Wisata Religius Masjid Sheikh Zayed Solo: Simbol Persahabatan RI - UEA

Seorang Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Abiyoso Marzidan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang istimewa dari cara Solo menyambut siapa pun yang datang. Kota ini tidak tergesa. Ia mengalir seperti Bengawan Solo di pagi hari, tenang dan penuh rasa. Di antara gamelan, batik, dan keraton yang sudah lama menjadi jantung budaya kota ini, kini hadir satu ruang baru yang menawarkan kedamaian berbeda: sebuah masjid yang berdiri megah di Jalan Ahmad Yani, menjadi titik temu antara spiritualitas, arsitektur, dan persahabatan antarbangsa.
Masjid Raya Sheikh Zayed Solo bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah sebuah pernyataan diam-diam bahwa keindahan bisa menjadi jembatan, bahwa persahabatan bisa dituangkan dalam marmer putih dan menara yang menjulang ke langit.
Kisah masjid ini dimulai dari hubungan baik dua kepala negara. Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab, menghadiahkan masjid ini kepada Indonesia sebagai wujud nyata persahabatan kedua bangsa. Pembangunan dimulai pada 2021, dan kurang dari dua tahun kemudian, pada 14 November 2022, Presiden Joko Widodo meresmikannya bersama MBZ dalam satu momen bersejarah yang langka.
Masjid ini berdiri di atas lahan seluas lebih dari 26.000 meter persegi, dengan bangunan seluas sekitar 8.000 meter persegi yang mampu menampung hingga 10.000 jemaah. Sejak dibuka untuk umum pada Maret 2023, ia langsung menjelma menjadi salah satu destinasi wisata religi paling diminati di Jawa Tengah.
Hadiah ini bukan sekadar transfer fisik bangunan. Ia adalah gestur diplomatik yang melampaui angka-angka dalam nota kesepahaman. Ketika sebuah negara memberikan masjid kepada negara lain, ada kepercayaan dan penghormatan yang ditanamkan di setiap fondasinya.
Begitu menapaki kawasan masjid, siapa pun akan berhenti sejenak. Bukan karena aturan, tetapi karena matanya butuh waktu untuk menyerap semua yang ada di depannya.
Masjid ini merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, salah satu masjid paling megah di dunia. Empat menara tinggi berdiri gagah di sudut-sudut bangunan, sementara kubah-kubah putih memantulkan cahaya seperti mutiara di bawah matahari tropis. Ornamen kaligrafi dan ukiran geometris yang melapisi dinding bukan sekadar dekorasi, melainkan cerminan seni Islam yang telah berabad-abad diasah oleh peradaban Timur Tengah.
Yang menarik, kemegahan itu tidak terasa asing di Solo. Entah karena warna putihnya yang bersih dan teduh, atau karena halaman luas yang terbuka seperti alun-alun, masjid ini justru terasa seperti bagian yang memang sudah lama hilang dan kini kembali ke tempatnya. Ada harmoni antara keanggunan arsitektur Arab dan kehangatan kota Jawa yang mengalir secara alami di sini.
Datanglah di pagi hari, setelah Subuh mulai beranjak dan cahaya masih lembut menyapu plaza. Atau sore menjelang Asar, ketika langit Solo berubah jingga dan bayangan menara mulai memanjang di atas lantai marmer. Pada saat-saat seperti itu, masjid ini terasa seperti ruang sunyi di tengah dunia yang berisik.
Di dalam masjid, suasana khusyuk terasa tanpa perlu dipaksakan. Tata cahaya yang lembut, karpet yang menopang jutaan sujud, dan akustik ruang yang memperindah lantunan ayat menjadi paduan yang membuat siapa pun ingin berlama-lama di dalamnya. Bagi jemaah yang datang untuk salat, inilah rumah ibadah yang terasa seperti tempat pulang. Bagi wisatawan yang datang hanya untuk melihat, mereka sering kali pulang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar foto.
Ruang Terbuka untuk Semua Kalangan
Salah satu hal yang membuat Masjid Raya Sheikh Zayed Solo terasa berbeda adalah keterbukaannya. Masjid ini bisa dikunjungi oleh siapa saja, tidak hanya umat Muslim. Pengunjung nonmuslim pun dipersilakan masuk untuk mengagumi arsitektur dan merasakan suasana, dengan ketentuan berpakaian sopan dan mengenakan penutup kepala bagi perempuan.
Ini menjadikannya destinasi yang cocok untuk berbagai kalangan: keluarga yang ingin mengenalkan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anak, rombongan pelajar yang belajar tentang seni dan sejarah Islam, hingga wisatawan asing yang datang ingin memahami Islam dari sudut yang berbeda. Masuk ke masjid ini pun tidak dipungut biaya, sehingga siapa pun bisa datang tanpa hambatan.
Di bulan Ramadan, masjid ini benar-benar hidup. Ribuan orang berkumpul setiap hari untuk kajian rutin, buka puasa bersama, dan tarawih. Lebih dari tujuh ribu porsi makanan dibagikan setiap harinya, sebuah tradisi berbagi yang membuat bangunan megah ini terasa manusiawi dan hangat.
Ikon Baru yang Mengubah Wajah Solo
Solo selama ini dikenal lewat Keraton Kasunanan, Pasar Klewer, dan Jalan Slamet Riyadi yang selalu ramai. Kini ada satu nama baru yang sering disebut ketika orang merencanakan perjalanan ke kota ini: Masjid Raya Sheikh Zayed.
Kehadirannya melengkapi, bukan menggeser. Solo tetap kota budaya yang berlapis, dan masjid ini menambahkan satu lapisan lagi: dimensi spiritual yang berwajah kosmopolitan. Tidak sedikit wisatawan mancanegara, termasuk dari Jepang dan negara-negara Asia lainnya, yang sengaja menyempatkan diri ke sini. Mereka ingin merasakan sendiri bagaimana dua peradaban bisa berpelukan dalam satu bangunan.
Perjalanan yang Layak Direncanakan dengan Baik
Bagi yang ingin menikmati masjid ini secara utuh, merencanakan kunjungan dengan tenang adalah kunci. Masjid buka dari Subuh hingga Isya, sekitar pukul 5 pagi hingga 9 malam, sehingga ada banyak waktu untuk memilih momen yang paling tepat sesuai suasana hati.
Lokasinya yang berada di Jalan Ahmad Yani, Banjarsari, cukup mudah dijangkau dari berbagai penjuru kota. Bagi wisatawan yang ingin menghemat waktu tempuh dan menjadikan kunjungan ke masjid sebagai bagian dari itinerary utama, memilih akomodasi di sekitar kawasan ini menjadi pilihan praktis. Hotel Asia Solo, yang lokasinya tidak jauh dari masjid, bisa menjadi salah satu pertimbangan untuk menginap dengan akses yang mudah ke berbagai penjuru kota.
Pada akhirnya, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo mengajarkan sesuatu yang sederhana namun dalam: bahwa keindahan dan ketenangan bisa hadir dalam wujud yang tak terduga, bahwa persahabatan antarbangsa bisa berwujud lebih dari sekadar perjanjian di atas kertas, dan bahwa Solo, seperti selalu, tahu cara membuat siapa pun betah tinggal lebih lama.
