Persatuan Dokter Prediksi 1,7 Miliar Orang Alami Gangguan Penglihatan di 2050

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi iritasi mata. Foto: Pornpimon Ainkaew/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi iritasi mata. Foto: Pornpimon Ainkaew/Shutterstock

Ketua Umum PP Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Budu, mengungkapkan sebanyak 1,1 miliar orang di dunia saat ini mengalami gangguan penglihatan.

Jika tidak ditangani dengan baik, jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 1,7 miliar orang pada 2050.

“Secara global (Global Summit for Eye Health), saat ini ada 1,1 miliar orang menderita gangguan penglihatan, dan jika dibiarkan, pada 2050 akan mencapai 1,7 miliar orang,” jelas Budu dalam media briefing Hari Penglihatan Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (13/10).

Budu menerangkan, sekitar 90% gangguan penglihatan dapat dicegah atau diobati jika terdeteksi sejak dini. Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan, tetapi juga ekonomi, pendidikan, hingga keselamatan.

“Gangguan penglihatan bukan sekadar masalah mata, tapi merambat ke masalah ekonomi, masa depan anak, dan bahkan hilangnya nyawa (kematian akibat kecelakaan 2,6 kali lebih tinggi),” paparnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan Budu, kelompok yang paling terdampak gangguan penglihatan meliputi masyarakat di negara berpendapatan rendah-menengah sebesar 90%, penduduk berusia di atas 50 tahun sebanyak 73%, dan perempuan sebanyak 55%.

Ketua Umum PP PERDAMI Prof. Budu dalam agenda Hari Penglihatan Sedunia 2026 di Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026). Foto: Zahira Hilman/kumparan

Sementara di Indonesia, katarak menjadi penyebab 81,2% kasus kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun.

Kendati demikian, Budu menjelaskan gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi dan katarak dapat ditangani melalui intervensi seperti penggunaan kacamata dan operasi katarak.

“Kelainan refraksi dan katarak mendominasi, dan penanganannya sebetulnya bisa menyelesaikan 90% persoalan,” terangnya.

Karena itu, dia mengingatkan kebutuhan layanan kesehatan mata juga perlu diperhatikan seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup masyarakat.

“Pemerintah bahkan menargetkan angka harapan hidup naik dari 70 menjadi 76 tahun, yang berarti potensi kasus katarak akan semakin banyak dan menuntut kesiapan kita,” jelas Budu.

Budu pun mengimbau masyarakat agar tidak menunggu sampai penglihatan bermasalah untuk memeriksakan mata.

“Jangan tunggu mata bermasalah, kenali gejalanya, skrining, dan segera tindak lanjuti,” tegasnya.