Konten dari Pengguna

4 Kisah Kanibalisme Paling Mengenaskan

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kanibalisme dapat muncul karena berbagai dorongan yang sulit diterima oleh akal sehat. Dalam beberapa kasus, motif kanibalisme ialah hasrat, ritual, atau demi menghilangkan barang bukti atas aksi pembunuhan.

Adakalanya, kanibalisme juga terjadi akibat keterdesakan. Demi mengatasi kelaparan dahsyat, atas tujuan menyelamatkan diri, yang membuat seseorang berperilaku kesetanan.

Apa pun alasannya, tak ada yang dapat membenarkan tindakan kanibalisme. Selaiknya tiga kisah di bawah ini pun akan sulit kita terima sebagai pengecualian, meski para pelakunya memiliki alasan yang tidak sejalan dengan pemahaman kita.

Lesotho dan Gua Ha Kome

Gua Ha Kome | Wikimedia Commons

Orang-orang di Lesotho punya sejarah kelam nan bengis saat periode tergelap Difaqane. Masa sulit penuh kekacauan ini timbul karena serangan bertubi-tubi dari orang Zulu. Desa-desa suku di Lesotho diberangus dan tanahnya direbut. Mereka terpaksa bergabung, dan melarikan diri ke daerah pegunungan demi perlindungan.

Alam tidak berpihak untuk orang-orang Lesotho. Setelah harta mereka dijarah, keadaan diperparah oleh kekeringan dan kelaparan di pelarian. Maka dimulailah kebengisan itu, tatkala beberapa kelompok dari mereka mulai memakan kelompok lainnya.

Apa yang mulanya dimulai karena rasa lapar akhirnya menjadi kebiasaan. Para kanibal semakin menyukai daging manusia. Golongan ini menjadi kelompok berburu dan setiap hari mencari mangsa.

Dituturkan DF Ellenberger, seorang misionaris yang tiba di Lesotho pada tahun 1860-an, diperkirakan sekitar 4.000 manusia kanibal aktif antara tahun 1822-1828 di Lesotho. Sementara korbannya berkisar di angka 288.000 jiwa.

Jadi untuk melepaskan diri dari ancaman kanibalisme yang makin mengenaskan itulah rumah-rumah gua Ha Kome dibangun pada awal abad ke-19. Mereka memilih lokasi tersembunyi, medirikannya dari lumpur, dengan dinding batu yang berfungsi sebagai bagian belakang rumah.

Pada akhir 1830-an, kanibalisme di Lesotho mulai hilang. Tetapi kisah-kisah tragisnya bertahan baik dalam tradisi lisan dan lagu daerah mereka. Sedangkan Ha Kome juga tetap terjaga; sebagian penduduk masih betah hidup di sana sampai sekarang.

Perjalanan Christoper Columbus

Christoper Columbus 1492 | Wikimedia Commons

Pada tahun 1492, Christoper Columbus telah mendokumentasikan perjalanannya mengarungi samudra biru, termasuk selama perjalanannya ke Kepulauan Karibia dan bertemu dengan para perompak kanibal yang ada di sana. Bertahun-tahun, para peneliti menganggap itu hanyalah sebuah dokumentasi palsu, akan tetapi sebuah studi terbaru malah mengungkapkan hal sebaliknya.

Kelompok kanibal itu disebut Carib. Menurut studi yang dilakukan, mereka telah menyerbu Jamaika, Hispaniola, dan Bahama sekitar tahun 800 Masehi. Dalam waktu yang tidak lama, mereka sudah berhasil menguasai sebagian besar Kepulauan Karibia.

Columbus datang saat kelompok kanibal sudah memperluas teritorialnya di bagian utara Karibia. Penjelajah dari Italia tersebut mendeskripsikan Carib sebagai caniba atau kanibal, yang pada saat itu Carib sering meneror Arawak, sebuah kelompok yang hidup di Kepulauan Karibia. Kelompok Carib ini juga kerap menculik perempuan dari kelompok Arawak dan memakannya hidup-hidup.

“Saya telah menghabiskan bertahun-tahun mencoba untuk membuktikan bahwa Columbus salah, padahal sebenarnya dia benar. Ada Carib di Karibia Utara ketika dia tiba di sana,” jelas William Kegan, kurator Museum Sejarah Alam Florida di Karibia.

Para ilmuwan pun telah meneliti 100 tengkorak yang ada di Kepulauan Karibia dan menganalisisnya. Tengkorak tersebut sangat mudah diidentifikasikan sebagai tengkorak milik kelompok Carib, karena metode “perataan tengkorak” yang telah mereka lakukan dulu, dimana ada tanda melengkung pada tulang tengkorak mereka. Diyakini bahwa peninggalan tengkorak ini dari tahun 800 Masehi hingga 1542 Masehi.

Meskipun kelompok Carib senang melakukan hal yang buruk kepada kelompok Arawak, namun kelompok Carib juga sering melakukan perkawinan antar kelompok, yang menandakan masih adanya sikap kompromi. “Praktik kanibalisme memang mungkin terlibat. Kami harus menafsirkan kembali semua yang kami tahu,” kata Keegan.

Keluarga Alexander "Sawney" Bean

Alexander "Sawney" Bean | Wikimedia Commons

Alexander "Sawney" Bean tersohor dikenal sebagai salah satu kepala keluarga terburuk. Alexander terlahir sebagai anak seorang penyamak (orang yang pekerjaannya menyamak kulit; tukang memasak kulit) yang hidup di selatan Ayrshire, Skotlandia, pada abad ke-15. Ketika dewasa, ia menikah dengan perempuan bernama Agnes Douglas yang memiliki reputasi buruk dan dianggap penyihir. Lewat pernikahan dengan Agnes, Alexander pun membangun bahtera keluarga kanibal.

Alexander mengawali tanggung jawabnya sebagai suami dengan selalu melakukan pekerjaan kotor, seperti mencuri dan merampok, untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istrinya. Pekerjaan itu juga dibantu oleh istrinya, yang tak jarang disertai dengan pembunuhan untuk menghilangkan bukti.

Kebiadaban mereka tidak berhenti di sana, mayat-mayat hasil perampokan ternyata tidak dikubur atau dibuang, tetapi dimutilasi dan dimakan. Setelah bertahun-tahun senantiasa dilakukan, perilaku kanibalisme suami istri tersebut kemudian turun menjadi kebiasaan yang diwariskan ke anak-cucu mereka.

Demi melindungi keluarganya, Alexander memutuskan membangun rumah tersembunyi di dalam Gua, yang pintu masuknya sering dibanjiri oleh air pantai (terutama ketika laut pasang). Gua dengan panjang lebih dari satu mil itu menjadi tempat persembunyian ideal sehingga tidak ada satu pun orang yang mengetahui keberadaan mereka.

Terisolasi dan menyendiri selama bertahun-tahun, Agnes dan Alexander memiliki 14 anak dengan perilaku yang sangat tertutup dengan dunia luar. Tak ada jalan lain setelah mereka dewasa, 14 anak ini pun diketahui melakukan perkawinan inses. Kemudian jumlah anggota keluarga berkembang menjadi 48 orang, dengan masing-masing dari mereka memiliki nafsu untuk menyantap daging manusia.

Setelah hampir dua dekade aksi kanibalisme dilakukan oleh keluarga Alexander "Sawney" Bean, pada suatu malam yang sial, tindakan bengis mereka ketahuan. Alexander, istrinya (Agnes Douglas), dan anak-cucunya yang inses, pun mesti mempertanggungjawabkan segenap perilaku amoralnya kepada orang-orang Ayrshire, Skotlandia.

Dari penyergapan yang dipimpin langsung oleh Raja James VI , 48 anggota keluarga Bean ditangkap dan dibawa ke Edinburg untuk diadili. Semua bukti yang ditemukan oleh pasukan di dalam gua itu cocok dengan ciri-ciri daftar orang hilang, yang telah dianggap tak akan pernah bisa dia ungkapkan. Sisa-sisa dari aksi kejam Keluarga Beane pun terlihat secara gamblang oleh hakim pengadilan.

Keesokan hari setelah persidangan, 27 pria dari Keluarga Beane menerima hukuman potong kaki dan tangan serta dibiarkan mati kehabisan darah. Sedangkan 21 wanitanya dipaksa untuk melihat kematian saudaranya, lalu kemudian dibakar hidup-hidup dalam api.

Richard Parker yang malang

Mignonette | Wikimedia Commons

Pada tahun 1884, sebuah kapal kecil bernama Mignonette berangkat dalam misi perjalanan dari Inggris ke Australia. Ini menjadi sebuah perjalanan panjang yang tentu sangat melelahkan bahkan untuk kru kapal besar sekalipun. Apalagi kapal kecil tidak akan sanggup menghadapi ganasnya badai lautan.

Alhasil, awak kecil yang beranggotakan empat orang itu terpaut dalam sekoci tanpa persediaan pangan. Nahasnya, salah seorang awak kapal terjatuh dari perahu dan mengakibatkan dirinya terluka. Demi meringankan penderitaan dan memenuhi kelangsungan hidup, ketiga temannya memutuskan membunuhnya, meminum darahnya, dan memakan dagingnya.

Kasus pembunuhan Mignonette menjadi sebuah kebetulan yang menyeramkan, mengingat beberapa kejadiannya mirip seperti kisah dalam novel The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket, karya Edgar Allan Poe terbit pada 1838. Ditambah lagi, nama salah satu nama awak kapal Mignonette ternyata sama persis dengan tokoh dalam novel: Richard Parker. Hanya saja, Parker dalam versi dunia nyata bernasib lebih tragis dan paling menderita, ia adalah satu-satunya yang dibunuh oleh ketiga temannya yang selamat.

Semejak kasus Mignonette kian terkemuka dan membawa pembaharuan dalam dunia hukum (bahwa kebutuhan bukanlah pembelaan terhadap tuduhan pembunuhan), orang-orang pun banyak bertanya tentang kemiripan ceritanya dengan novel The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket. Bagaimana bisa Edgar Allan Poe mampu memprediksi kejadian pembunuhan itu? Sama sekali tidak ada yang tahu. Penulis ini wafat sebelas tahun setelah novel ini diterbitkan.

Nalar dan moral kita bertentangan terhadap kekejian-kekejian seperti dipaparkan di atas. Apa pun alasannya, kendati atas dasar kebudayaan atau keterdesakan sekalipun, hampir mustahil mencari kebenaran di balik tindakan kanibalisme.