Double Burden of Malnutrition: Scroll, Klik, Pesan — Kenyang tapi Kurang Gizi

Mahasiswa S1 Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Abidah Ardelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Double Burden of Malnutrition: Kenyang Tapi Kurang Gizi suatu Ancaman dibalik Kemudahan Makan di Era Digital
Double Burden of Malnutrition merupakan kondisi yang saat ini semakin meningkat seiring dengan fenomena “scroll, klik, pesan” yang mempermudah akses pangan, tetapi justru mendorong terjadinya masalah gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan.

Coba ingat lagi terakhir kamu memesan makanan online. Berapa lama kamu mempertimbangkan gizinya? Berapa detik sebelum kamu klik “pesan sekarang”?
Realitanya, keputusan soal makan kini sering terjadi dalam hitungan detik. Jam 12 siang buka aplikasi GoFood, ShopeeFood, TikTok, lihat voucher promo, pilih menu, pesan, dan selesai! Supir dalam perjalanan... ternyata semudah itu kita memesan makanan. Tetapi sudah tahu kah kamu berapa kandungan gizinya?. Kemudahan ini bukan sepenuhnya salah kita.
Dalam dua dekade terakhir, sistem pangan global berubah drastis akibat globalisasi, modernisasi, urbanisasi, dan perkembangan teknologi digital yang ergerak dengan cepat menjadi dasar kontribusi sistem pangan dalam membentuk pola konsumsi kita. Dulu, saat memilih makanan berarti memilih dari apa yang tersedia dan dekat di sekitar kita seperti warung di ujung jalan, pasar tradisional di pusat daerah, atau makanan yang dimasak rumah. Namun, kini algoritma yang memengaruhi pilihan kita, bahkan menyesuaikan rekomendasi berdasarkan kebiasaan, preferensi, dan jam berapa biasanya kamu lapar. Akses makin mudah, tapi kualitas gizi tidak selalu ikut membaik.
________________________________________
Paradoks Gizi Global: Double Burden of Malnutrition
Kalau kamu sering mendengar kata “malnutrisi”, yang terlintas di pikiranmu mungkin adalah anak-anak kurus di wilayah terpencil yang kekurangan makan. Sebenarnya tidak salah, tapi itu kurang tepat!.
Malnutrisi itu punya dua wajah yaitu undernutrition (gizi kurang) dan overnutrition (gizi lebih). Kedua wajah ini bisa hadir bersamaan, di dalam satu lingkungan, keluarga, bahkan individu yang sama. Inilah yang disebut Double Burden of Malnutrition (DBM) atau beban gizi ganda. Menurut World Health Organization (WHO), Double Burden of Malnutrition (DBM) didefinisikan sebagai koeksistensi atau kemunculan bersama antara kekurangan gizi (undernutrition) bersama dengan kelebihan berat badan, obesitas, atau penyakit tidak menular (PTM) terkait diet, di sepanjang siklus hidup, dalam populasi, rumah tangga, dan individu yang sama.
WHO menekankan bahwa kedua sisi malnutrisi ini memiliki akar permasalahan yang sama, yaitu kegagalan sistem pangan dalam menyediakan makanan yang aman, terjangkau, dan bergizi bagi semua orang.
Menurut World Health Organization (2022), sekitar 2,5 miliar orang dewasa mengalami kelebihan berat badan, dan 890 juta di antaranya obesitas. Secara global, 43% orang dewasa overweight dan 16% obesitas. Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas dewasa mencapai 23,4%. Namun di sisi lain, laporan FAO (2023) menyebutkan 733 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan.
Faktanya: Indonesia sudah masuk dalam kategori negara dengan triple burden malnutrition — menanggung tiga masalah gizi sekaligus: stunting pada anak, obesitas pada dewasa, dan defisiensi mikronutrien di semua kelompok usia. Menurut SKI 2023, 21,5% balita masih stunting, sementara 23,4% orang dewasa mengalami obesitas yang saat ini terjadi secara bersamaan di negara yang sama.
Artinya, “kenyang tapi kurang gizi” adalah kondisi nyata.
________________________________________
Scroll, Klik, Pesan: Bagaimana Kebiasaan Digital Memperparah Keadaan
Ini adalah bagian relevan bagi kehidupan sehari-hari sebagian besar orang terutama kamu. Karena masalah gizi ganda ini tidak semata-mata hanya terjadi di ruang hampa, tetapi juga diperkuat oleh pola konsumsi digital yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari:
Algoritma membentuk preferensi : Konten makanan di media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok sering didominasi makanan tinggi gula, lemak, dan kalori, sehingga memengaruhi pilihan kita tanpa disadari.
Hedonic Hunger : Kita makan bukan karena lapar, tetapi karena tergoda visual makanan.
Kemudahan pesan antar : Aplikasi menghilangkan “jeda berpikir”, sehingga keputusan impulsif lebih sering terjadi
Dominasi makanan ultra-proses : Pola makan bergeser ke makanan tinggi kalori namun rendah nutrisi.
Fenomena mukbang atau makan dalam jumlah besar juga berperan. Penelitian di Korea Selatan (2024) menunjukkan remaja yang rutin menonton mukbang memiliki risiko obesitas 1,22 kali lebih tinggi. Di Indonesia, studi Fayasari et al. (2022) menemukan hubungan signifikan antara kebiasaan menonton mukbang dengan preferensi terhadap fast food.
________________________________________
Lebih Banyak Pilihan, Tidak Selalu Lebih Sehat
Globalisasi pangan menciptakan banyak pilihan, tetapi juga mendorong nutrition transition yaitu pergeseran dari makanan tradisional kaya serat dan gizi ke makanan olahan modern tinggi gula, lemak, dan garam.
Pangan lokal seperti tempe, sayur asem, atau pepes ikan sering kalah bersaing dengan burger, pizza, matcha, dubai chewy cookie atau makanan viral yang lebih instagram-able dan menarik secara visual serta promosi digital.
Kelompok yang paling terdampak adalah masyarakat perkotaan berpendapatan menengah ke bawah: mereka cukup mampu membeli makanan cepat saji dan makanan instan tinggi energi, tetapi sulit mengakses makanan segar berkualitas secara konsisten. Akibatnya, terjadi kelebihan kalori sekaligus kekurangan nutrisi.
________________________________________
Apa yang Kita Bisa Dilakukan? Realistis Dulu
Solusi untuk masalah ini tidak sesederhana "makan lebih sehat" atau "kurangi junk food". Karena kita sudah tahu bahwa ini adalah masalah struktural, bukan hanya pilihan individu. Tapi bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa
Pause sebelum memesan: “Aku lapar atau hanya tergoda?”
Konsumsi pangan lokal secara bertahap
Periksa label makanan (gula, natrium, kalori) dan konsumsi sesuai anjuran
Lebih sadar terhadap konten digital yang dikonsumsi
Dukung regulasi iklan makanan tidak sehat, terutama untuk anak dan remaja
________________________________________
Kamu yang Pegang HP-nya — Kamu Juga yang Pegang Pilihannya
Globalisasi pangan dan teknologi tidak akan berhenti. Aplikasi pesan antar juga tidak akan menghilang. Konten makan juga tidak akan berhenti produksi. Dan itu bukan masalah selama kita memahami kekuatan dan keterbatasan dari semua itu. Tantangannya adalah bagaimana kita tetap sadar dalam membuat pilihan.
Masalah gizi ganda bukan sekadar masalah individu, tetapi hasil dari sistem yang membentuk kebiasaan kita. Namun, perubahan bisa dimulai dari hal kecil:
pause sejenak sebelum scroll, klik, dan pesan. Bukan untuk jadi sempurna. Tapi untuk menjadi sedikit lebih sadar tentang apa yang masuk ke tubuhmu, dari mana asalnya, dan siapa yang diuntungkan dari pilihanmu.
Karena pada akhirnya, layar hanyalah alat.
Tetapi kamu yang menentukan pilihan.
