Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, BPPTKG Ingatkan Potensi Erupsi Eksplosif

Pendakian Gunung Merapi saat ini masih ditutup. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali mengingatkan potensi erupsi di Gunung Merapi saat ini.
"Kami ingin menegaskan kembali bahwa aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan. Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat terlempar hingga mencapai radius 3 kilometer dari puncak," kata Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (1/7).
Menurut Agus, jangkauan lontaran material jika terjadi erupsi eksplosif bisa mencakup area yang selama ini jadi jalur maupun batas akhir pendakian.
"Sehingga sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut," katanya.
Agus meminta masyarakat dan pendaki memahami dinamika aktivitas Gunung Merapi.
"Merapi memang sedang berada dalam fase erupsi efusif yang ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan secara perlahan. Namun, justru dalam kondisi inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi. Bahaya ini dapat terpicu apabila jalan keluar magma mengalami sumbatan secara tiba-tiba," katanya.
Ia menjelaskan, sumbatan itu akan menyebabkan akumulasi tekanan gas yang kuat di dalam kawah. Lalu, pada akhirnya dapat melepaskan energi berupa erupsi eksplosif secara mendadak.
"Kewaspadaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan didasarkan pada data historis aktivitas vulkanik Merapi itu sendiri," katanya.
"Dalam catatan tiga abad terakhir, Gunung Merapi pernah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda, dan faktanya, tipe erupsi yang bersifat eksplosif adalah yang paling sering terjadi. Bahkan, pasca-erupsi 2010, telah tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh erupsi freatik. Oleh karena itu, selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi," tegasnya.
Kata Balai TNGM
Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) juga telah mengeluarkan imbauan kembali. Terlebih, saat ini marak konten di media sosial yang memperlihatkan aktivitas pendakian Gunung Merapi dan mengajak masyarakat membuka pendakian.
Kepala Balai TNGM Heri Wibowo mengatakan kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan sejak 22 Mei 2018 berdasarkan adanya peningkatan aktivitas dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).
Pada 5 November 2020 status aktivitas Gunung Merapi ditingkatkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) hingga kini.
"Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana," kata Heri.
Selanjutnya, radius 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk. Masyarakat yang tinggal di KRB III juga diminta agar meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Merapi.
"Masyarakat agar tidak terpancing dengan isu-isu mengenai erupsi Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau langsung ke BPPTKG," katanya.
"Jalur pendakian Gunung Merapi via New Selo sampai ke puncak Gunung Merapi meliputi: (a) Pintu gerbang (2,3 Km); (b) Pos I (1,64 Km); (c) Pos II (1,25 Km); (d) Pasar Bubrah (0,7 Km) sehingga sangat membahayakan keselamatan," ujarnya.
Kepada pendaki, Heri menjelaskan terdapat beberapa jalur wisata (soft trekking) di Taman Nasional Gunung Merapi seperti di OWA Kalitalang berada pada radius 3,3 Km dari Pos IV (pos terakhir)
"Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, pendakian Gunung Merapi sampai dengan saat ini masih ditutup hingga batas waktu yang tidak dapat ditentukan, semata-mata untuk mematuhi rekomendasi dari pihak yang berwenang serta untuk menjaga keselamatan dan keamanan semua pihak," pungkasnya.
