Konten dari Pengguna

Agoge, Rahasia Pendidikan Militer Sparta dan Penghasil Pasukan Terbaik

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patung Pasukan Sparta | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Patung Pasukan Sparta | Wikimedia Commons

Berkat perang Thermopylae pada 480 Sebelum Masehi (SM), di mana pasukan kecil tentara Sparta tetap bertahan untuk bertempur sampai mati melawan pasukan Persia yang jauh lebih besar, para pejuang Sparta pun dikenal karena kehebatan dan keuletan militer mereka. Bahkan sampai saat ini, kata Spartan senantiasa menggambarkan tentang seorang pejuang yang sangat bugar, terampil, tidak peduli pada rasa sakit, dan melawan ketakutan.

Jadi, apa sebetulnya yang membuat pasukan Sparta begitu menakjubkan? Salah satu faktornya adalah sistem agoge.

Itu adalah sistem pendidikan dan pelatihan Yunani kuno, yang menggunakan metode kerass, ekstrem, dan terkadang kejam. Segalanya untuk mempersiapkan anak laki-laki menjadi warga negara dan tentara Sparta.

"Agoge bertujuan untuk menanamkan sikap sebagai seorang prajurit sejati: kekuatan, daya tahan, dan solidaritas," ditulis oleh mendiang sejarawan Kanada, Mark Golden.

Tetapi itu semua memerlukan usaha dan pengorbanan besar. Salah satunya dengan mengisi masa kecil anak laki-laki, yang berumur minimum 7 tahun, dengan berbagai pengalaman yang traumatis.

Menurut sejarawan Yunani kuno, Plutarch, menulis beberapa abad setelah kejayaan Sparta:

Orang Sparta mulai menyeleksi anak lelaki tak lama setelah ia lahir. Ketika bayi laki-laki dievaluasi oleh para tetua Sparta, anak-anak yang “tegap dan kokoh” dibiarkan hidup, sedangkan mereka yang dianggap tidak sehat atau cacat dibiarkan mati di kaki gunung.

Pada usia tujuh tahun, anak laki-laki Sparta kemudian diserahkan oleh orang tua mereka kepada para tetua, di mana mereka akan dilatih.

"Anak laki-laki yang unggul dalam penilaian dan paling berani dalam pertempuran diangkat menjadi pemimpin kompi," tulis Plutarch pada tahun 400-an SM.

Formasi Phalanx khas militer Sparta | Wikimedia Commons

Plutarch menggambarkan bahwa anak laki-laki Sparta hanya menerima pendidikan yang minim. Tetapi Stephen Hodkinson, seorang profesor emeritus sejarah kuno di Universitas Nottingham, Inggris, mengatakan hal sebaliknya.

Menurut Hodkinson, ada petunjuk dalam sumber lain yang menjelaskan bahwa anak-anak Sparta menerima strandar pendidikan dasar pada saat itu, seperi membaca, menulis, angka, menyanyi, dan menari."

Sparta mempunyai hukuman keras yang berlaku untuk siapa pun yang melanggar peraturan. Sparta bahkan mengubah satu hukuman menjadi ritual tahunan, dengan anak laki-laki diharuskan mencuri keju dari altar kuil, dan mereka menghindari penjaga bersenjatakan cambuk.

Mencambuk adalah ujian keberanian dan ketabahan," kata Reiter, dilansir History.

Rahasia lainnya dari orang Sparta, bukan sekadar kebugaran fisik atau ketahanan mereka terhadap rasa sakit dan penderitaan, ialah pelatihan organisasi yang unggul sehingga mereka bisa mengeksekusi taktik dengan sempurna.

“Mungkin pelatihan mereka dalam manuver taktis, yang benar-benar memberi tentara Sparta keunggulan di medan perang,” tulis J.F. Lazenby dalam bukunya The Spartan Army.