ketika manusia berhubungan dengan kepentingan besar yang menuntut tanggungjawabnya, manusia justru mencederainya.

Manusia bukannya menunjukkan peran-peran yang bersahabat dan “bermesraan” dengan alam, tetapi bercorak merusak dan menghancurkannya. Sumber daya alam sebagai penyangga besar masyarakat dan bangsa justru diperlakukan menjadi urusan kecil yang sah diabaikannya.

Jika dikaji dari sudut kepentingan semut yang memilih menyelamatkan diri dari bahaya yang mengancamnya, semestinya manusia merasa ditantang untuk menyemaikan gerakan positif yang bercorak mewujudkan perlindungan terhadap makhluk hidup lainnya di muka bumi.

Semut sudah menantang manusia untuk berlaku waspada atau penuh kehati-hatian saat mengayunkan langkah-langkahnya supaya tidak menabur petaka di tengah masyarakat atau memproduksi “banjir bencana” di muka bumi. Manusia diingatkan atau dididik oleh semut supaya menjadi pelaku sejarah yang tidak gampang memproduksi perilaku merusak dan berdarah, melainkan giat menunjukkan pola berperilaku yang humanistik, membangun relasi berkeadaban, dan saling menghormati (memanusiakan).

Beberapa kali kasus banjir bencana di negeri ini adalah tidak lepas dari kegagalan manusia dalam menerjemahkan filosofi dialog semut. Terbukti apa yang diperbuatnya dicondongkan atau dimoduskan untuk merebut, menginjak, menguasai, dan mengorbankan, dan bukannya menyelamatkan, membahagiakan,dan menyenangkan sesama manusia atau makhluk hidup lainnya.

.