Kali Bekasi Menghitam dan Berbau, Warga Harap Cepat Ditangani

Kali Bekasi tampak kembali menghitam dan mengeluarkan bau menyengat pada Jumat (23/10). Kondisi yang terus berulang ini dinilai bukan hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berdampak terhadap pelayanan air bersih Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi.
Penurunan kualitas air baku dari Kali Bekasi membuat proses produksi di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Teluk Buyung terganggu. Akibatnya, suplai air bersih kepada pelanggan di sejumlah wilayah Kota Bekasi tidak dapat berjalan maksimal.
Melalui pemberitahuannya, Perumda Tirta Patriot menyampaikan bahwa saat ini pihaknya berupaya menjaga proses produksi dan distribusi air untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan.
Adapun wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Bekasi Utara, Bekasi Barat, Medan Satria, serta sebagian wilayah Kecamatan Pondok Gede, khususnya Jatibening.
Pelanggan di wilayah tersebut diimbau menampung air sebagai persediaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi pelanggan terdampak yang membutuhkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki, Perumda Tirta Patriot menyediakan layanan melalui WhatsApp Center di nomor 0878-7516-3845.
Persoalan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi telah menemukan indikasi pencemaran serius di sepanjang aliran Kali Cileungsi hingga Kali Bekasi. Hasil pemantauan lapangan dan pengujian laboratorium menunjukkan sejumlah parameter kualitas air melampaui baku mutu lingkungan.
Parameter yang ditemukan antara lain Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Dissolved Oxygen (DO), nikel terlarut, seng terlarut, tembaga terlarut, serta fecal coliform.
Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, sebelumnya menyampaikan bahwa hasil pengujian tersebut menunjukkan adanya pencemaran yang berpotensi menurunkan kualitas air sungai.
Temuan di lapangan juga menunjukkan air di sekitar Cluster Richmond, Kota Wisata, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau menyengat.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup serta Penegakan Hukum DLH Kota Bekasi, Wulan Agustina, sebelumnya menyebut kondisi pencemaran Kali Bekasi masuk kategori berat.
Aliran air yang diduga tercemar dilaporkan bergerak dari wilayah Kabupaten Bogor menuju Pangkalan 6, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantargebang, hingga kawasan Delta Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencemaran Kali Bekasi berpotensi melintasi batas administrasi daerah. Karena itu, penanganannya membutuhkan koordinasi antara pemerintah Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan instansi terkait.
DLH Kota Bekasi sebelumnya telah mengirimkan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, DLH Provinsi Jawa Barat, serta DLH Kabupaten Bogor untuk mendorong koordinasi dan penanganan pencemaran.
Namun, ketika air kembali menghitam dan berbau, pertanyaan mengenai efektivitas tindak lanjut atas temuan sebelumnya kembali mengemuka.
Sebelumnya, dugaan pembuangan limbah industri melalui pipa di wilayah Cileungsi, Kabupaten Bogor, juga sempat menjadi perhatian. Meski demikian, penyebab perubahan warna air pada kejadian terbaru ini masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan penelusuran oleh instansi berwenang.
Warga yang merasakan langsung dampak pencemaran berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret. Kasman, salah seorang warga, mengatakan perubahan warna air terlihat sejak Jumat siang. Air yang sebelumnya tampak lebih jernih berubah menjadi hitam dan disertai bau menyengat.
“Yang tadinya normal sekarang berubah menjadi hitam. Saya sebagai masyarakat tidak tahu penyebabnya, tetapi yang saya rasakan dan saya lihat warnanya menjadi hitam dan juga bau,” ujar Kasman.
Menurut dia, bau yang muncul cukup mengganggu aktivitas warga. Ia berharap pemerintah segera mencari penyebab pencemaran dan memulihkan kondisi sungai.
“Baunya sampai menyengat, mengganggu banget. Dari sisi kebersihan mungkin memang harus ada penanganan. Ini sudah beberapa hari saya lihat air tidak berubah. Kami mohon Pemerintah Kota Bekasi supaya segera mencari cara agar air ini normal kembali,” katanya.
Kasman juga meminta pemerintah daerah tidak terjebak dalam saling menyalahkan ketika pencemaran terjadi. Menurutnya, langkah terpenting adalah menelusuri sumber pencemaran dan bekerja sama untuk mengatasinya.
“Kalau menurut saya sebagai masyarakat, sinergi saja. Tidak usah saling menyalahkan. Yang penting bekerja, ditelusuri dari mana sumbernya. Ini kok air bisa hitam? Apakah dari limbah atau dari mana? Kalau sebagai masyarakat tidak tahu. Tahunya masyarakat itu airnya hitam dan bau,” tegasnya.
