Di Sidang Umum, Menlu Tegaskan RI Nyalon Anggota Dewan Keamanan PBB 2029-2030

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menlu Sugiono di Sidang Umum PBB ke-81, New York, Sabtu (26/9). Foto: YouTube United Nations
zoom-in-whitePerbesar
Menlu Sugiono di Sidang Umum PBB ke-81, New York, Sabtu (26/9). Foto: YouTube United Nations

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyebut Indonesia akan mendaftarkan diri menjadi Anggota Dewan Keamanan PBB periode tahun 2029-2030. Hal ini ia sampaikan langsung di hadapan para delegasi negara-negara dalam Sidang Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat pada Sabtu (26/9).

Mulanya, Sugiono menyebut Indonesia sudah banyak berkontribusi dalam penyelesaian konflik-konflik kawasan. "Kami telah menjadi salah satu penyumbang pasukan utama bagi misi pemeliharaan perdamaian PBB, menerjunkan personel ke misi-misi di seluruh dunia sejak tahun 1957,"

"Selama hampir dua dekade, pasukan pemelihara perdamaian Indonesia telah bertugas di bawah bendera PBB di Lebanon. UNIFIL mungkin akan memasuki babak terakhirnya, tetapi komitmen Indonesia tidak berakhir dengan misi tersebut," tambahnya.

Sugiono menegaskan, Indonesia akan terus berkontribusi dalam pengamanan-pengamanan konflik di dunia.

"Kami akan melanjutkan diplomasi kami melalui bantuan kemanusiaan, melalui pembangunan perdamaian, dan melalui keterlibatan di berbagai kawasan dan institusi," tutur dia.

Ia menyebut, semangat Indonesia inilah yang mendorong pendaftarannya menuju kursi Anggota Dewan Keamanan PBB periode 2029-2030.

"Bapak Presiden, dalam semangat inilah Indonesia mengajukan pencalonannya sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029–2030," ujar Sugiono.

"Komitmen kami jelas: Memupuk Persatuan, Memajukan Perdamaian. Memupuk persatuan berarti membangun kembali kepercayaan pada sistem multilateral dan menjaga saluran dialog tetap terbuka. Memajukan perdamaian menuntut kita untuk menjunjung tinggi hukum internasional dan memanfaatkan secara efektif instrumen-instrumen yang tersedia bagi kita," lanjutnya.

Sugiono mengatakan Indonesia akan bekerja untuk menjaga dialog tetap terbuka, membangun kesamaan pandangan, dan mengubah tanggung jawab bersama menjadi kerja sama praktis.

"Kami akan menjunjung tinggi Piagam PBB secara konsisten untuk mempertahankan perdamaian dan keamanan internasional. Kami akan membawa prinsip yang sama yang memandu kebijakan luar negeri kami untuk merangkul semua pihak dan menjaga ruang bagi kerja sama tetap terbuka," tambahnya.

Ia pun menyampaikan lagi apa yang pernah dikatakan oleh Presiden Prabowo Subianto.

"'Seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.' Pendekatan yang sama memandu keterlibatan Indonesia dengan semua mitra—melalui ASEAN, G20, D-8, BRICS, MIKTA, dan PBB. Indonesia akan mengulurkan persahabatan untuk mewujudkan kerja sama praktis," ujarnya.