Bait Puisi hingga Rumus Fisika di Tembok-tembok Kota Leiden

Pencinta Cerita dan Asal-usul Kata
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Salah satu 'Wall Poems' di Kota Leiden | commons.wikimedia.org
Puisi tersebar hampir di seluruh Kota Leiden, Belanda, terpampang di dinding luar bangunan. Puisi-puisi tersebut adalah karya dari Rimbaud, Shakespeare, WB Yeats, Marina Tsvetaeva, Dylan Thomas, Derek Walcott, serta para penulis lokal.
Proyek dinding puisi dimulai pada tahun 1992, didanai oleh sebuah yayasan swasta Tegen-Beeld. Yayasan tersebut didirikan oleh dua seniman, Ben Walenkamp dan Jan-Willem Bruins, dengan dana tambahan dari beberapa perusahaan di Leiden.
Puisi pertama yang dipajang merupakan karya penyair Rusia, Marina Tsvetaeva. Proyek tersebut berakhir pada 2005, ditutup oleh karya penyair Spanyol, Federico Garcia Lorca. Meski begitu, pada 2010, sejumlah karya baru terus ditambahkan hingga kini.

Secara historis, Leiden punya hubungan 'intim' dengan puisi. Banyak penulis bagus hidup di sana. Nama-nama seperti Piet Paaltjens, JC Bloem, Maarten Biesheuvel, Jan Wolkers, dan Maarten 't Hart, pernah tinggal atau belajar di sini.
Leiden juga bukan cuma soal puisi. Universitasnya pernah disinggahi beberapa ilmuwan hebat. Misalnya, Heike Kamerlingh Onnes, yang berhasil mencairkan helium untuk pertama kalinya. Albert Einstein pun pernah menghabiskan beberapa tahun belajar di Universitas Leiden.
Terinspirasi dari proyek 'Wall Poems', dua fisikawan, Sense Jan van der Molen dan Ivo van Fountain, mulai melukis rumus matematika dan fisika di beberapa dinding rumah. Sejak dimulai pada tahun 2015, didukung oleh pemerintah lokal, sudah terpajang enam rumus di Kota Leiden.
