Pemprov DKI Ajak Warga Kurangi Food Waste, Harap Beban Sampah Jakarta Berkurang

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja mengoperasikan alat berat untuk memindahkan sampah sisa makanan dan sayur ke truk di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto: Darryl Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja mengoperasikan alat berat untuk memindahkan sampah sisa makanan dan sayur ke truk di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Foto: Darryl Ramadhan/kumparan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak masyarakat mengelola pangan secara lebih bijak sebagai upaya pengurangan sampah dari sumbernya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin mengatakan, pengurangan sisa makanan atau food waste menjadi salah satu langkah paling efektif untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di ibu kota.

Menurut dia, semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, hingga diolah oleh pemerintah.

“Semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, pengurangan sisa makanan harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Jakarta,” kata Dudi dalam keterangan yang diterima kumparan, Kamis (23/7).

Dudi menjelaskan, persoalan sisa makanan tidak hanya berkaitan dengan pemborosan pangan, tetapi juga berdampak langsung terhadap meningkatnya beban sistem persampahan perkotaan.

Karena itu, Pemprov DKI mendorong upaya pencegahan sejak dari sumber, baik di rumah tangga maupun tempat usaha seperti hotel, restoran, dan katering (HORECA).

“Pengurangan food waste dari rumah tangga, restoran, hotel, katering, dan berbagai kegiatan usaha akan sangat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah kota. Upaya ini harus dilakukan sejak dari sumber agar makanan yang masih bernilai tidak langsung berakhir menjadi sampah,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin saat memberikan keterangan usai membuka Jakarta Eco Future Fest 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (3/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Menurut Dudi, perubahan perilaku sederhana dapat memberikan dampak besar jika diterapkan secara konsisten. Masyarakat diimbau merencanakan belanja sesuai kebutuhan, mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan, memanfaatkan kembali bahan pangan yang masih layak, serta memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.

Pemprov DKI Luncurkan Gerakan Bijak Pangan

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemprov DKI meluncurkan Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan yang berjalan beriringan dengan Gerakan Pilah Sampah.

Program ini digelar bersama Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dan melibatkan komunitas serta pelaku usaha sektor HORECA guna memperkuat pengurangan sampah dari sumber.

Executive Director IBCSD Indah Budiani mengatakan, gerakan tersebut bertujuan mengubah cara pandang masyarakat bahwa sisa makanan merupakan persoalan yang sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.

Peluncuran gerakan ditandai dengan Demo Masak Bapak-Bapak Bijak Pangan yang menampilkan para pria mengolah bahan pangan tersisa menjadi hidangan baru. Kegiatan itu sekaligus menjadi simbol bahwa pengelolaan pangan merupakan tanggung jawab seluruh anggota keluarga.

“Masyarakat dapat menerapkan kebiasaan sederhana, seperti merencanakan belanja sesuai kebutuhan, menyimpan pangan dengan benar agar lebih tahan lama, mengolah kembali makanan yang masih layak, hingga menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan,” kata Indah.

Ia menilai kebiasaan tersebut tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga membantu menekan pengeluaran rumah tangga sekaligus memperkuat kepedulian sosial.

Pemprov Siapkan Regulasi, Pelaku Usaha Didorong Berinovasi

Selain mengubah perilaku masyarakat, Pemprov DKI juga memperkuat upaya pengurangan sisa pangan melalui kebijakan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok mengatakan pemerintah tengah menyusun Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Sistem Pangan yang salah satu substansinya mengatur pencegahan dan pengendalian sisa pangan.

Ia mengutip data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang menunjukkan sekitar 23 juta hingga 48 juta ton pangan hilang atau terbuang setiap tahun di Indonesia. Kondisi itu diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp511 triliun.

“Keberhasilan membangun sistem pangan yang berkelanjutan membutuhkan partisipasi seluruh pihak. Setiap upaya mengurangi sisa pangan akan memberikan dampak besar terhadap ketahanan pangan sekaligus membantu mengurangi sampah di Jakarta,” ujar Hasudungan.

Di sisi lain, sektor usaha juga mulai menerapkan inovasi untuk menekan food waste. Salah satunya dilakukan Fairmont Jakarta melalui konsep food upcycling, yakni mengolah kembali bagian bahan pangan yang masih layak menjadi menu baru.

General Manager Fairmont Jakarta Carlos Monterde mengatakan inovasi tersebut antara lain memanfaatkan batang kale menjadi pesto, bagian putih kulit semangka menjadi kimchi, serta kulit wortel sebagai bahan pembuatan carrot cake.

Melalui berbagai upaya itu, Fairmont Jakarta berhasil menurunkan sisa pangan sebesar 25 persen, dari 314 gram menjadi 237 gram per tamu.

Capaian tersebut setara dengan penghematan sekitar 34 ton makanan, penurunan emisi hingga 101 ton karbon dioksida ekuivalen, serta efisiensi biaya sekitar 216 ribu dolar AS per tahun.

Pemprov DKI berharap kolaborasi pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pelaku usaha dapat memperluas penerapan praktik pengelolaan pangan yang lebih bijak sehingga jumlah sisa makanan yang berakhir menjadi sampah terus berkurang dan beban pengelolaan sampah Jakarta semakin ringan.