Kurator: Buku 'Warna Bali' Ajak Pembaca Tinggalkan Cara Pandang 'Orang Kota'

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ahda 'Imran, penulis/sastrawan, Qanissa Aghara, Kurator Muda dan Praktisi Seni Bandung, Heru Rukayat, Kurator Selasar Sunaryo Bandung, dan Rizki A. Zaelani, Kurator dan Praktisi Seni, pada Acara Bedah Buku "Warna Bali" di Bandung, Rabu (22/7/2026). Foto: Abisatya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ahda 'Imran, penulis/sastrawan, Qanissa Aghara, Kurator Muda dan Praktisi Seni Bandung, Heru Rukayat, Kurator Selasar Sunaryo Bandung, dan Rizki A. Zaelani, Kurator dan Praktisi Seni, pada Acara Bedah Buku "Warna Bali" di Bandung, Rabu (22/7/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Kurator Selasar Sunaryo Bandung, Heru Hikayat, mengajak masyarakat untuk melepaskan cara pandang "orang kota" ketika membaca buku Warna Bali. Menurutnya, pemahaman terhadap buku tersebut tidak cukup hanya mengandalkan logika ilmiah dan pengalaman visual, tetapi juga memerlukan keterbukaan terhadap dimensi spiritual, budaya lisan, serta pengalaman yang melampaui bahasa dan material.

Pandangan itu disampaikan Heru saat menjadi pembicara dalam diskusi bedah buku Warna Bali di Silokarupaka Indoor Teater, Kota Baru Parahyangan pada Rabu (22/7). Ia mengaku menerima undangan sebagai pembicara bukan karena memiliki keahlian khusus mengenai Bali, melainkan ingin menawarkan sudut pandang lain dalam membaca isi buku tersebut.

"Saya tidak tahu Bali dan saya juga tidak pernah meneliti seni rupa Bali atau budaya Bali secara lebih luas. Yang ingin saya tawarkan adalah cara membaca buku ini dari perspektif pengalaman di luar bahasa, di luar warna, di luar material, bahkan di luar fisik," ujarnya.

Heru mengatakan, persoalan utama yang dihadapi masyarakat modern atau yang ia sebut sebagai "orang kota" adalah terbiasa melihat segala sesuatu dari sudut pandang antroposen, yakni menempatkan manusia sebagai pusat dari segala hal. Akibatnya, warna hanya dipahami sebagai sesuatu yang melayani manusia, misalnya berkaitan dengan psikologi atau suasana hati.

Menurutnya, pendekatan tersebut berbeda dengan cara pandang yang ditawarkan buku Warna Bali. Ia menilai buku itu tidak memposisikan warna sebagai simbol semata, melainkan sebagai wadah yang menghubungkan dimensi material dengan dimensi nonmaterial.

Ahda Imran, penulis/sastrawan, Qanissa Aghara, Kurator Muda dan Praktisi Seni Bandung, Heru Rukayat, Kurator Selasar Sunaryo Bandung, dan Rizki A. Zaelani, Kurator dan Praktisi Seni, pada Acara Bedah Buku "Warna Bali" di Bandung, Rabu (22/7/2026). Foto: Abisatya/kumparan

Dalam pemaparannya, Heru mengutip tulisan Dewa Gede Purwita yang menyebut bahwa sifat Siwa merupakan energi itu sendiri sekaligus pancaran cahaya yang tidak berwarna, namun mampu merefleksikan warna ke segala arah. Kutipan tersebut, menurutnya, menjadi kunci untuk memahami keseluruhan isi buku.

"Kalau kita tidak bisa memahami pernyataan seperti itu, kita akan kesulitan memahami isi buku secara keseluruhan. Bisa jadi akhirnya buku ini hanya berakhir di perpustakaan," katanya.

Heru juga menyoroti sejumlah artikel dalam buku yang membahas pertemuan budaya India dan Tiongkok di Bali. Ia menilai percampuran budaya tersebut dapat terjadi karena adanya kesamaan mendasar dalam sistem kepercayaan, yakni pandangan bahwa segala sesuatu yang bersifat material merupakan bagian dari yang Illahi.

Selain itu, ia mengapresiasi sejumlah penulis dalam buku yang memadukan referensi akademik dengan tradisi lisan. Menurutnya, banyak aspek sejarah dan kebudayaan Bali justru tidak dapat ditelusuri hanya melalui sumber tertulis, tetapi ditemukan melalui cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

"Kalau kita hanya bersandar pada budaya tertulis, banyak asal-usul yang tidak akan ditemukan. Justru bisa ditemukan melalui tradisi lisan," ujarnya.

Heru juga menilai bagian yang membahas material, teknik pengolahan, hingga estetika warna Bali menjadi salah satu bagian paling rinci dalam buku. Namun ia menegaskan bahwa pengetahuan teknis saja belum cukup untuk memahami makna warna Bali.

Ia menjelaskan bahwa media dalam seni seharusnya dipahami sebagai pengalaman yang melibatkan tubuh dan hubungan manusia dengan alam, bukan sekadar alat yang dibeli untuk berkarya. Menurutnya, kebiasaan masyarakat modern yang cenderung konsumtif membuat pengalaman tersebut semakin berkurang.

Menutup pemaparannya, Heru menyebut tantangan terbesar dalam membaca Warna Bali adalah keberanian meninggalkan kebiasaan berpikir yang terlalu kritis dan semata-mata bertumpu pada nalar ilmiah. Ia mengajak pembaca membuka diri terhadap cara pandang yang lebih luas agar dapat memahami pesan yang ingin disampaikan buku tersebut.

"Cara terbaik memahami isi buku Warna Bali adalah menanggalkan dulu kebiasaan kita sebagai orang kota, kebiasaan konsumtif, dan kebiasaan mendasarkan segala sesuatu pada nalar ilmiah. Hanya dengan cara itu kita bisa memahami buku Warna Bali," tuturnya.

Dalam sesi tanya jawab, Heru juga menjelaskan bahwa buku tersebut tidak hanya membahas aspek filosofis, tetapi turut memuat penjelasan teknis mengenai warna tradisional Bali, termasuk asal-usul warna gincu, tabel warna, hingga teknik pewarnaan pada lukisan Kamasan. Menurutnya, kelengkapan pembahasan itulah yang menjadi salah satu kekuatan utama buku Warna Bali