Tak Sekadar Menerima Rumus, Murid SMAN 1 Kalibawang Temukan Identitas Polinomial

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Abidah Ardelia Nurtin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kulon Progo, 27 Agustus 2026 — Belajar matematika tidak selalu harus dimulai dengan menerima rumus dari guru. Hal tersebut dirasakan oleh murid kelas XI A dan XI B SMA Negeri 1 Kalibawang ketika mengikuti pembelajaran materi Identitas Polinomial pada Kamis (27/8/2026). Melalui model Guided Discovery Learning, murid diajak untuk menemukan sendiri pola yang mengarah pada konsep Identitas Polinomial dengan bimbingan selama proses pembelajaran.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang didampingi oleh Abidah Ardelia Nurtin, mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika, bersama guru pembimbing di lokasi PK, Ibu Ari Winanti, S.Pd.
Dalam pembelajaran tersebut, murid bekerja dalam kelompok dan memperoleh Lembar Kegiatan Murid (LKM) yang berbeda. Mereka kemudian mencoba menyelesaikan permasalahan yang diberikan dengan mengamati bentuk-bentuk polinomial dan mencari hubungan di dalamnya. Alih-alih langsung memberikan identitas yang harus digunakan, Abidah dan Ibu Ari mendampingi murid melalui pertanyaan dan arahan ketika mereka mengalami kesulitan.
Bagi murid, proses tersebut menjadi pengalaman yang berbeda. Salah satu murid kelas XI mengungkapkan bahwa pada awalnya ia merasa bingung karena belum mengetahui pola yang harus ditemukan. Namun, melalui LKM dan bimbingan selama pembelajaran, ia mulai memahami hubungan yang terdapat pada permasalahan.
“Awalnya saya merasa bingung. Kemudian, saya mencoba mencari tahu dengan mengikuti panduan dari LKM dan bimbingan dari Ibu Abidah. Setelah itu, saya mulai menemukan polanya sampai akhirnya menemukan suatu identitas polinomial,” ungkap salah satu murid kelas XI.
Setelah berdiskusi, setiap kelompok membagikan hasil temuannya melalui presentasi. Temuan dari satu kelompok kemudian menjadi bahan bagi kelompok lain untuk menyimak dan memberikan tanggapan. Dengan cara tersebut, murid tidak hanya belajar dari proses yang dilakukan kelompoknya sendiri, tetapi juga memperoleh pemahaman dari hasil eksplorasi kelompok lain.
Abidah menjelaskan bahwa kesempatan bagi murid untuk menemukan konsep menjadi alasan utama pemilihan Guided Discovery Learning dalam pembelajaran tersebut.
“Saya memilih menggunakan Guided Discovery Learning karena penting bagi murid untuk dapat menemukan sendiri suatu konsep Identitas Polinomial dengan bantuan guru dan mereka tidak hanya menerima konsep yang diberikan secara langsung karena mereka dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.”
Menurut Abidah, proses menemukan konsep memberikan kesempatan kepada murid untuk terlibat secara langsung dalam pembelajaran. Murid didorong untuk mencoba, berdiskusi, mencari pola, dan mengomunikasikan hasil pemikirannya dengan tetap mendapatkan bimbingan selama proses berlangsung.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 tentang Pendidikan Bermutu (Quality Education) dalam lingkungan sekolah. Pendidikan bermutu tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga dengan bagaimana proses pembelajaran memberikan kesempatan kepada murid untuk berkembang dan terlibat aktif dalam memperoleh pengetahuan.
Melalui pembelajaran Identitas Polinomial ini, nilai tersebut diwujudkan dengan memberikan ruang bagi murid untuk mengeksplorasi permasalahan, menggunakan penalaran dalam menemukan pola, bekerja sama dalam kelompok, serta menyampaikan hasil pemikirannya. Dengan demikian, pembelajaran matematika tidak hanya berfokus pada kemampuan memperoleh jawaban, tetapi juga memberikan pengalaman kepada murid mengenai bagaimana suatu konsep dapat ditemukan dan dipahami.
Melalui kegiatan ini, pelaksanaan Praktik Kependidikan UNY di SMA Negeri 1 Kalibawang turut menghadirkan praktik pembelajaran yang mendukung semangat SDGs nomor 4. Pengalaman belajar yang memberikan ruang bagi murid untuk berpikir, menemukan, berdiskusi, dan membangun pemahamannya sendiri menjadi salah satu langkah untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas.
