Konten dari Pengguna

Angsa Hitam Pernah Dianggap Takhayul oleh Orang Romawi Kuno

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Angsa Hitam | Wikimedia Commons
zoom-in-whitePerbesar
Angsa Hitam | Wikimedia Commons

Manusia pada masa lalu, kerap keliru dalam mendeskripsikan seekor binatang. Misalnya, bebek mandarin, yang memiliki warna bulu berwarna-warni nan mengagumkan, dianggap sebagai keajaiban alam oleh orang Yunani kuno dan Aristoteles menyebutnya sebagai burung penyelam yang aneh. Hal tersebut wajar, karena spesies binatang belum teridentifikasi secara baik (sebagaimana pada zaman modern). Kekeliruan ini juga terjadi kepada angsa hitam, yang dahulu dianggap sebagai takhayul.

Sebelum orang Eropa menemukan dan menetap di Australia, angsa hitam adalah simbol sastra da artistik. Referensi budaya saat itu menilai motif khas angsa hitam sebagai kontras simbolik. Mereka pun menganggapnya sebagai perumpamaan semata.

Bahkan jika ditarik mundur dalam waktu lebih jauh, anggapan yang keliru terhadap angsa hitam berasal dari paradigma Romawi Kuno. Kala itu, orang-orang tidak percaya bahwa angsa hitam benar-benar ada, sehingga menjadikannya sebagai metafora.

Barulah pada akhir abadi ke-18, masyarakat Eropa mulai sadar bahwa angsa hitam memang mahluk nyata. Digambarkan secara ilmiah oleh naturalis Inggris, John Latham, pada 1790, sebagai bagian dari genus monotypic, dengan nama Latin spesies Chenopis. Angsa hitam pun diperkenalkan ke berbagai negara sebagai burung hias pada tahun 1800-an, tetapi selalu melarikan diri demi membentuk populasi yang stabil dengan kawanannya.

Saat ini, angsa hitam dikenal dengan Latin: Cygnus atratus. Klasifikasi genusnya pun telah ditempatkan sebagai bagian dari Cygnus, dalam famili antidae bersama angsa putih biasa.