Sampah Bandung Jadi Masalah Besar, Pemkot Siapkan Compost Pit di Setiap RT

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat ditemui usai kegiatan di Grandia Hotel, Kota Bandung pada Rabu (7/10/2026). Foto: Abisatya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat ditemui usai kegiatan di Grandia Hotel, Kota Bandung pada Rabu (7/10/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Pemerintah Kota Bandung menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi persoalan sampah yang dinilai semakin mendesak. Salah satunya dengan menerapkan program Compost Pit di tingkat RT.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, persoalan sampah menjadi masalah besar yang harus segera ditangani. Hal itu menyusul adanya proyeksi Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti yang akan menghadapi keterbatasan kapasitas.

“Betul. Jadi ini (Sarimukti penuh) menjadi masalah besar,” kata Farhan saat ditemui di Grandia Hotel, Kota Bandung, Rabu (7/10).

Menurut Farhan, Pemkot Bandung tengah berharap sejumlah solusi pengolahan sampah yang melibatkan pemerintah pusat maupun pihak lain dapat segera direalisasikan.

Salah satunya rencana pengolahan sampah menggunakan teknologi yang digagas bersama Danantara, PLN, Pertamina dan Kementerian Riset dan Teknologi di kawasan Gedebage.

Farhan mengatakan teknologi tersebut diharapkan mampu menangani sekitar 30 persen dari timbulan sampah yang ada di Kota Bandung.

“Itu minimal bisa meng-handle sekitar 30% dari sampah yang sekarang ini ada,” ujarnya.

Selain itu, Pemkot Bandung juga mengandalkan program pengolahan sampah menjadi briket refuse-derived fuel (RDF). Program tersebut mendapat bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan direncanakan berjalan di RW 3 Kelurahan Pasir Impun. Farhan berharap program tersebut dapat segera beroperasi secara optimal.

Pemkot Bandung juga mengusulkan dukungan berupa satu mesin pembuat briket di setiap kelurahan. Dengan total 151 kelurahan, mesin tersebut diharapkan dapat membantu mengolah sedikitnya satu ton sampah di masing-masing wilayah.

Namun, Farhan menilai pengolahan sampah tidak cukup hanya mengandalkan teknologi berskala besar. Pengurangan sampah dari tingkat permukiman juga perlu dilakukan.

Karena itu, Pemkot Bandung akan meluncurkan program bernama Compost Pit. Program tersebut berupa pembuatan kotak kompos berkapasitas sekitar satu hingga dua meter kubik.

“Compost Pit teh pembuatan kotak kompos bervolume 1 meter kubik sampai 2 meter kubik di 1 RT ada 3 titik. Nah itu bisa meng-handle sampai 30% lagi sampah di situ,” kata Farhan.

Program tersebut direncanakan diterapkan di setiap RT. Pemerintah kota juga akan memberikan bantuan berupa subsidi untuk mendukung pelaksanaannya.

“Di tiap RT diwajibkan, tapi akan dibantu nanti subsidi dari pemerintah,” ujarnya.

Farhan berharap pengolahan sampah dari tingkat lingkungan tersebut dapat mengurangi beban sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

Di sisi lain, Pemkot Bandung tetap mendorong sejumlah solusi pengolahan sampah lainnya agar persoalan yang dihadapi Kota Bandung dapat ditangani dari berbagai sisi.

Menurut Farhan, kombinasi antara pengolahan sampah berbasis teknologi, pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar dan pengolahan organik di tingkat RT diperlukan untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.

Pemerintah Kota Bandung kini menunggu realisasi sejumlah program tersebut sekaligus menyiapkan pelaksanaan Compost Pit di lingkungan masyarakat sebagai salah satu langkah pengurangan sampah dari sumbernya.