'Merdeka dari Sakit Jiwa': Saat 85 ODGJ di Bekasi Gelar Upacara HUT RI

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebanyak 85 pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Yayasan Jamrud Biru mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kampung Babakan, Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Senin (17/8/2026). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sebanyak 85 pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Yayasan Jamrud Biru mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kampung Babakan, Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Senin (17/8/2026). Foto: kumparan

Derap langkah puluhan peserta memenuhi lapangan sederhana di Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Jamrud Biru, Mustikasari, Kota Bekasi, Senin (17/8). Di bawah terik matahari pagi, 85 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berdiri tegak mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tak ada suara gaduh. Tak ada keraguan. Lagu Indonesia Raya berkumandang, Merah Putih perlahan berkibar, sementara para peserta mengikuti setiap rangkaian upacara dengan penuh kekhusyukan.

Pemandangan itu mungkin sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi mereka yang sedang menjalani rehabilitasi kesehatan jiwa, berdiri rapi mengikuti upacara merupakan sebuah pencapaian besar. Bukan sekadar memperingati kemerdekaan bangsa, tetapi juga menjadi simbol perjuangan untuk meraih kemerdekaan dari belenggu gangguan jiwa.

Pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) membacakan naskah Undang-Undang Dasar 1945 saat upacara bendera di Yayasan Jamrud Biru, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (17/8/2026). Foto: Darryl Ramadhan/ANTARA FOTO

Pendiri Yayasan Jamrud Biru, H. Hartono, mengatakan gagasan menggelar upacara justru datang dari para penerima layanan. Setelah yayasan menempati lokasi baru yang memiliki lapangan sendiri, mereka mulai bertanya kapan akan ada kegiatan memperingati Hari Kemerdekaan.

"Mereka sendiri yang meminta. Berkali-kali mereka bertanya, 'Pak, kapan kita upacara 17 Agustus?' Dari situ kami melihat antusiasme mereka luar biasa. Akhirnya kami siapkan kegiatan ini, dan hasilnya mereka mengikuti dengan sangat khidmat," ujarnya.

Sebanyak 85 pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Yayasan Jamrud Biru mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kampung Babakan, Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Senin (17/8/2026). Foto: kumparan

Seluruh Peserta Berasal dari Zona Hijau

Seluruh peserta upacara berasal dari pasien yang telah berada di zona hijau, yakni tahap rehabilitasi menjelang kembali ke keluarga dan masyarakat. Bahkan, hampir seluruh petugas upacara juga berasal dari para penerima layanan, mulai dari pembawa acara, pembaca teks, hingga dirigen. Hanya petugas pengibar bendera yang didampingi pendamping demi menjaga keamanan prosesi.

Menurut Hartono, tantangan terbesar bukan pada disiplin peserta, melainkan melatih daya ingat mereka. Menghafal urutan acara, memahami instruksi, serta menjaga konsentrasi membutuhkan proses yang tidak singkat.

"Yang menarik justru mereka berebut ingin menjadi petugas upacara. Semua ingin menunjukkan bahwa mereka mampu. Mereka ingin membuktikan kalau dirinya sudah sehat dan siap kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat," katanya.

Persiapan upacara dilakukan sekitar satu bulan dengan enam kali latihan dan satu gladi bersih. Ketua RT 04/RW 04, Sumar, yang bertindak sebagai pembina upacara, mengaku bangga melihat perkembangan para peserta.

"Saya benar-benar bangga. Semangat mereka luar biasa. Latihannya memang hanya beberapa kali, tetapi saat pelaksanaan mereka mampu mengikuti dengan baik. Yang perlu diperhatikan hanya kondisi fisik mereka karena tidak semua kuat berada lama di bawah sinar matahari," ujarnya.

Sebanyak 85 pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Yayasan Jamrud Biru mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kampung Babakan, Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Senin (17/8/2026). Foto: kumparan

Bagi Sumar, keberadaan para penerima layanan Jamrud Biru bukanlah hal asing. Selama ini mereka telah berbaur dengan masyarakat sekitar, bahkan beberapa kali dilibatkan dalam kegiatan lingkungan maupun pekerjaan ringan sebagai bagian dari terapi sosial.

"Warga sudah menerima mereka apa adanya. Tidak ada rasa takut. Bahkan bulan depan mereka juga akan kami libatkan dalam kegiatan Maulid bersama warga. Mereka memang bagian dari masyarakat," katanya.

Kehangatan itu juga tampak usai upacara. Para peserta berkumpul menikmati segelas teh manis sambil bercengkerama. Tradisi sederhana tersebut sengaja dipertahankan untuk menjaga kondisi tubuh setelah mengikuti kegiatan di bawah terik matahari.

Bagi salah seorang penerima layanan, Iqbal, kesempatan menjadi petugas upacara merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

"Senang sekali. Ini pertama kalinya saya menjadi petugas upacara," ucapnya singkat dengan senyum mengembang.

Namun, upacara hanyalah awal dari rangkaian rehabilitasi. Seusai prosesi, peserta mengikuti berbagai permainan sederhana yang dirancang untuk melatih daya ingat, konsentrasi, kemampuan berkomunikasi, serta membangun rasa percaya diri.

Sejumlah pasien orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) memberikan hormat kepada bendera Merah Putih saat mengikuti upacara bendera di Yayasan Jamrud Biru, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (17/8/2026). Foto: Darryl Ramadhan/ANTARA FOTO

Salah satunya adalah permainan pesan berantai. Di balik kesederhanaannya, permainan itu memiliki makna terapeutik. Peserta diajak fokus pada pesan yang diterima dan disampaikan kembali secara benar, sebagai latihan konsentrasi sekaligus stimulasi kognitif.

"Semua lomba dibuat ringan, tetapi memiliki tujuan terapi. Kami ingin mereka gembira sekaligus melatih kemampuan berpikir dan mengingat," jelas Hartono.

Usung Tema Merdeka dari Sakit Jiwa

Tema besar yang diusung tahun ini adalah "Merdeka dari Sakit Jiwa". Sebuah kalimat yang bukan sekadar slogan, melainkan harapan agar setiap penyintas gangguan jiwa memperoleh kesempatan pulih, hidup mandiri, dan diterima kembali tanpa stigma.

Hartono menegaskan, rehabilitasi di Jamrud Biru tidak hanya berfokus pada pendekatan spiritual, tetapi juga didukung pelayanan medis melalui kerja sama dengan rumah sakit jiwa serta pembinaan sosial yang komprehensif. Di tempat itu tidak ditemukan jeruji besi, pemasungan maupun perantaian.

"Kami ingin membuktikan bahwa orang dengan gangguan jiwa memiliki hak yang sama sebagai manusia. Mereka tidak boleh dikurung, dipasung atau dijauhi. Mereka berhak memperoleh kesempatan untuk pulih dan kembali hidup bersama masyarakat," tegasnya.

Sebanyak 85 pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Yayasan Jamrud Biru mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kampung Babakan, Mustikasari, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Senin (17/8/2026). Foto: kumparan

Ia berharap pemerintah terus memberikan perhatian terhadap layanan rehabilitasi kesehatan jiwa, termasuk membantu penyediaan lahan permanen agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal.

Di tengah berbagai tantangan, upacara pagi itu meninggalkan pesan yang kuat. Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan, melainkan juga tentang membebaskan manusia dari rasa takut, diskriminasi, dan stigma.

Saat Merah Putih berkibar di langit Bekasi, puluhan pengidap gangguan jiwa itu merayakan kemerdekaan yang lain, kemerdekaan untuk kembali bermimpi, kembali percaya diri, dan kembali menjadi bagian utuh dari masyarakat.