Biru, Warna Langka yang Dipelopori Bangsa Maya
Tulisan dari Absal Bachtiar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: commons.wikimedia.org
Sebelum abad ke-19, sebelum revolusi industri, biru adalah warna yang fenomenal. Terutama biru ultramarin di kalangan pelukis, cuma mereka yang masyhur saja yang lazim menggunakannya. Para seniman kelas rendah biasanya terpaksa menggunakan warna-warna lebih kusam, lantaran pigmen ultramarin sangatlah mahal.
Biru ultramarin, yang dapat kita lihat dalam karya Merisi da Caravaggio dan Peter Paul Rubens pada abad ke-17, terbuat dari lapis lazuli. Batu tersebut ditambang di Afghanistan dan harganya kala itu lebih mahal ketimbang emas.
Maka tidak mengherankan, lantaran kelangkaannya, ultramarin hanya digunakan pelukis ternama untuk hal-hal yang luar biasa, seperti untuk melukis tokoh kerajaan atau sosok suci dalam agama.
Tetapi, pada abad yang sama ketika warna biru begitu spesial di Eropa, para pelukis di Amerika Selatan justru dapat leluasa bereksplorasi dengan warna biru. Bahkan, para seniman di Spanyol Baru (Meksiko), saat itu menggunakan warna biru untuk lukisan sehari-hari yang tidak terlalu berkesan.
Bahan untuk menciptakan warna biru di Amerika Selatan memang terbukti lebih murah, pun usia penemuannya lebih tua ketimbang di Eropa. Para arkeolog percaya, biru tersebut telah diciptakan oleh Bangsa Maya sejak ratusan tahun sebelum masehi dan diekstraksi dari tumbuhan anil (Indigofera suffruticosa).
Selain itu, biru yang dihasilkan dari tumbuhan nil juga berwarna lebih cerah ketimbang biru ultramarin dari lapis lazuli.
Sumber: BBC International Edition

