Apakah Semua Orang Bahagia dengan Uang?

penulis tentang khazanah keislaman, seperti fikih, hikmah, tasawuf, Hadits, Al-Qur'an dan semacamnya.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Abil Qasim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekilas memandang zaman sekarang, tampaknya jawabannya adalah "iya". Uang menjadi semacam jimat modern: siapa yang punya, ia tampak lebih leluasa, lebih dihormati, dan lebih dekat dengan gambaran umum tentang kebahagiaan. Cobalah tengok kehidupan dalam rumah tangga, berapa banyak pasangan suami istri yang akhirnya memilih berpisah, atau minimal hidup dalam tekanan dan konflik yang tak kunjung selesai, karena beban ekonomi? Uang—atau lebih tepatnya, kekurangannya—kerap menjadi pemantik api dalam relasi yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan damai.
Faktanya, hampir semua aspek kehidupan modern seolah tak bisa dilepaskan dari uang. Kesehatan, pendidikan, bahkan kehangatan dalam keluarga—semuanya, di satu titik, bisa terancam ketika kondisi finansial berada di ambang batas. Namun, penting juga untuk tidak jatuh pada generalisasi. Ada orang-orang yang meski hidup dalam keterbatasan, tetap bisa tersenyum tenang, menikmati hidup yang sederhana, namun cukup. Apakah itu karena mereka sudah pasrah? Atau karena memang berhasil mendefinisikan ulang arti "cukup"?
Di sisi yang lain, banyak pula yang dulunya bahagia dengan sedikit, lalu merasa jauh lebih bahagia ketika uangnya bertambah. Hal ini tidak salah. Uang memang bisa memberikan ruang: ruang untuk memilih, untuk tenang, bahkan untuk mencintai lebih lapang. Tapi apakah itu berarti semakin banyak uang, semakin besar pula kebahagiaan? Tidak juga. Sebab kita tahu, tak sedikit yang punya segalanya—harta, kekuasaan, pengaruh—tapi tetap merasa hampa.
Lalu bagaimana dengan keberhasilan? Dengan uang, banyak orang bisa mengakses pendidikan terbaik, lingkungan yang aman, gizi yang cukup, dan kesehatan yang layak. Dalam konteks parenting misalnya, orang tua yang punya stabilitas finansial seringkali bisa memberikan perhatian yang lebih utuh: anak-anak bisa tumbuh dalam lingkungan yang terencana dan sehat, tak diburu oleh kecemasan soal esok makan apa atau sekolah di mana. Tapi tetap saja, ada ironi: untuk bisa hadir sepenuhnya bagi anak, banyak orang tua justru harus absen karena sibuk bekerja demi... uang.
Kenapa Tidak Semuanya Gratis Saja?
Pertanyaan ini mungkin terdengar naif, bahkan konyol. Tapi bukankah semua pertanyaan besar dalam sejarah manusia awalnya dianggap remeh? Kenapa semua hal dalam hidup harus melibatkan uang—bahkan hal-hal yang sifatnya spiritual, yang seharusnya menjadi ranah paling murni dan tak ternoda oleh kepentingan duniawi?
Jawaban singkatnya: karena manusia punya kebutuhan. Kita tidak bisa hidup sendiri. Kita butuh makanan, tempat tinggal, pendidikan, perlindungan, dan tentu saja: pengakuan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, manusia harus berinteraksi. Dalam interaksi itu muncul pertukaran. Dan dalam sistem modern, uang menjadi alat pertukaran yang paling disepakati.
Namun, kebutuhan tidak selamanya netral. Ia bersumber dari syahwat—hasrat dalam diri manusia yang ingin lebih, lebih, dan lebih. Inilah awal dari dilema. Ketika syahwat tak dikendalikan, kebutuhan berubah menjadi kerakusan. Dan kerakusan, sepanjang sejarah, adalah sumber dari banyak kehancuran: perang, eksploitasi, ketimpangan, bahkan krisis lingkungan.
Lihatlah dunia saat ini: manusia menciptakan kemajuan teknologi, tetapi juga menciptakan kerusakan ekologis yang masif. Kita ingin bertahan hidup, tetapi juga ingin hidup dengan kemewahan dan kenyamanan yang tak pernah cukup. Akibatnya, dunia seperti dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya. Dan ujung dari semua ini bisa jadi adalah kehancuran itu sendiri—yang bukan terjadi karena bencana alam semata, melainkan karena ulah manusia yang tidak pernah tahu kapan harus berhenti.
Mengapa Manusia Sering Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain?
Karena pada dasarnya, manusia bertindak berdasarkan apa yang ia pikir akan membuatnya bahagia. Bahkan ketika ia tahu akibat buruknya. Seperti seseorang yang terus merokok meski tahu risiko kesehatannya, atau terus mengejar uang meski tahu sedang kehilangan waktu bersama orang tercinta.
Kenapa? Karena kebahagiaan jangka pendek lebih menggoda daripada kesadaran jangka panjang. Rasa nikmat yang sebentar seringkali lebih kuat daripada rasa rugi yang lambat.
Inilah ironi terdalam manusia: sadar tapi tetap mengulangi. Tahu tapi tetap melangkah. Hidup dalam perulangan yang kadang tampak tragis, tapi juga manusiawi.
Uang, Kebutuhan, dan Kesadaran
Uang bukan segalanya, tapi tanpa uang, banyak hal menjadi sangat sulit. Kebutuhan adalah fitrah, tapi ketika kebutuhan berubah menjadi hasrat yang tak terkontrol, itulah awal kehancuran. Kita perlu uang, kita perlu bekerja, kita perlu saling bergantung. Namun yang lebih penting dari itu semua: kita perlu sadar.
Sadar kapan cukup.
Sadar mana yang penting.
Sadar bahwa hidup tidak hanya soal memiliki, tapi juga memberi, dan merelakan.
