Houthi Serang Bandara Riyadh, Tiga Orang Tewas

Milisi Houthi menyerang Bandara Riyadh, Arab Saudi, pada Kamis (8/10). Dilansir Reuters, sebanyak 3 orang tewas akibat serangan ini.
Serangan tersebut juga melukai beberapa orang, merusak pesawat Saudia Airlines, dan menyebabkan asap membubung di atas bandara. Akibatnya, sejumlah maskapai membatalkan penerbangan menuju ibu kota Arab Saudi itu, beberapa hari sebelum kota tersebut dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan besar para pemimpin industri minyak dunia.
Kelompok Houthi di Yaman diketahui meningkatkan serangan rudal ke Arab Saudi dan berupaya menutup wilayah udaranya di tengah perang yang semakin meluas akibat konflik AS-Iran.
Di sisi lain, serangan udara Arab Saudi menghantam target-target Houthi di ibu kota Yaman, Sanaa, pada Kamis malam hingga Jumat dini hari. Serangan itu merupakan bagian dari perang udara yang semakin intensif terhadap kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut.
Kampanye militer itu bertujuan membalikkan keuntungan teritorial yang baru-baru ini diraih Houthi, ancaman mereka terhadap pelayaran internasional, serta serangan terhadap Arab Saudi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pasukan pemerintah Yaman mengatakan telah menghancurkan tiga platform peluncur rudal yang digunakan Houthi. Koalisi tersebut memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap serangan yang menyasar warga sipil.
Houthi, yang telah mengepung pasukan pemerintah Yaman di Taiz, kota terbesar ketiga di negara itu, dan berupaya mempertahankan posisi mereka di pesisir Laut Merah dari serangan pasukan yang didukung Arab Saudi, sebelumnya telah menewaskan tiga orang melalui serangan terhadap sejumlah bandara di kerajaan tersebut pada awal pekan ini.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi mengatakan lalu lintas udara di Bandara Riyadh telah kembali normal. Situs pelacakan penerbangan Flightradar24 juga menunjukkan penerbangan berangsur kembali beroperasi, termasuk penerbangan dari sejumlah maskapai Timur Tengah.
Saudia Airlines mengatakan salah satu korban tewas dalam serangan pada Kamis merupakan karyawannya.
Pertempuran Sengit di Yaman
Perang saudara di Yaman dengan cepat menjadi medan pertempuran paling sengit dalam konflik regional yang lebih luas, yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Konflik tersebut berdampak penting terhadap pasar energi global. Houthi menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah dan pintu masuk selatannya, Selat Bab el-Mandeb. Situasi ini semakin menekan pasokan minyak dari kawasan Teluk, sementara Iran memblokir sebagian jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Bulan September lalu, Houthi melancarkan serangan kilat menyusuri pesisir Laut Merah di Yaman dan mengambil kendali penuh atas garis pantai di sekitar selat tersebut. Perkembangan ini mendorong Arab Saudi kembali terlibat dalam konflik yang telah lama mereda dan mendukung serangan balasan pasukan pemerintah.
Pada Senin, pasukan pemerintah berhasil merebut kembali wilayah di sekitar pesisir Bab el-Mandeb setelah serangan udara intensif Arab Saudi. Pertempuran di wilayah tersebut masih berlanjut.
Namun, pasukan Houthi juga berhasil memutus jalan utama yang menghubungkan Taiz—kota berpenduduk lebih dari 500.000 orang dengan garnisun yang terdiri dari ribuan petempur pro-pemerintah—melalui serangkaian kemajuan di kawasan pegunungan.
Kelompok tersebut telah berulang kali mengumumkan peluncuran rudal balistik ke Arab Saudi. Houthi menyatakan akan menutup wilayah udara Arab Saudi dan memperingatkan para pekerja di fasilitas minyak bahwa lokasi-lokasi tersebut juga akan menjadi sasaran serangan.
Arab Saudi tengah meminta bantuan dari Pakistan dan Turki, mitranya dalam pakta pertahanan bersama, untuk menangkal serangan Houthi. Riyadh juga mendorong dukungan yang lebih luas dari negara-negara sekutunya guna membantu membalikkan kemajuan teritorial yang telah diraih kelompok tersebut di Yaman.
