Peserta Termuda Golek Garwo: Usia 20 Tahun, Cari Pasangan Mapan & Tidak Merokok

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fauzia (20), Peserta Termuda Golek Garwo Kemenag bersama Ibunya di Smesco Exibition Hall, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Fauzia (20), Peserta Termuda Golek Garwo Kemenag bersama Ibunya di Smesco Exibition Hall, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Di antara puluhan peserta yang memenuhi ruangan sesi Golek Garwo di Nikah Fest 2026, perhatian Fauziah Suraya Firdausi beberapa kali tertuju kepada peserta laki-laki yang sedang memperkenalkan diri. Sesekali ia mengamati penampilan mereka dari kejauhan.

Ada beberapa yang menurutnya tampak rapi dan menarik perhatian. Namun, rasa penasaran itu tak bertahan lama. Setelah mengetahui usia mereka, mahasiswi asal Bekasi itu memilih mengurungkan harapan.

"Aku kira mungkin ada yang seusiaan kayak aku, cuma ternyata kebanyakan udah kepala tiga," kata Fauziah di SMESCO Exibition Hall, Jakarta, kepada kumparan, Minggu (28/6).

Golek Garwo sendiri merupakan salah satu program dalam rangkaian Nikah Fest 2026 yang diselenggarakan Kementerian Agama. Mengusung istilah dari bahasa Jawa yang berarti "mencari pasangan", program ini menjadi wadah ta'aruf bagi masyarakat yang ingin mencari pasangan hidup dengan tujuan membangun rumah tangga.

Di tengah kerumunan peserta, Fauziah memang menjadi peserta termuda dalam sesi Golek Garwo hari itu. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, ia datang bukan karena memiliki target harus segera menikah. Awalnya, ia hanya mengikuti ajakan sang ibu untuk mencoba pengalaman baru.

"Sebenarnya aku enggak kepikiran sih pengen ikut. Cuma kan diajakin sama Ibu, jadi kayak, Oh yaudah coba ikut, siapa tahu ada yang cocok juga. Kayak gitu aja sih paling alasannya," ujarnya sambil tersenyum.

Sebelum datang ke Nikah Fest 2026, Fauziah mengira acara yang akan diikutinya hanyalah pameran vendor pernikahan. Ia mengetahui informasi kegiatan tersebut melalui Instagram dan tertarik karena rasa penasaran. Ia tak menyangka di dalam rangkaian acara terdapat sesi ta'aruf yang mempertemukan peserta laki-laki dan perempuan untuk saling mengenal.

"Kirain sih cuma wedding organizer gitu. Cuma pas udah diikutin acaranya, enggak expect juga sih kalau ternyata ada ajang untuk nyari pasangan juga," katanya.

Meski belum menemukan sosok yang sesuai, pengalaman mengikuti sesi tersebut memberinya gambaran baru tentang proses mencari pasangan. Menurutnya, peserta diberi ruang untuk memperkenalkan diri, saling bertanya mengenai domisili, harapan dalam pernikahan, hingga kriteria pasangan yang diinginkan.

"Jadi menurut aku acara ini bagus sih, bagus banget buat orang-orang yang memang tertarik untuk mencari pasangan," jelasnya.

Prosesi Golek Garwo dalam Rangkaian Acara Nikah Fest 2026 yang Diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Smesco Exibition Hall, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Berbeda dengan sebagian anak muda yang menilai penampilan sebagai daya tarik utama, Fauziah justru memiliki daftar kriteria yang cukup sederhana, tetapi tegas. Baginya, pasangan ideal bukan sekadar sosok yang romantis atau menarik secara fisik.

Ia berharap calon suaminya kelak telah memiliki kondisi finansial yang mapan, mampu menjadi imam dalam keluarga, serta menjalani gaya hidup sehat.

"Kalau aku tuh, kalau laki-laki senengnya sama yang udah financial freedom, terus dia bisa jadi imam yang baik, dan dia bisa menjaga kesehatan dirinya aja sih. Kayak misalnya dia enggak ngerokok, dia tahu itu kurang bagus buat tubuh. Jadi dia tahu mana yang baik, mana yang buruk. Itu sih," ujar Fauziah.

Standar itu bukan tanpa alasan. Fauziah memandang pernikahan sebagai perjalanan panjang yang membutuhkan kesiapan, bukan hanya rasa saling mencintai.

Baginya, kehidupan setelah menikah akan dipenuhi tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding masa berpacaran. Karena itu, karakter dan kebiasaan calon pasangan menjadi hal yang ia perhatikan sejak awal.

Meski baru mulai membuka diri untuk mencari pasangan tahun ini, pengalaman Fauziah sejauh ini belum banyak. Ia pernah menjalin hubungan dengan seseorang yang dikenalnya melalui media sosial. Hubungan itu sempat berjalan, tetapi akhirnya kandas karena jarak domisili yang terlalu jauh.

Di Golek Garwo pun, ia belum menemukan sosok yang sesuai. Selain faktor usia, sesi pertemuan yang berlangsung singkat membuat peserta belum memiliki kesempatan berbincang lebih jauh. Interaksi baru sebatas saling memperkenalkan diri dan bertukar curriculum vitae (CV). Namun, Fauziah tidak memandang hal itu sebagai kegagalan.

Jika suatu hari Golek Garwo kembali digelar, ia mengaku tidak

Prosesi Golek Garwo dalam Rangkaian Acara Nikah Fest 2026 yang Diselenggarakan oleh Kementerian Agama di Smesco Exibition Hall, Jakarta, Minggu (28/6/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

menutup kemungkinan untuk kembali mencoba. Meski begitu, prioritasnya saat ini tetap menyelesaikan pendidikan dan mengembangkan karier sebagai mahasiswa sekaligus freelancer.

"Untuk selanjutnya, aku pengen lebih fokus ke apa yang aku sedang kerjakan sekarang saat ini dan juga fokus menjadi mahasiswa dulu. Soalnya kan aku belum lulus juga," kata dia.

Di tengah antusiasme peserta yang datang dengan harapan menemukan pasangan hidup, Fauziah justru membawa pulang keyakinan lain: jodoh, menurutnya, tidak perlu dikejar dengan tergesa-gesa.

"Kalau menurut aku take time aja sih. Jadi kita enggak usah terburu-buru melihat standar di sini. Misalnya orang udah pada nikah, tapi kok aku belum ya? Karena kan jodoh enggak ke mana ya," tegas Fauziah.

"Maksudnya kalaupun misalnya belum ada jodohnya, kita bisa ikhtiar cari. Kalaupun ternyata memang enggak dikasih, ya udah berarti mungkin memang belum jalannya," lanjutnya

Bagi perempuan berusia 20 tahun itu, pernikahan tetap merupakan sesuatu yang sakral. Ia percaya, ikatan tersebut bukan sekadar tentang cinta, melainkan tentang kesiapan menjalani hidup bersama hingga akhir hayat.

Karena itu, meski datang ke Golek Garwo tanpa membawa pulang pasangan, Fauziah merasa tidak pulang dengan tangan kosong. Ia membawa pulang pengalaman baru sekaligus keyakinan bahwa menemukan orang yang tepat jauh lebih penting daripada sekadar menemukan orang dengan cepat.