Terus-terusan Diserang Houthi, AS Minta Staf Kedutaan Besar Tinggalkan Saudi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepulan besar asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Kepulan besar asap hitam membubung dari area penyimpanan bahan bakar di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9/2026). Foto: Stringer/REUTERS

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memerintahkan staf non-esensial Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi pada Rabu (21/8). Perintah itu dikeluarkan buntut Saudi terus menghadapi serangan mematikan dari kelompok Houthi di Yaman.

Dilansir AFP, langkah tersebut diambil setelah seorang sumber diplomatik mengatakan bahwa “seluruh staf Amerika dan keluarga mereka telah diperintahkan untuk meninggalkan Kedutaan Besar AS” di kerajaan Teluk tersebut.

Sumber itu menambahkan bahwa keluarga staf kedutaan juga telah diperintahkan meninggalkan Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Qatar, dan Bahrain. Seluruh negara tersebut telah menjadi sasaran serangan Iran selama perang di Timur Tengah.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, kemudian mengonfirmasi perintah tersebut melalui unggahan di X. Namun, dia mengatakan bahwa perintah itu hanya berlaku bagi “pegawai pemerintah AS non-darurat beserta anggota keluarga mereka di Arab Saudi”.

Dia mengaitkan langkah tersebut dengan serangan Houthi terhadap Arab Saudi, termasuk serangan yang menyasar bandara. Dia menegaskan bahwa “keselamatan dan keamanan personel Departemen Luar Negeri beserta keluarga mereka tetap menjadi prioritas tertinggi kami”.

Diketahui, pada bulan Oktober ini, Arab Saudi hampir setiap hari menghadapi serangan dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Serangan tersebut termasuk serangan terhadap bandara internasional Riyadh, yang menjadi serangan paling mematikan di Saudi dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya eskalasi perang melawan kelompok tersebut.