Badan Geologi Jelaskan soal Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Fenomena nyala biru teramati di sejumlah titik di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut. Dok: Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.
zoom-in-whitePerbesar
Fenomena nyala biru teramati di sejumlah titik di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut. Dok: Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.

Fenomena nyala biru teramati di sejumlah titik di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut. Badan Geologi menginterpretasikan fenomena tersebut sebagai blue fire yang berkaitan dengan pembakaran belerang di area solfatara.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, mengatakan fenomena tersebut teramati dalam pengamatan pada 23 dan 24 September 2026.

“Berdasarkan pengamatan Badan Geologi, pada 23 September 2026 tampak nyala biru keunguan di beberapa titik dengan sebaran cukup luas. Pada 24 September, nyala yang terlihat lebih sedikit dan lebih terkonsentrasi, dengan warna biru keputihan,” kata Rita dalam keterangannya, Jumat (25/9).

Menurutnya, nyala yang muncul di kawasan Papandayan memiliki karakteristik yang sesuai dengan fenomena blue fire. Fenomena tersebut berkaitan dengan gas panas yang keluar di area yang mengandung belerang.

“Nyala tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena blue fire yang berkaitan dengan pembakaran belerang di area solfatara. Fenomena serupa sebelumnya pernah dilaporkan di Kawah Baru Papandayan,” ujarnya.

Fenomena nyala biru teramati di sejumlah titik di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut. Dok: Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat.

Badan Geologi juga mencatat adanya perubahan pada bukaan Kawah Manuk sejak 2025. Bukaan kawah tersebut cenderung menyempit dan disertai dengan berkurangnya asap yang terlihat di permukaan.

Perubahan tersebut diduga dapat memengaruhi jalur keluarnya gas panas. Gas kemungkinan mencari jalur lain melalui rekahan atau bagian dinding kawah lainnya, termasuk di sekitar lokasi munculnya nyala biru.

“Gas panas yang keluar di area yang mengandung belerang dapat menghasilkan nyala biru,” jelas Rita.

Meski demikian, Badan Geologi belum memastikan adanya hubungan langsung antara penyempitan bukaan Kawah Manuk dengan kemunculan fenomena blue fire tersebut.

“Namun, hubungan antara penyempitan bukaan Kawah Manuk dan kemunculan nyala biru masih perlu dikaji; rekaman visual saja belum cukup untuk memastikannya,” katanya.

Saat ini, tim Badan Geologi tengah melakukan pemeriksaan langsung di lapangan. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menganalisis fenomena nyala biru sekaligus mengkaji potensi bahaya yang mungkin ditimbulkan.

Rita memastikan, berdasarkan hasil pengamatan Badan Geologi hingga saat ini, tingkat aktivitas Gunung Papandayan masih berada pada Level I atau Normal.

“Masyarakat dan pengunjung diminta tidak beraktivitas atau menginap dalam radius 500 meter dari bukaan kawah aktif, tetap tenang, serta mengikuti informasi resmi Badan Geologi dan pemerintah daerah setempat,” pungkasnya.