Dasco Sebut Kunjungan Presiden ke Luar Negeri Disesuaikan Kebutuhan
·waktu baca 3 menit

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad merespons pernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Anies membela kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Dasco, masukan yang menyangkut substansi geopolitik memang patut dipertimbangkan sebagai bagian dari pengambilan kebijakan.
Namun, ia menilai kritik yang berfokus pada jumlah atau frekuensi kunjungan luar negeri Presiden tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan dan dinamika situasi yang sedang dihadapi pemerintah.
“Menurut saya kalau kemudian masukan soal substansi geopolitik, saya pikir saya setuju kalau itu kemudian dijadikan salah satu pertimbangan ya,” kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).
“Karena masukan-masukan yang bagus, tentunya mengapa tidak?” lanjutnya.
Meski demikian, Dasco mengingatkan bahwa aktivitas diplomasi Presiden Prabowo tidak bisa hanya diukur dari banyak atau sedikitnya perjalanan ke luar negeri.
“Tetapi tadi sudah disampaikan bahwa kalau kemudian frekuensi, saya pikir, sesuai dengan kebutuhan dan situasi pada saat ini, baik kemudian dinamika di dalam negeri, apalagi di luar negeri yang sangat mempengaruhi dinamika di dalam negeri tentunya yang terdampak,” ujarnya.
Menurut Dasco, Prabowo memiliki pertimbangan strategis tersendiri dalam menentukan agenda kunjungan luar negeri yang tidak bisa dibatasi dengan ukuran kuantitatif semata.
“Tentunya, Presiden, tadi sudah disampaikan, juga mempunyai strategi-strategi yang tentunya tidak bisa dibatasi dengan jadwal harus sekian kali-harus sekian kali. Karena itu dinamis,” kata Dasco.
“Dan kalau kita lihat kepergian Presiden ke LN itu juga dalam waktu yang singkat-singkat, seperlunya saja, kemudian membahas yang perlu-perlu, kemudian kembali,” sambung dia.
Menurut Dasco, terdapat pula situasi tertentu yang mengharuskan Presiden melakukan kunjungan secara mendadak karena perkembangan global yang membutuhkan respons cepat.
“Dan kalau kemudian dadakan, itu biasanya memang karena situasi yang memang harus membuat Presiden juga harus sesegera berangkat,” katanya.
Karena itu, Dasco mengajak seluruh pihak untuk menyampaikan kritik dan masukan yang berfokus pada substansi kebijakan.
“Jadi saya pikir hal-hal seperti itu, marilah kemudian kita memberikan masukan yang substansi dan itu pasti akan diberikan ruang,” ujar Dasco.
Ia menegaskan bahwa pembatasan terhadap jumlah maupun durasi kunjungan luar negeri Presiden bukanlah pokok persoalan yang substantif.
“Tetapi kemudian pembatasan-pembatasan, apalagi yang berkaitan dengan jumlah, waktu kunjungan, saya pikir itu tidak substantif,” tutupnya.
Adapun mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengkritik tingginya intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Kritik tersebut kemudian mendapat pembelaan dari mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui akun X pribadinya.
Anies menilai Dino merupakan diplomat yang memiliki pengalaman panjang dalam bidang hubungan internasional. Dalam unggahannya, Anies menyebut Dino bukan diplomat karbitan, serta bukan pula pejabat karbitan.
