Menhut Ungkap Tren Titik Karhutla Selalu Naik Tiap Weekend: Jangan 'Main Api'

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkap adanya tren kenaikan titik terbakar atau titik panas (hotspot) saat akhir pekan di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Raja Juli mengatakan, kenaikan titik terbakar kerap terjadi pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Karena itu, ia meminta masyarakat, petani, hingga korporasi tidak "main api", terlebih kondisi El Nino yang masih kuat.
“Dan ternyata mulai ada trennya itu. Trennya itu selalu naik kalau weekend, kalau akhir pekan. Hari Jumat, Sabtu, Minggu itu selalu naik,” kata Raja Juli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9).
“Jadi mohon diimbau kepada masyarakat perorangan, petani, maupun korporasi untuk tidak 'main api' di masa El Nino yang sangat kuat ini. Kasihan, betul-betul kasihan melihat Manggala Agni, TNI-Polri di lapangan yang betul-betul berjibaku,” lanjutnya.
Menurut Raja Juli, kondisi karhutla masih akan berlangsung hingga Oktober atau awal November. Ia meminta masyarakat ikut berperan dalam mencegah munculnya titik api baru.
Menurutnya, upaya pemadaman api akan menjadi sia-sia apabila titik api kembali muncul setelah berhasil dipadamkan.
“Seperti saya katakan tadi, karhutla ini masih akan bersama kita sampai Oktober atau awal November. Kalau teman-teman turun ke lapangan, bisa melihat bagaimana Manggala Agni Kehutanan Kemenhut, TNI-Polri, BNPB, BPBD berjuang memadamkan api, kita betul-betul kasihan. Tapi setiap kali sudah padam, masih ada orang yang mau 'main api' untuk kembali membakar,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, petugas bisa saja berhasil memadamkan api di satu titik, tetapi kebakaran kembali muncul di lokasi lainnya.
“Dan ketika mereka sukses memadamkan di satu titik, tahu-tahu sudah terbakar lagi di tempat yang lain. Kami terus tadi saya katakan penegakan hukum menjadi penting,” katanya.
Selain penegakan hukum, Raja Juli menilai kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam pengendalian karhutla. Menurutnya, berbagai upaya pemerintah seperti operasi modifikasi cuaca (OMC), water bombing, hingga penguatan satgas darat tidak akan cukup tanpa partisipasi masyarakat.
“Tapi kalau semua faktor yang saya katakan tadi—OMC berjalan, water bombing berjalan, satgas darat kuat, penegakan hukum jalan—tapi kalau tidak ada partisipasi masyarakat,” jelas Raja Juli.
“Terutama kesadaran untuk bersama-sama tidak melakukan pembakaran lahan untuk melakukan land clearing perkebunan, sekali lagi masyarakat ini yang kecil maupun yang besar, perorangan maupun korporasi, maka sungguh effort yang sudah kita lakukan ini akan sia-sia,” sambungnya.
