Konten dari Pengguna

3 Fakta Agung Aleksander dari Makedonia

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Patung Aleksander Agung | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Patung Aleksander Agung | Wikimedia Commons

Hampir sulit untuk memisahkan fakta dan fiksi dari kisah-kisah yang menceritakan tentang Aleksander Agung. Cara ia menjalani hidup memang fantastis, oleh karenanya ia pun kerap dideskripsikan secara hiperbolis.

Akan tetapi, tentu saja, tidak semua hal hebat yang dituliskan mengenai dirinya adalah fiksi. Bayak pula yang sesuai kenyataan. Sebagaimana tiga fakta berikut ini, yang merupakan poin terpenting dari kehidupan Aleksander, yang membuatnya layak disebut agung/besar.

Tidak pernah kalah perang selama 15 Tahun

Bahkan hingga saat ini, taktik dan strategi militer Aleksander Agung masih dikaji di berbagai akademi militer. Sejak kemenangan pertamanya pada usia 18, Aleksander sudah mendapatkan reputasi sebagai pemimpin pertempuran dengan kecepatan yang mengesankan. Strategi ini memungkinkan pasukan dalam jumlah lebih kecil mampu menghancurkan garis musuh yang belum siap bertahan.

Inti dari kekuatan tempur Aleksander Agung adalah penggunaan formasi phalanx yang berkekuatan 15.000 pasukan. Setiap unit pasukan ini bertugas untuk menahan serangan musuh, dengan tombak sepanjang 6 meter yang disebut sarissa.

Setelah mengamankan kerajaannya di Yunani, pada tahun 334 Sebelum Masehi (SM), Aleksander menyeberang ke dekat Asia (Turki sekarang), di mana ia memenangkan serangkaian pertempuran dengan Persia, yang saat itu di bawah kepemimpinan Darius III.

Namanya diabadikan di 70 kota

Aleksander senantiasa memperingati penaklukannya dengan meresmikan kota yang disebut "Alexandria". Biasanya kota ini berada di sekitar benteng militernya. Kota yang paling terkenal adalah yang didirikan di muara Sungai Nil pada 331 SM dan sekarang menjadi kota terbesar kedua di Mesir, yaitu Alexsandria.

Selain di Mesir, kota lainnya dengan nama Alexandria juga diresmikan di Turki, Iran, Afghanistan, Tajikistan, dan bagian India (Pakistan saat ini). Di dekat lokasi pertempuran, di Sungai Hydaspes (Jhelum), Aleksander bahkan meresmikan Kota Bucephala (Bukefalos), yang diambil dari nama kuda kesayangannya, yang terluka parah dalam pertempuran.

Baunya pun agung

Deskripsi yang satu ini boleh jadi merupakan fakta yang telah dihias kesan hiperbolis. Lusius Mestrius Plutarkhos, juga dikenal sebagai Plutarch, pernah menyebutkan bahwa Aleksander memiliki tubuh dengan: "Bau yang paling menyenangkan". Dalam laporan yang ditulis 400 tahun setelah kematian Alexander, Plutarkhos menulis bahwa bau sedap yang keluar dari kulit Alexander benar-benar menyenangkan banyak orang. Ia pun menuturkan bahwa, "Napas dan bau badan di sekujur tubuhnya begitu harum sehingga dapat mengharumkan pakaian yang dia kenakan."

Deskripsi wewangian memang telah menjadi bagian dari tradisi yang mengaitkan atribut dewa kepada raja yang menguasai banyak wilayah. Tidak seperti manusia biasa, keturunan dewa dianggap memiliki aroma tubuh istimewa. Alexander sendiri secara terbuka menyebut dirinya sebagai Putra Zeus, selama kunjungan ke Siwah pada tahun 331 SM.