Konten dari Pengguna

Masjid Sheikh Zayed Solo: Wisata Religi Memorable

Abiyoso Marzidan

Abiyoso Marzidan

Seorang Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abiyoso Marzidan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Mosquegrapher yang diunggah di Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Mosquegrapher yang diunggah di Unsplash.

Kubah-kubah putih bersih menjulang di bawah langit Solo seolah memindahkan sepotong kota Abu Dhabi ke jantung Jawa Tengah. Masjid Raya Sheikh Zayed Solo bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah pengalaman yang meresap perlahan, dari langkah pertama memasuki pelataran hingga momen hening saat duduk di dalam ruang utamanya.

Sejak diresmikan pada November 2022, masjid ini telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata religi paling berkesan di Indonesia. Bukan hanya karena kemegahannya, tetapi karena cara Masjid Raya Sheikh Zayed menyentuh siapa saja yang datang, terlepas dari latar belakang dan tujuan kedatangan mereka.

Simbol Persahabatan RI - UEA

Masjid ini bukan hasil pembangunan biasa. Masjid Raya Sheikh Zayed Solo merupakan hadiah dari pemerintah Uni Emirat Arab kepada Indonesia. Hal tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah gestur persahabatan antarbangsa yang kemudian diwujudkan menjadi bangunan nyata di tengah Kota Solo. Nama Sheikh Zayed diabadikan untuk menghormati mendiang Presiden pertama UEA, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, sosok yang dikenal atas kearifan dan kebesaran hatinya.

Sejak awal, masjid ini dirancang bukan hanya sebagai tempat salat, melainkan juga sebagai ruang silaturahmi. Masjid ini menjadi simbol bahwa spiritualitas bisa menjadi jembatan di antara perbedaan.

Arsitektur yang Mempesona

Hal pertama yang akan kamu rasakan adalah kagum. Desain masjid ini mengambil inspirasi kuat dari Masjid Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi: empat menara ramping menjulang setinggi lebih dari 60 meter, kubah-kubah putih berjajar simetris, dan lantai marmer yang memantulkan cahaya matahari dengan cara yang terasa hampir sakral.

Di malam hari, suasananya berubah total. Pencahayaan yang menyinari kubah dan menara menghadirkan atmosfer yang lebih tenang, lebih dalam, seolah mengundang untuk sejenak berhenti dari riuh kota. Banyak pengunjung yang datang dua kali: siang untuk melihat detailnya, malam untuk merasakan keheningannya.

Meski mampu menampung sekitar 10.000 jamaah, ruang dalamnya tidak terasa dingin atau impersonal. Ada kehangatan yang mengalir di antara pilar-pilarnya, terutama saat waktu salat tiba dan shaf-shaf mulai terisi satu per satu.

Bagi banyak pengunjung, datang ke sini bukan semata-mata tentang melihat. Ada momen ketika adzan berkumandang dan seluruh pelataran seolah berhenti bernapas sejenak. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan saat duduk di dalam ruang utama, memandang langit-langit tinggi dengan ornamen geometris yang rumit namun harmonis. Bagi yang datang untuk beribadah, masjid ini menawarkan pengalaman salat yang khusyuk dan nyaman. Bagi yang datang sebagai wisatawan, ada pelajaran diam-diam yang bisa dipetik tentang keindahan, tentang kebesaran, tentang bagaimana sebuah bangunan bisa membuat manusia merasa kecil sekaligus damai pada saat yang sama.

Ruang Belajar yang Terbuka untuk Semua

Salah satu hal yang membuat Masjid Sheikh Zayed istimewa adalah keterbukaannya. Pengunjung non-Muslim pun dipersilakan masuk untuk mengenal Islam lebih dekat melalui arsitektur dan suasana yang ada, tentu dengan menjaga adab dan menghormati kesakralannya.

Banyak rombongan pelajar dan keluarga yang datang untuk belajar tentang hubungan Indonesia-UEA, tentang seni Islam, tentang makna persahabatan antarbangsa yang diwujudkan dalam bentuk konkret. Ini menjadikan masjid bukan hanya milik satu komunitas, melainkan bagian dari warisan budaya yang layak dinikmati siapa saja.

Tips Merencanakan Kunjungan

Masjid Sheikh Zayed berlokasi di kawasan Gilingan, tidak jauh dari pusat kota Solo, sehingga mudah dijangkau. Namun bagi yang datang dari luar kota dan ingin menikmati kunjungan tanpa terburu-buru untuk mengejar salat Subuh saat fajar mewarnai kubah-kubah putih Masjid Raya Sheikh Zayed, atau sekadar menikmati suasana malam di pelataran, memilih penginapan yang dekat tentu menjadi pertimbangan praktis.

Hotel Asia Solo, yang lokasinya tidak jauh dari area masjid, menjadi salah satu pilihan yang kerap dipertimbangkan pengunjung karena aksesnya yang mudah ke kawasan ini. Bagi yang ingin menjadikan kunjungan ke masjid sebagai bagian dari perjalanan lebih panjang menjelajahi Solo, punya base camp yang dekat tentu membuat segalanya lebih santai dan terencana.

Ikon yang Memperkuat Wajah Solo

Kota Solo selalu punya cara tersendiri dalam merawat identitasnya. Kota Solo merupakan kota yang kaya budaya Jawa, sekaligus terbuka pada pengaruh dari luar. Kehadiran Masjid Sheikh Zayed memperkaya warna itu. Masjid ini menjadi sebuah simbol bahwa Solo adalah kota yang bisa memeluk banyak cerita sekaligus.

Hari ini, masjid ini telah menjadi salah satu ikon yang paling sering dicari wisatawan yang berkunjung ke Solo. Bukan hanya untuk difoto, tetapi untuk merasakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perjalanan biasa.

Perjalanan yang Meninggalkan Jejak

Mengunjungi Masjid Raya Sheikh Zayed Solo adalah pengalaman yang tidak mudah dilupakan begitu saja. Banyak yang datang satu kali, lalu kembali lagi, karena ada sesuatu di sana yang sulit didefinisikan, tetapi mudah dirasakan.

Mungkin itulah hakikat sebuah tempat ibadah yang sejati: bukan hanya menyimpan keindahan fisik, tetapi juga memancarkan sesuatu yang membuat hati ingin pulang.