Eks Relawan Prabowo-Gibran Kritik Narasi 'Pesimistis' Gerakan Sosial
·waktu baca 2 menit

Mantan Komandan Relawan Prabowo-Gibran, Haris Rusly Moti, menyorot narasi yang ia nilai pesimistis dari gerakan sosial yang belakangan tengah digaungkan di berbagai gerakan.
Haris menyatakan bahwa narasi seperti isu kebangkrutan negara hingga seruan meninggalkan rupiah sangat bertolak belakang dengan semangat kemandirian nasional. Menurutnya, hal ini tidak sejalan dengan sejarah gerakan sosial di era kemerdekaan yang justru membangun narasi kedaulatan.
"Jika kita perhatikan narasi Indonesia bangkrut, sale Indonesia, hingga buang rupiah, ini adalah narasi yang tidak sejalan dengan semangat kemandirian bangsa. Tradisi gerakan sosial kita semestinya menawarkan pandangan alternatif sebagai antitesis terhadap situasi yang menyimpang," ujar Haris, Minggu (14/6).
Haris melihat, arah kebijakan ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini berupaya menghidupkan kembali semangat kemandirian ekonomi. Ia mencontohkan langkah pemerintah yang fokus pada perbaikan sistemik, seperti pemberantasan kebocoran penerimaan negara, serta penekanan praktik under-invoicing dan transfer pricing.
"Ketika pengkritik menuntut pemberantasan korupsi, Presiden Prabowo melangkah lebih mendasar dengan membenahi kebocoran penerimaan negara. Ini adalah langkah konkret membangun ekonomi yang berdikari," tambahnya.
Terkait kritik terhadap berbagai program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pemberdayaan kampung nelayan, hingga pembangunan sekolah rakyat, Haris berpendapat bahwa kritik tersebut seharusnya tidak menyasar pada eksistensi programnya. Menurutnya, jika terdapat oknum yang melakukan penyimpangan, maka penegakan hukum terhadap oknum tersebut yang harus dikedepankan.
"Kami prihatin jika ada gerakan yang justru kontra terhadap kebijakan pro-rakyat. Menurut kami, jika ada pejabat yang korupsi dalam pelaksanaan program, maka korupsinya yang harus diberantas, bukan programnya yang dihentikan," tegas Haris.
Ia juga menilai, kritik yang hanya berfokus pada serangan pribadi terhadap Presiden justru mencerminkan kebuntuan gagasan. Ia menantang para pengkritik untuk menunjukkan kapasitas intelektual dengan menyajikan konstruksi kebijakan alternatif yang lebih substantif.
"Gerakan sosial yang konstruktif adalah yang mampu menawarkan solusi alternatif. Saya rasa, gerakan yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat luas akan sulit mendapatkan simpati publik," pungkasnya.
