Busana Sidang Tahunan MPR 2026 Tak Lagi Pakai Baju Adat: Kenakan PSL

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi gedung DPR RI. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gedung DPR RI. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengungkapkan konsep busana dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026.

Jika sebelumnya peserta sidang kerap identik mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, tahun ini peserta laki-laki akan mengenakan pakaian sipil lengkap (PSL), sementara peserta perempuan menyesuaikan.

“Enggak (pakai baju adat). Kita pakai ini, pakaian sipil lengkap untuk laki-laki, untuk perempuan menyesuaikan,” ujar Eddy di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (6/8).

Adapun tradisi mengenakan baju adat dalam Sidang Tahunan MPR RI dipopulerkan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo sejak 2017 sebagai untuk menggambarkan keragaman budaya Nusantara. Namun, penggunaan pakaian adat tersebut memang tidak pernah bersifat wajib.

Selain menjelaskan soal busana, Eddy memaparkan persiapan Sidang Tahunan MPR secara umum tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sidang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 14 Agustus 2026 atau tiga hari sebelum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.

“Untuk persiapan sama dengan yang kita lakukan di tahun-tahun lalu. Jadi tidak ada yang istimewa, memang hampir sama dengan tahun lalu bahwa pelaksanaannya dilaksanakan di bulan, akhir minggu, jadi hari Jumat. Jadi pelaksanaannya itu relatif dilaksanakan lebih awal, lebih pagi supaya kita bisa mengakhirinya sebelum salat Jumat,” ujar Eddy.

Eddy mengatakan pemilihan tanggal tersebut juga mempertimbangkan ketentuan pelaksanaan Sidang Tahunan MPR yang maksimal digelar tiga hari sebelum 17 Agustus.

“Kami memang kita tidak bisa melaksanakan itu di hari-hari sebelumnya, karena memang batasannya kan tiga hari dari tanggal 17 maksimalnya. Jadi memang tanggal 14 itu yang paling ideal. Itu pertama,” katanya.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Kamis (5/2/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan

Ia menambahkan, dari sisi persiapan tidak ada perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. MPR juga berencana mengundang seluruh presiden dan wakil presiden RI terdahulu, meski hingga kini undangan resmi belum dikirim.

“Dari segi persiapan tidak berbeda dengan tahun yang lalu dan sampai sekarang ini kita masih belum mendapatkan konfirmasi, dari misalkannya para kepala negara yang sebelumnya, presiden mantan presiden kita sebelumnya, wakil presiden yang sebelumnya itu juga pasti akan diundang. Tapu kita karena belum mengirimkan undangan tentu kita masih belum tahu. Tetapi semuanya akan diundang, itu. Seperti yang kita lakukan juga di tahun-tahun yang lalu,” ungkapnya.

Eddy mengatakan mekanisme penyampaian undangan kepada para mantan kepala negara juga akan dilakukan seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni disampaikan langsung oleh pimpinan MPR sebagai bentuk penghormatan.

“Kita seperti yang saya sampaikan tadi di tahun-tahun kemarin kita selalu mengundang para mantan presiden, para mantan wakil presiden dan karena undangannya belum kita kirimkan, tentu kita belum tahu kehadiran mereka seperti apa," ujarnya.

"Tetapi semuanya akan kita undang dan seperti biasa kita lakukan biasanya di antara pimpinan nanti ada yang keliling untuk menyampaikan itu secara langsung, itu bentuk penghormatan kami kepada para mantan kepala negara dan mantan wakil kepala negara kita. Jadi nanti pada saat kita sudah kirimkan tentu baru kita bisa dapatkan jawaban yang lebih definitif,” jelas Eddy.

Menurut Eddy, undangan tersebut saat ini masih dalam tahap finalisasi dan ditargetkan mulai dikirim pada pekan depan.

“Yes betul ini udah finalisasi, mudah-mudahan segera kita kirim,” pungkas dia.