Untung Banyak di Atas Kertas, Kosong di Dompet: UMKM Gagal Mengatur Keuangan

Mahasiswa Prodi S1 Manajemen - Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Abil Khalik Syabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah dengar cerita pemilik warung yang dagangannya laris tiap hari, tapi ujung-ujungnya bingung ke mana uangnya pergi? Ini bukan cerita langka. Di banyak UMKM, omzet bisa terlihat besar, namun kas usaha justru tipis. Masalahnya sering bukan pada kurangnya pembeli, melainkan pada cara mengelola uang yang masuk dan keluar.
Secara sederhana, mengatur keuangan usaha berarti mencatat pemasukan dan pengeluaran, memisahkan uang pribadi dari uang usaha, dan mengetahui berapa untung bersih yang sebenarnya didapat. Kebiasaan yang paling sering terjadi adalah uang hasil jualan langsung dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, lalu modal usaha terkikis pelan-pelan tanpa disadari. Ada juga pelaku usaha yang menyamakan omzet dengan keuntungan, padahal omzet adalah total penjualan, sedangkan untung adalah sisa setelah dikurangi bahan baku, sewa, gaji, listrik, dan biaya lainnya. Tanpa pencatatan, harga jual pun sering ditentukan asal-asalan, bahkan bisa lebih rendah dari biaya produksi.
Faktanya, UMKM adalah tulang punggung ekonomi kita, Mengapa?
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, sektor ini menyumbang sekitar 60 persen terhadap PDB dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Namun, banyak pelaku UMKM masih mengelola keuangan secara manual atau bahkan hanya mengandalkan ingatan. Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia menurut survei OJK juga belum mencapai angka yang ideal, sehingga wajar jika pemahaman soal pembukuan, arus kas, dan perencanaan dana belum merata di kalangan pelaku usaha kecil.
Dampaknya
Pertama, usaha sulit berkembang karena tidak ada gambaran jelas soal kondisi bisnis, sehingga keputusan seperti menambah stok atau membuka cabang diambil hanya dengan feeling. Kedua, UMKM sulit mendapat pembiayaan dari bank karena tidak memiliki laporan keuangan yang bisa dijadikan dasar penilaian kelayakan kredit. Ketiga, usaha jadi rentan terjerat utang, terutama pinjaman berbunga tinggi, ketika kas mendadak seret. Dalam jangka panjang, banyak usaha yang akhirnya gulung tikar bukan karena sepi pembeli, tetapi karena arus kasnya tidak terkendali.
Gimana cara mengatasinya?
Kabar baiknya, memperbaiki hal ini tidak harus rumit. Mulailah dengan langkah kecil: catat semua transaksi harian, pisahkan rekening pribadi dan usaha, tetapkan gaji untuk diri sendiri, dan sisihkan sebagian laba untuk dana cadangan. Kini sudah banyak aplikasi pencatatan keuangan gratis yang mudah dipakai lewat ponsel. Pada akhirnya, usaha yang sehat bukan hanya yang ramai pembeli, tetapi yang pemiliknya tahu persis ke mana setiap rupiah mengalir. Jadi, sebelum memikirkan cara menjual lebih banyak, yuk rapikan dulu cara mengelola uangnya.
