Konten dari Pengguna

Bagaimana Wanita Dipandang Amat Rendah dan Cacat di Yunani Kuno

Absal Bachtiar

Absal Bachtiar

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pixabay/Free-Photos
zoom-in-whitePerbesar
Pixabay/Free-Photos

Dari sekitar 60 naskah yang ditulis oleh 20 ahli medis Yunani kuno (Hipokrates dan murid-muridnya), 11 di antaranya mengulas soal ginekologi. Ini adalah ilmu kedokteran yang berkenaan dengan fungsi alat tubuh dan penyakit khusus pada wanita, yang menandakan bahwa orang-orang berilmu pada saat itu sudah peduli terhadap persoalan fisik kaum Hawa. Akan tetapi, kepedulian ini tidak berada dalam ranah pemahaman yang baik.

Terhadap hal tersebut, Hipokrates dan para pengikutnya percaya bahwa tubuh wanita terdiri dari daging yang lembut dan lebih keropos dari pria. Pada dasarnya mereka pun yakin bahwa wanita lemah di segala bagian tubuhnya ketimbang pria.

Pada payudara wanita, sebagai contohnya, ahli medis Yunani kuno menyatakan bahwa makanan telah diubah menjadi susu. Selain itu, penyumbatan darah pada sistem vena di payudara juga menandakan bahwa seorang wanita telah menjadi gila.

Dugaan tersebut sering menjadi dalih fisiologis atas stereotip kuno bahwa wanita secara alami mudah mengalami gangguan saraf (neurotik), suasana hatinya tidak menentu, dan sikapnya tidak dapat diprediksi. Adapun menstruasi dianggap sebagai agen pembersih yang baik untuk kesehatan wanita.

Intinya, baik secara fisik ataupun mental, perbedaan fisiologis antara pria dan wanita telah mendukung kepercayaan Yunani kuno bahwa wanita lebih rendah daripada pria.

kumparan post embed

Bagaimanapun, pada masa filsuf Aristoteles, keyakinan yang keliru terhadap wanita semakin menjadi-jadi. Klaim bahwa pria jauh lebih kuat ketimbang wanita telah menjadi doktrin mutlak yang hampir mustahil bisa disanggah.

Lantaran wanita tidak mampu konsisten menghasilkan panas atau kehangatan tubuh (terutama selama menstruasi), Aristoteles menganggap mereka sebagai "pria yang cacat" atau mahluk yang "tidak lengkap". Selain itu, filsuf tersebut tidak menganggap menstruasi sebagai hal yang baik (pandangan yang amat berbeda dengan zaman Hipokrates).

Aristoteles pun percaya pada mitos lama bahwa rahim terdiri dari dua kompartemen berbeda, yang sering digunakan untuk menjelaskan kelahiran anak kembar di Yunani kuno. Pria dipercaya terlahir dari ruang rahim kanan yang lebih panas dan lebih nyaman. Sedangkan perempuan dari rahim kiri, yang kondisinya kurang menguntungkan bagi perkembangan janin manusia.

Acuan: