Coding: Hal yang Bikin Kaget Saat Pertama Kali Masuk Dunia Kerja IT

Software Engineer & Student at UMT
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Abdurozzaq Nurul Hadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masuk ke dunia programming sebagai developer perusahaan itu seperti pindah ke dunia baru. Teruntuk seseorang yang baru switch karier dari industri lain—entah dari administrasi, finance, marketing, atau bahkan desain—sering kali ekspektasi tidak sejalan dengan realita.
Awalnya terlihat keren: bisa kerja remote, fleksibel, gaji naik cepat, dan dikelilingi orang “techy”. Namun ternyata, ada banyak hal yang membuat mindblowing. Berikut beberapa hal yang paling sering bikin kaget developer baru.
“Jam Kerja Fleksibel”: Kerja Kapan Pun Dibutuhkan
Banyak perusahaan IT bilang mereka punya jam kerja fleksibel. Namun, fleksibel untuk siapa? Pekerjaan memang bisa dimulai dari jam 10 pagi, tapi bukan berarti selesai jam 5 sore. Kadang, ada situasi di mana pekerja lanjut sampai tengah malam.
Alasannya beragam, mulai dari adanya bug critical saat sistem live, klien minta revisi secara mendadak, server down, dan tentunya hal tersebut membuat semua mata tertuju pada tim developer.
Jadi, fleksibilitasnya bukan “kerja kapan aja kamu mau”, tapi “kerja kapan pun dibutuhkan”.
Deadline Datang seperti Badai Malam
Satu hal yang bikin banyak developer baru kaget, “Kenapa semua orang di tim masih aktif jam 11 malam?” Jawabannya sederhana, yaitu deadline.
Semua hal bisa datang di waktu yang paling tidak masuk akal: proyek baru, feature urgent, atau bug fix saat menjelang demo.
Untuk deploy patch kecil (tapi krusial), pekerja IT bisa tiba-tiba buka laptop saat malam hari, weekend, bahkan ketika sedang nongkrong.
Bug Tidak Kenal Jam Kerja
Hal ini klasik, tapi nyata adanya. Bug bisa muncul kapan saja—jam 9 pagi, 6 sore, bahkan jam 12 malam saat istirahat.
Notifikasi Slack atau WhatsApp muncul, “Bro, sistem checkout error, gak bisa bayar.”
Pada akhirnya, notif itu buat kamu bangun, nyalain laptop, buka terminal, dan mulai tracing log dengan setengah sadar.
Bagi sebagian developer, ini bagian dari “heroic moment”, tapi bagi yang baru, ini bisa jadi shock culture besar.
Skill Coding Bukan Cuma Satu Bahasa
Di kampus atau kursus, kamu mungkin fokus di satu bahasa: PHP, Python, atau JavaScript.
Namun di dunia kerja? Kamu bisa diminta berbagai hal.
Backend pakai Laravel (PHP)
Frontend pakai Vue.js atau React
Styling pakai Tailwind atau Bootstrap
Query di PostgreSQL + Redis + MongoDB
Setup pipeline di GitHub Actions / Jenkins
Deploy di Docker + Nginx + Ubuntu Server
Satu project bisa melibatkan 3 bahasa dan 5+ tools berbeda. Tentunya, semua itu harus cukup dalam dipahami agar dapat bekerja sama dengan tim lain.
Jobdesc Developer: Campur Aduk
Di banyak startup (terutama early stage), developer dapat diartikan serba bisa. Mungkin di deskripsi kerja, kamu direkrut hanya sebagai “Web Developer”, tapi realitanya, kamu direkrut sebagai coding frontend dan backend, setup server (DevOps), testing manual (karena belum ada QA), training user setelah rilis, dan terkadang ikut bantu customer support.
Developer sering jadi orang pertama yang ditelepon kalau ada error atau kebingungan dari user. Bisa dibilang bahwa developer bukan cuma nulis kode, tapi juga jadi problem solver full time.
Dokumentasi? Kadang Hanya di Kepala Senior
Banyak yang kaget saat sadar dokumentasi project itu nggak selalu lengkap, apalagi di startup kecil di mana sering ada “legacy system” tanpa README jelas.
Tentunya, kamu harus debugging sambil reverse-engineering, menebak flow code, dan berharap commit message bisa kasih petunjuk.
Meeting Bisa Lebih Lama dari Coding
Developer sering mengira bahwa kerja mereka sebagian besar adalah coding. Namun kenyataannya, ada hari di mana waktu kamu dihabiskan untuk daily stand-up, sprint planning, client meeting, retrospective, atau sync antardivisi.
Kadang seharian nggak buka VSCode sama sekali, tapi kepala udah panas mikirin progress yang harus dikejar.
Dunia Tech: Bergerak Lebih Cepat dari Semangat Istirahat
Framework rilis baru setiap beberapa bulan. Library update, API deprecated, syntax berubah.
Kalau tidak adaptif, kamu akan cepat ketinggalan.
Namun, justru di situ serunya—dunia tech buat seseorang untuk terus belajar; kadang terpaksa, tapi hasilnya tetap rewarding.
Ada Rewarding Di Balik Semuanya
Meskipun chaos, melelahkan, dan kadang bikin stres, dunia programming punya satu hal yang bikin nagih: kepuasan saat bug hilang dan sistem akhirnya jalan.
Setiap error yang berhasil diselesaikan adalah dopamine boost tersendiri. Dan di titik tertentu, kamu akan sadar, “Gue memang cocok di dunia ini.”
Dunia programming bukan tempat yang idealis dan indah seperti di iklan kursus coding. Namun di balik semua kejutannya, dunia programming terus menantang dan mengasah cara berpikir.
Kalau kamu baru mau mulai, satu pesan sederhana: Jangan takut chaos, tapi belajar untuk menikmati prosesnya. Karena di dunia developer, belajar adalah pekerjaan utama.
