Sekali Klik, Seumur Hidup Pusing: Banyak Orang Salah Langkah karena Pinjol

Mahasiswa Prodi S1 Manajemen - Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Abil Khalik Syabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah lihat notifikasi yang bunyinya "Dana cair 5 menit, tanpa jaminan!"? Kedengarannya seperti penyelamat, apalagi pas tanggal tua atau ketika ada kebutuhan mendadak yang tidak bisa ditunda. Tinggal isi data, klik setuju, uang langsung masuk rekening. Gampang banget. Justru karena terlalu gampang itulah banyak orang lupa bertanya pada diri sendiri: kalau semudah ini, sebenarnya apa yang saya bayar? Pinjaman online, atau yang biasa disebut pinjol, memang bisa menjadi solusi. Tetapi di tangan yang salah, atau diambil dengan cara yang salah, ia berubah menjadi jebakan yang susah dilepas.
Apa Sih Pinjol Itu, dan Kenapa Banyak yang Terjebak?
Pinjol adalah layanan pinjam-meminjam uang yang prosesnya sepenuhnya berjalan lewat aplikasi atau situs web. Ada dua jenis yang perlu dibedakan. Pertama, pinjol legal, yaitu yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga bunga, denda, dan cara penagihannya punya aturan yang jelas. Kedua, pinjol ilegal, yaitu yang tidak terdaftar di OJK, biasanya menawarkan bunga dan denda yang mencekik, serta menagih dengan cara yang jauh dari etika.
Kesalahan pertama yang paling sering terjadi adalah tidak mengecek legalitas. Banyak orang langsung mengunduh aplikasi dari iklan atau pesan singkat yang masuk ke ponsel mereka, padahal di situlah pintu masalah mulai terbuka. Kesalahan berikutnya lebih halus, yaitu meminjam untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif seperti gaya hidup, belanja impulsif, atau sekadar ikut tren. Kita merasa uangnya "cuma segini", tetapi lupa bahwa yang harus dikembalikan selalu lebih besar daripada yang diterima.
Fakta-Fakta yang Sering Terlewat
Ada beberapa hal yang sering luput dari perhatian. Cicilan kecil tidak selalu berarti biaya kecil. Tenor yang pendek dengan bunga harian membuat total biaya pinjaman jauh lebih besar daripada yang terlihat di awal, dan kalau dihitung dalam setahun angkanya bisa bikin kaget. Karena itu, sebelum menyetujui pinjaman, hitunglah total yang harus dikembalikan, bukan hanya jumlah yang cair ke rekening.
Izin akses data juga bukan sekadar formalitas. Banyak aplikasi pinjol, terutama yang ilegal, meminta akses ke kontak, galeri, dan lokasi. Data tersebut bisa dipakai untuk menekan peminjam saat terlambat membayar, misalnya dengan menghubungi seluruh daftar kontak di ponselnya. Itulah sebabnya kita perlu berpikir dua kali sebelum menekan tombol "Izinkan".
Selain itu, pola "gali lubang tutup lubang" itu nyata. Ketika satu pinjaman jatuh tempo dan uangnya belum ada, godaan terbesar adalah meminjam di aplikasi lain untuk menutupnya. Awalnya satu aplikasi, lalu dua, lalu lima, dan inilah jalur tercepat menuju utang yang menumpuk. Yang tidak kalah penting, riwayat pembayaran kita tercatat dalam sistem informasi keuangan. Tunggakan yang dibiarkan bisa mempersulit kita ketika kelak mengajukan KPR, kredit kendaraan, atau bahkan kartu kredit.
Dampaknya yang Terjadi Tidak cuma Soal Uang
Kalau ditarik lebih jauh, dampak pinjol yang salah langkah terasa di banyak sisi kehidupan. Dari sisi keuangan, utang membengkak, gaji habis untuk membayar cicilan, dan tabungan pun menipis. Dari sisi psikologis, banyak peminjam mengalami stres, cemas, sulit tidur, bahkan menarik diri dari lingkungan karena takut ditagih atau dipermalukan. Hubungan sosial pun bisa renggang ketika penagih mulai menghubungi keluarga, teman, dan rekan kerja. Ke depannya, catatan kredit yang buruk juga membatasi akses kita ke layanan keuangan lain. Jadi masalahnya jarang berhenti di kata "utang"; efeknya merembet ke kehidupan sehari-hari.
Lalu, Gimana Biar Tidak Salah Langkah?
Kabar baiknya, kita tidak perlu anti terhadap pinjol, cukup bijak memakainya. Mulailah dengan mengecek legalitas penyedia layanan lewat situs resmi OJK sebelum mengunduh aplikasi apa pun. Pinjamlah untuk kebutuhan, bukan keinginan, dan kalau sesuatu masih bisa ditunda, tunda saja. Hitung juga kemampuan bayar dengan jujur agar cicilan tidak mengganggu kebutuhan pokok bulanan, lalu baca ketentuan bunga, denda, dan tenor sebelum menekan tombol setuju. Terakhir, jangan menutup utang dengan utang baru. Kalau sudah mulai kesulitan, hubungi penyedia layanan untuk membicarakan keringanan atau cari bantuan dari pihak yang berwenang.
Kenapa Harus Berfikir Dulu Sebelum Bertindak?
Karena pada dasarnya pinjol hanyalah alat. Ia bisa membantu di saat genting, tetapi bisa juga menyeret kita ke masalah panjang kalau dipakai tanpa pertimbangan. Kuncinya ada pada kita: melek literasi keuangan, teliti sebelum meminjam, dan berani menolak kemudahan yang terlalu manis. Ingat, uang yang cair dalam lima menit bisa jadi baru lunas setelah bertahun-tahun penuh penyesalan. Jadi, sebelum menekan tombol "ajukan", tarik napas dulu dan tanyakan pada diri sendiri: ini benar-benar perlu, atau cuma ingin?
