Bayi 2 Minggu di Tengah Kepungan Asap Karhutla, BNPB: Akan Koordinasi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi bayi. Foto: Natalie Zepp Photography/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bayi. Foto: Natalie Zepp Photography/Shutterstock

Bayi berusia 2 minggu disebut terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan Tengah dan viral di media sosial.

Dalam unggahan yang beredar di media sosial Threads, bayi itu disebut seharusnya berada di dalam kamar dengan pendingin ruangan (AC) dan air purifier untuk mengurangi paparan asap karhutla.

Namun, kondisi itu terganggu akibat pemadaman listrik yang terjadi di wilayah tersebut.

Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pihaknya akan memantau informasi tersebut dan berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk PLN.

“Untuk adanya data yang tadi di media sosial tentu kami akan pantau, dan tentu kami juga akan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, apalagi dengan masalah listrik PLN untuk memastikan agar listrik tetap jalan apabila memang tidak ada hal-hal yang membahayakan ketika listrik untuk dijalankan,” kata Berton saat ditemui di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9).

Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). Foto: Nova Wahyudi/ANTARA FOTO

Berton menyayangkan kondisi tersebut. Ia mengatakan BNPB akan berkoordinasi dengan PLN dan dinas terkait untuk menyelesaikan persoalan kelistrikan yang berdampak terhadap warga di wilayah terdampak karhutla.

“Tentu ini patut kita sayangkan dan kita ikut prihatin, dan mudah-mudahan nanti kami bekerja sama dengan, koordinasikan dengan pihak PLN maupun dinas-dinas terkait untuk segera menyelesaikan permasalahan ini,” ujarnya.

Sementara dalam narasi yang beredar, bayi tersebut juga disebut tidak dapat berjemur pada pagi hari karena kondisi asap yang tebal di sekitar tempat tinggalnya.

Unggahan itu juga menyebut bayi tersebut tidak dapat dievakuasi ke luar pulau karena usianya yang masih sangat kecil.