Konten dari Pengguna

Alasan Ilmiah Mengapa Manusia Butuh Cinta

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi simbol cinta  (Foto: Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi simbol cinta (Foto: Getty Images)

Sesungguhnya tak sopan menulis cinta dari perspektif ilmiah. Meski itu perlu, agar dapat menerimanya secara rasional.

Menurut Kamus Merriam Webster, love diartikan sebagai kasih sayang yang kuat yang bangkit dari hubungan kekerabatan atau ikatan pribadi, ketertarikan yang didasarkan hasrat seksual, dan kasih sayang serta kelembutan yang dirasakan oleh kekasih. Cinta juga diartikan sebagai jaminan kasih sayang.

Alasan Ilmiah Mengapa Manusia Butuh Cinta (1)
zoom-in-whitePerbesar

Definisi tersebut jelas, selain kepada lawan jenis, kasih antara orangtua dan anaknya juga termasuk cinta, bahkan kepada hewan yang kita pelihara pula ikatan cinta.

Di sisi lain, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjabarkan cinta dalam definisi yang tak kalah jujur. Sebagai perasaan sayang, terpikat, berharap, dan risau.

Cinta bukan candu, setidaknya menurut Abraham Maslow itu memang perlu bagi manusia.

Psikolog pelopor aliran humanistik ini membuat piramid untuk hierarki kebutuhan. Dia menempatkan cinta di urutan ketiga teratas, sebagai kebutuhan manusia dalam menjalani hidup.

Begitu kebutuhan fisiologis seperti pernapasan, air, makanan, dan lainnya terpenuhi, seseorang kemudian memenuhi kebutuhan akan rasa aman. Setelah itu, orang tersebut perlu cinta dan perasaan memiliki.

Lalu, ketika cinta terpenuhi, Maslow menilai seseorang akan butuh menghargai dan dihargai. Semua pemenuhan tersebut pada akhirnya dapat membuat seseorang mengaktualisasikan dirinya. Menjadi aktual, yang dalam KBBI berarti menjadi betul-betul ada.

Maka, self-actualization menurut teori Maslow hanya dapat dicapai ketika seseorang tak berlebihan dalam memenuhi suatu kebutuhan. Piramida tersebut harus dibangun seimbang agar kokoh.

Seseorang tak boleh terlalu fokus untuk makan, minum, dan berwisata saja sampai dia lupa butuh punya rumah agar merasa aman saat pulang. Pun seseorang tak mungkin dapat mengaktualisasikan eksistensinya jika melulu mengurusi cinta tapi tak menyentuh fase menghargai dan dihargai.

Itulah cinta, ihwal yang tidak berada di urutan teratas prioritas kebutuhan manusia, juga tidak di paling bawah. Dia ada di tengah-tengah, mengimbangi.