Cerita Anak Muda Bandung Kembangkan Replast Lab untuk Kurangi Sampah Plastik
ยทwaktu baca 4 menit

Di atas sebuah meja, sejumlah gantungan kunci berwarna-warni tersusun rapi. Di sampingnya, papan berbahan plastik daur ulang menunjukkan corak unik yang tak kalah menarik dibanding produk pabrikan.
Sulit membayangkan benda-benda tersebut dulunya hanyalah tutup botol dan sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan.
Bagi Dafa Alif (23), sampah bukan sekadar limbah yang harus disingkirkan. Sampah adalah sumber daya yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Bersama dua rekannya, Wildan dan Rizky, Dafa mendirikan Replast Lab pada 2024. Sebuah inisiatif bisnis daur ulang yang lahir dari keresahan melihat persoalan sampah plastik yang terus membesar di Indonesia.
Nama Replast Lab sendiri merupakan singkatan dari recycle plastic. Sementara kata "lab" dipilih karena menjadi ruang eksperimen bagi mereka untuk terus berkreasi mengolah limbah plastik menjadi berbagai produk baru.
"Awal mula Replast Lab ini terbentuk karena KKN," kata Dafa saat ditemui di kediamannya di Karasak Tengah, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Kamis (4/6).
Kisahnya bermula pada akhir 2023 ketika Dafa dan rekan-rekannya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu desa di Kabupaten Sumedang. Saat itu, mereka dihadapkan pada dua pilihan program, yakni sektor tekstil atau pengelolaan sampah.
Pilihan mereka jatuh pada isu persampahan. Menurut Dafa, sektor tersebut menawarkan ruang yang lebih luas untuk dieksplorasi sekaligus menghadirkan tantangan yang nyata di tengah masyarakat.
Selama menjalani KKN, mereka mengembangkan berbagai inovasi sederhana, mulai dari paving block, batako, mesin pembakaran sampah tanpa asap, hingga pengolahan plastik menjadi produk baru.
Namun, setelah program KKN selesai, persoalan sampah justru terus menghantui pikiran mereka.
"Isunya itu makin lama makin parah. Isu persampahan di Indonesia ini. Makanya saya dan rekan-rekan menginisiasikan untuk membangun Replast Lab," ujarnya.
Keputusan untuk fokus pada plastik bukan tanpa alasan. Dari pengamatan mereka di tempat pembuangan sampah, plastik menjadi jenis sampah nonorganik yang jumlahnya paling mendominasi.
Kemasan makanan, kantong kresek, hingga bungkus jajanan sehari-hari terus menambah gunungan sampah yang sulit terurai.
"Kalau misalnya untuk plastik itu kenapa jauh lebih banyak karena sekarang hampir semua aktivitas menggunakan plastik. Sampahnya sudah terlalu menggunung," kata Dafa.
Dari tangan mereka, limbah plastik yang semula tidak bernilai disulap menjadi berbagai produk fungsional. Mulai dari papan plastik, boks penyimpanan, meja, kursi, lemari, hingga gantungan kunci.
Bahkan, kantong kresek bekas dapat diolah kembali menjadi pouch dan card holder yang memiliki nilai jual.
Prosesnya tidak sederhana. Tutup botol plastik terlebih dahulu dipilah, dicacah secara manual maupun menggunakan mesin, lalu ditimbang dan disesuaikan.
Setelah itu, cacahan plastik dipanaskan menggunakan mesin khusus dan dipres hingga membentuk lembaran padat yang kemudian dipotong serta dirakit menjadi berbagai produk.
Pendanaan Sempat Jadi Kendala
Di balik kreativitas tersebut, perjalanan Replast Lab tidak selalu mulus. Tantangan terbesar yang mereka hadapi pada awal merintis adalah pendanaan. Mesin pencacah, alat produksi, kebutuhan listrik, hingga tempat produksi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
"Banyak orang mengira ngolah sampah itu murah. Padahal tidak. Mesin, alat-alat, listrik, dan tempat itu membutuhkan biaya besar," ujarnya.
Namun, menurut Dafa, tantangan yang jauh lebih sulit justru bukan soal modal, melainkan mengubah pola pikir masyarakat tentang sampah.
Ia menilai slogan "buanglah sampah pada tempatnya" tidak cukup menyelesaikan masalah jika masyarakat tidak memahami ke mana sampah tersebut akan berakhir.
"Sampah itu sebenarnya tidak punya tempat di bumi. Ujung-ujungnya hanya berpindah ke TPS atau TPA dan terus menggunung," katanya.
Meski baru diperkuat tiga orang inti dan sekitar sembilan anggota tim secara keseluruhan, Dafa memiliki mimpi yang jauh lebih besar.
Ia ingin menghadirkan program penyuluhan dan workshop pengelolaan sampah bagi masyarakat. Mulai dari edukasi pemilahan hingga pelatihan membuat produk daur ulang yang memiliki nilai ekonomi.
"Penginnya adalah pertama pasti penyuluhan ke masyarakatnya. Kalau misalkan saya bisa penyuluhan ke masyarakatnya, setidaknya bisa mengurangi problemasi sampah itu," ujarnya.
Keinginan itu lahir dari keresahannya melihat masih banyak warga yang membuang sampah ke sungai.
"Di belakang sini ada sungai dan masyarakat masih banyak yang buang sampah ke sana. Itu sangat mengganggu ekosistem," ujarnya.
Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah Kota Bandung, Dafa percaya perubahan harus dimulai dari dua arah sekaligus, yakni masyarakat dan pemerintah.
Menurutnya, edukasi mengenai sampah masih minim diajarkan sejak usia dini. Di sisi lain, dukungan pemerintah terhadap pengelolaan sampah juga perlu diperkuat, terutama di kota wisata seperti Bandung yang menghasilkan volume sampah besar setiap harinya.
Ke depan, Dafa berharap Replast Lab tidak hanya tumbuh sebagai bisnis daur ulang, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Baginya, plastik bekas bukan akhir dari sebuah barang. Dengan kesempatan kedua, sampah dapat menjelma menjadi produk bernilai, membuka lapangan kerja, sekaligus membantu mengurangi beban lingkungan.
"Saya berharap Replast bisa memberikan lebih banyak edukasi kepada masyarakat bahwa sampah itu kalau diberi kesempatan kedua bisa menjadi jauh lebih bernilai dan menjadi produk yang bisa dibanggakan di Indonesia," katanya.
